Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BMKG Punya 20 Sensor Tsunami di Selat Sunda Pantau Erupsi Anak Krakatau

BMKG Punya 20 Sensor Tsunami di Selat Sunda Pantau Erupsi Anak Krakatau
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani (tengah). (Foto/BMKG)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda. Lebih dari 20 sensor seismograf dipasang di sekitar wilayah tersebut untuk mengawasi aktivitas erupsi sekaligus mengantisipasi potensi tsunami.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan sistem pemantauan tersebut juga berfungsi mendeteksi kemungkinan terjadinya flank collapse atau longsoran pada sisi tubuh gunung. Peristiwa semacam ini menjadi perhatian setelah longsoran Gunung Anak Krakatau pada 2018 memicu tsunami di pesisir Selat Sunda.

“Kemudian juga ada 20 lebih sensor seismograf yang berada di sekitar Selat Sunda ini terus memantau terkait dengan erupsi Gunung Anak Krakatau dan juga potensi terjadinya flank collapse juga seperti tahun 2018 agar kita terus bersiap untuk kedatangan tsunami apabila memang akan terjadi," ujar Faisal dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto, Senin (7/9/2026).

Selain seismograf, BMKG mengoperasikan High Frequency Radar Array untuk memantau kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Sistem tersebut sebelumnya digunakan untuk mengamati gelombang, arus, dan angin, kemudian disiapkan dalam mode pemantauan tsunami.

“Kemudian juga kami kebetulan juga telah memasang high frequency radar yang dapat memantau kondisi gelombang arus angin dan juga sekarang kita setting menjadi tsunami mode sehingga ketika tsunami datang pada jarak sekitar 150 km ini dapat dideteksi dengan adanya High Frequency Radar Array ini yang telah kita pasang di Pantai Carita hingga memanjang hingga ke Tanjung Lesung," kata dia.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk mempercepat deteksi apabila terjadi perubahan kondisi laut yang berpotensi berkaitan dengan tsunami. Dengan sistem yang terpasang di kawasan pesisir, BMKG dapat memperoleh informasi tambahan untuk mendukung peringatan dini.

Di sektor pelayaran, BMKG juga berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan terkait kondisi perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau. Langkah pengamanan turut diberlakukan selama gunung masih berada pada status Level III atau Siaga.

“Kemudian juga untuk selain penerbangan juga BMKG terus memonitor koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan untuk kondisi perairan telah diterbitkan juga Notice to Mariners intinya bahwa ada pelarangan pergerakan atau aktivitas kapal dalam radius 3 km dari kawah Gunung Anak Krakatau selama Badan Geologi menetapkan status level 3 atau Siaga," imbuhnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More