Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Austria Tolak Permintaan AS Gunakan Ruang Udaranya untuk Serang Iran

Austria Tolak Permintaan AS Gunakan Ruang Udaranya untuk Serang Iran
potret bendera Austria (unsplash.com/Beatriz Miller)
Intinya Sih
  • Austria menolak permintaan AS menggunakan wilayah udaranya untuk menyerang Iran, menegaskan komitmen pada prinsip netralitas dan mendapat dukungan dari partai oposisi untuk mempertahankan sikap tersebut.
  • Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump soal pengajuan gencatan senjata, menegaskan tetap akan mempertahankan wilayahnya dari serangan gabungan AS dan Israel yang masih berlangsung.
  • Trump menyatakan gencatan senjata baru dipertimbangkan jika Selat Hormuz kembali dibuka, sementara konflik terus memicu lonjakan harga energi global dan tekanan politik di dalam negeri AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Austria menolak memberikan izin kepada Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan wilayah udaranya untuk operasi militer terhadap Iran, dengan alasan hukum netralitas negara tersebut. Juru Bicara Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Austria membenarkan, Washington telah beberapa kali meminta izin terkait hal itu.

Austria belum memberlakukan larangan umum terhadap penerbangan pesawat AS di wilayah udaranya, tetapi sedang meninjau permintaan tersebut berdasarkan kasus per kasus, menurut kementerian.

Di sisi lain, Partai Sosial Demokrat (SPO) yang merupakan partai oposisi juga menyerukan kepada pemerintah untuk mempertahankan pendiriannya saat ini.

“Menteri Pertahanan Klaudia Tanner (OVP) seharusnya tidak menyetujui satu pun penerbangan militer AS ke Teluk. Ia juga seharusnya tidak menyetujui penerbangan transportasi atau dukungan logistik lainnya. Sama seperti yang dilakukan Spanyol, Prancis, Italia, dan Swiss. Perang ini merugikan kepentingan ekonomi Austria, Eropa secara keseluruhan, dan perdamaian dunia,” kata Sven Hergovich, Kepala SPO di Austria Hilir, dilansir Anadolu, Jumat (3/4/2026).

1. Spanyol menutup wilayah udaranya untuk AS

Bendera Spanyol sedang berkibar.
potret bendera Spanyol (pexels.com/Antonio Garcia Prats)

Awal pekan ini, Spanyol dilaporkan menutup wilayah udaranya untuk penerbangan militer yang terkait perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Sementara Italia menolak permintaan dari pesawat AS untuk mendarat di pangkalan di Sisilia.

AS dan Israel telah melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, yang hingga saat ini telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Teheran membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

2. Teheran bantah ajukan gencatan senjata

Masoud Pezeshkian sedang berbicara kepada orang.
potret Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)

Adapun Pemerintah Iran menepis pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut, Teheran telah mengajukan permintaan gencatan senjata. Di sisi lain, operasi militer gabungan AS dan Israel di wilayah Iran masih terus berjalan.

Pada Rabu (1/3/2026), seorang pejabat tinggi Iran secara langsung membantah klaim tersebut setelah sebelumnya Trump menyampaikannya lewat media sosial.

“Presiden Rezim Baru Iran, jauh lebih tidak radikal dan jauh lebih cerdas daripada pendahulunya, baru saja meminta Amerika Serikat untuk GENCATAN SENJATA!” tulisnya, dikutip New York Post.

Juru Bicara Kantor Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Seyyed Mehdi Tabatabaei, juga menyampaikan bantahan melalui unggahan di platform X. Ia menyatakan, posisi Republik Islam Iran dalam membela wilayahnya dari serangan serta syarat untuk mengakhiri perang yang dipaksakan tetap tak berubah. Ia menegaskan, Iran sama sekali tak menggubris “khayalan dan kebohongan para agresor kriminal”.

Selain itu, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menyebut, Selat Hormuz tak akan dibuka bagi musuh Iran melalui apa yang mereka sebut sebagai “tontonan yang menggelikan” oleh Presiden AS.

3. Selat Hormuz dibuka gencatan senjata berlaku

Donald Trump sedang berjoget.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyatakan pemerintahannya hanya akan mempertimbangkan gencatan senjata apabila Selat Hormuz sudah kembali terbuka, aman, dan bebas dilalui.

“Sampai saat itu, kami akan membom Iran hingga hancur lebur atau seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!” tulis Trump.

Pemerintahan Trump kini menghadapi tekanan yang kian besar seiring berlanjutnya konflik Amerika Serikat dan Israel di Iran. Perang melawan Iran ini telah mendorong lonjakan tajam harga energi global serta memicu penolakan luas di dalam negeri AS.

Pada awal pekan, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa harga energi akan turun drastis setelah perang dihentikan. Ia menyebut, penurunan itu bisa terjadi dalam rentang 2-3 minggu.

Ancaman terbaru Trump untuk terus melanjutkan operasi militer hingga Selat Hormuz kembali dibuka memunculkan pertanyaan terkait kepastian berakhirnya konflik tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis di Teluk Persia yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Jalur tersebut saat ini tertutup akibat konflik, sehingga memicu kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global yang lebih luas.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More