Ahli: Konspirasi Erupsi Gunung Hasil Rekayasa Teknologi Tak Masuk Akal

- Pernyataan Ulta Levenia Nababan tentang kemungkinan faktor lain di balik erupsi sejumlah gunung menjadi viral di media sosial.
- Daryono menilai tudingan rekayasa teknologi sebagai penyebab erupsi gunung api tidak masuk akal secara ilmu kebumian.
- Menurut Daryono, aktivitas vulkanik dipicu dinamika tektonik, pergerakan magma, tekanan gas, dan dapat dipantau dengan instrumen geofisika.
Jakarta, IDN Times - Pernyataan Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, soal adanya konspirasi teknologi yang diduga menjadi penyebab erupsi gunung api viral di jejaring media sosial.
Dalam sebuah tayangan video yang beredar, Ulta menyinggung kemungkinan adanya faktor lain di balik erupsi sejumlah gunung yang terjadi hampir bersamaan. Dia pun tak memungkiri, pandangannya berpotensi dikategorikan sebagai teori konspirasi.
Edukator Mitigasi Bencana sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menilai, narasi yang mengaitkan fenomena erupsi gunung api di Indonesia dengan rekayasa teknologi hingga senjata buatan manusia tidak masuk akal secara ilmu kebumian.
Dia mengatakan, erupsi gunung api merupakan bagian dari dinamika alami bumi. Fenomena tersebut dipicu oleh aktivitas tektonik dan pergerakan magma yang berlangsung jauh di dalam perut bumi.
"Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian," ujar Daryono, dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
1. Erupsi dipicu energi besar dari dalam perut bumi

Erupsi Gunung Sinabung terpantau dari Desa Kutarayat, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, sekitar pukul 00.43 WIB, Kamis (3/9/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo) Daryono menjelaskan, erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi dalam skala sangat besar yang mustahil disimulasi, dibangkitkan, maupun dikendalikan oleh teknologi buatan manusia.
Energi yang memicu erupsi berasal dari dinamika mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan.
Erupsi terjadi ketika magma bergerak naik akibat gaya apung karena densitasnya lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya. Proses tersebut juga disertai penumpukan tekanan gas, seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.
Menurut Daryono, tekanan di dalam kantong magma dapat mencapai ratusan MegaPascal. Oleh karena itu, teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia tidak memiliki kemampuan untuk menembus kerak bumi dan mengubah tekanan magma secara sengaja.
2. Aktivitas vulkanik Indonesia berkaitan dengan dinamika cincin api

Petani tetap beraktivitas di tengah intensitas erupsi Gunung Api Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Kamis (3/9/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo) Daryono mengatakan, kondisi geografis Indonesia yang berada di jalur cincin api atau ring of fire menjadi alasan aktivitas vulkanik di Tanah Air berlangsung intensif dan terkadang terjadi dalam waktu berdekatan.
Indonesia berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik utama dunia, seperti Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.
Penunjaman lempeng samudra membawa air dan sedimen ke kedalaman mantel. Proses tersebut memicu pelelehan batuan dan menghasilkan suplai magma secara terus-menerus dalam rentang waktu jutaan tahun.
Ketika terjadi peningkatan aktivitas tektonik regional atau penyesuaian tegangan di kerak bumi, beberapa gunung api yang sistem magmanya telah berada dalam kondisi kritis dapat mengalami peningkatan aktivitas secara hampir bersamaan.
"Fenomena ini merupakan rekayasa alamiah berupa respons berantai tektonik, bukan akibat intervensi lokal oleh pihak tertentu," kata dia.
3. Erupsi memiliki tanda-tanda yang terekam instrumen ilmiah

Erupsi Gunung Sinabung diabadikan dari Desa Sigarang-garang, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Senin (31/8/2026). (Dok: Eny Febri Yanti Ginting ) Daryono mengatakan, setiap erupsi gunung api umumnya didahului berbagai sinyal prekursor geofisika. Aktivitas tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba seperti dikendalikan melalui teknologi tertentu.
Sebelum erupsi, instrumen dapat merekam peningkatan seismisitas berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal, serta tremor akibat rekahan batuan ketika magma bergerak menuju permukaan.
Selain itu, instrumen geodesi presisi seperti GPS dan sensor tiltmeter juga dapat mencatat deformasi atau pembengkakan tubuh gunung api sebelum letusan terjadi. Proses tersebut dapat disertai perubahan konsentrasi gas dan peningkatan suhu.
Menurut Daryono, seluruh proses akumulasi massa dan energi tersebut membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dan dapat dipantau melalui instrumen geofisika.
Dia mengatakan, manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma dengan suhu yang dapat mencapai sekitar 1.200 derajat Celsius.
"Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak," ujar Daryono.


















