Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bertemu Paus Leo XIV di Tengah Risiko Perang, Misi PWKI Dipuji KWI

Bertemu Paus Leo XIV di Tengah Risiko Perang, Misi PWKI Dipuji KWI
Ketua KWI, Antonius Subianto Bunjamin apresiasi misi PWKI temui Paus Leo XIV di Vatikan. (Dok. PKWI)
Intinya Sih
  • Delegasi PWKI sukses bertemu Paus Leo XIV di Vatikan meski situasi perang berisiko, membawa misi penting dan mendapat apresiasi tinggi dari Ketua KWI, Mgr Antonius Subianto Bunjamin.
  • Misi PWKI mencakup penandatanganan MoU penggunaan bahasa Indonesia di Vatikan, audiensi dengan Paus, serta penyerahan buku sejarah diplomatik 75 tahun hubungan Vatikan-Indonesia.
  • Mgr Antonius menegaskan tindak lanjut teknis MoU dan mengingatkan pentingnya etika komunikasi di media sosial agar pesan iman disampaikan dengan santun dan membangun kedamaian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Antonius Subianto Bunjamin, mengapresiasi misi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) yang telah bertemu dengan Paus Leo XIV di Vatikan pada Maret 2026.

Meski dilaksanakan di tengah situasi perang yang berisiko, delegasi berhasil menyelesaikan agenda dan kembali ke Indonesia.

"Ya, saya bangga sekaligus terharu atas perjuangan kawan-kawan PWKI yang akhirnya bisa audiensi dengan Paus Leo, ini berkah yang luar biasa atas penantian panjang," kata Mgr Antonius saat menerima delegasi di Kantor KWI, dikutip dari keterangan pers, Selasa (21/4/2026).

1. Tiga agenda utama PWKI ke Vatikan

Ketua KWI, Antonius Subianto Bunjamin apresiasi misi PWKI temui Paus Leo XIV di Vatikan. (Dok. PKWI)
Ketua KWI, Antonius Subianto Bunjamin apresiasi misi PWKI temui Paus Leo XIV di Vatikan. (Dok. PKWI)

Misi PWKI ke Vatikan yang diawali pada 25 Maret 2026 ini membawa tiga agenda utama.

Agenda pertama adalah penandatanganan MoU penggunaan bahasa Indonesia yang dilakukan oleh Komisi Komsos KWI dan Dikasteri Komunikasi Vatikan.

Kemudian beraudiensi dengan Paus Leo XIV dan terakhir adalah penyerahan buku sejarah hubungan diplomatik 75 tahun Vatikan-Indonesia kepada Dubes RI untuk Takhta Suci Trias Kuncahyono. Buku ini disusun Tim KBRI yang diterbitkan PWKI dan Palmerah Syndicate.

Founder PWKI, AM Putut Prabantoro, mengatakan, perjalanan ini memiliki risiko tinggi tetapi tetap memberikan kebahagiaan selama pelaksanaan tugas.

“Tugas tetap dilaksanakan meski perang masih terjadi. Perjalanan ini berisiko dengan kemungkinan sulit untuk kembali ke Tanah Air. Ada risiko tetapi juga ada kebahagiaan selama kami melaksanakan tugas tersebut. Lebih bersyukur rombongan mendarat kembali di Indonesia dengan selamat,” ujar Putut.

2. MoU penggunaan resmi bahasa Indonesia di Vatikan akan dibahas secara teknis

ilustrasi bahasa Indonesia (pixabay.com/ramdlon)
ilustrasi bahasa Indonesia (pixabay.com/ramdlon)

Tak hanya itu, Mgr Antonius mengatakan, KWI akan membahas secara teknis tindak lanjut dari nota kesepahaman tersebut, terutama tentang penyediaan penerjemah.

Dia menegaskan upaya yang membuahkan hasil nyata ini tidak boleh berhenti pada seremoni semata, tetapi juga harus terus dikawal agar memberikan manfaat bagi umat secara luas.

“Upaya-upaya baik yang dimulai sejak Juni 2022 akhirnya membuahkan hasil. Namun, ini tidak boleh berhenti pada seremonial. Perlu terus dikawal agar memberi manfaat luas bagi umat. Ya, saya bangga sekaligus terharu atas perjuangan kawan-kawan PWKI yang akhirnya bisa audiensi dengan Paus Leo, ini berkah yang luar biasa atas penantian panjang," kata dia.

3. Mgr Antonius ingatkan etika berkomunikasi di media sosial

Bertemu Paus Leo XIV di Tengah Risiko Perang, Misi PWKI Dipuji KWI
ilustrasi media sosial (Unsplash/dole777)

Berkenaan dengan narasi negatif di media sosial tentang kehidupan menggereja, Mgr Antonius menyebut perlu disikapi dengan komunikasi yang bijaksana agar tidak menyudutkan salah satu pihak dalam dinamika digital yang cepat.

Mgr Antonius menyampaikan pesan penyampaian kebenaran harus dilakukan dengan cara yang benar, santun, dan etis, karena cara berkomunikasi memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.

Komunikasi yang baik, kata dia, diharapkan dapat berakar pada nilai kejujuran untuk membangun kehidupan bersama serta menghadirkan kedamaian bagi seluruh pihak yang menyimak.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in News

See More