Kuba Bebaskan 51 Tahanan Politik usai Sepakat dengan Vatikan

- Pemerintah Kuba akan membebaskan 51 tahanan politik setelah mencapai kesepakatan dengan Vatikan, melanjutkan langkah pembebasan besar yang dimulai sejak awal 2025.
- Menlu Kuba telah bertemu Paus Leo XIV di Vatikan untuk mendorong dialog antara Kuba dan Amerika Serikat guna meredakan ketegangan diplomatik.
- Presiden Miguel Diaz-Canel mengonfirmasi negosiasi dengan AS sebagai upaya mengatasi krisis energi parah akibat blokade minyak yang memperburuk kondisi ekonomi dan sosial Kuba.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri Kuba mengumumkan pembebasan 51 tahanan politik di negaranya dalam beberapa hari ke depan. Pembebasan ini setelah adanya persetujuan antara pemerintah Kuba dengan Vatikan.
“Pemerintah Kuba akan membebaskan 51 tahanan politik. Semua dilakukan sebagai bagian dari hukuman dan mereka mampu menjaga perilaku baik selama berada di penjara,” tuturnya, dikutip dari EFE, Jumat (13/3/2026).
Pembebasan ini menjadi lanjutan dari negosiasi antara Kuba dan Vatikan. Pada Januari 2025, Kuba sudah membebaskan tokoh oposisi, Jose Daniel Ferrer sebagai bagian pembebasan lebih dari 500 tahanan politik.
1. Menlu Kuba sudah berkunjung ke Vatikan
Pada Februari, Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Fernandez sudah mengadakan kunjungan ke Vatikan. Paus Leo XIV juga meminta agar adanya dialog antara Kuba dan Amerika Serikat (AS) untuk menyelesaikan ketegangan.
Meskipun demikian, organisasi non-profit (NGO), Prisoners Defenders mengatakan pada akhir Februari masih ada 1.214 orang, Padahal jumlah itu sudah melabihi daya tampung penjara di Eropa
2. Kuba akui mengadakan negosiasi dengan AS
Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel mengonfirmasi bahwa pemerintahannya sedang berdiskusi dengan AS. Menurutnya, langkah ini penting untuk mengatasi krisis energi imbas blokade pasokan minyak ke Kuba.
“Negosiasi ini bertujuan untuk mencari solusi lewat dialog soal perbedaan pemerintahan yang mempengaruhi hubungan bilateral dan multilateral dari negara yang hadir,,” ungkapnya, dilansir dari USA Today.
3. Krisis energi di Kuba semakin parah
Pembebasan tahanan politik dan upaya negosiasi dari pemerintah Kuba ke AS menunjukkan keinginan untuk mencari jalan keluar dari berbagai masalah di negara Karibia tersebut. Sebab, krisis energi di Kuba semakin parah imbas blokade dari AS.
PBB menyebut bahwa kondisi di Kuba sangatlah buruk karena adanya pemadaman beberapa jam. Kelangkaan bahan bakar minyak di Kuba ini berdampak luas ke sektor pariwisata dan memperparah krisis ekonomi sejak pandemik COVID-19.
















