AS Evaluasi Status Perlindungan Serigala di Alam Liar

- Pemerintahan Trump memberi Menteri Dalam Negeri Doug Burgum waktu 90 hari untuk menilai apakah perlindungan federal serigala abu-abu dan serigala Meksiko perlu dicabut atau diturunkan.
- Peternak mendukung evaluasi karena kerugian akibat serangan predator, sementara asosiasi pemburu ingin pengelolaan satwa liar dikembalikan ke tingkat lokal.
- Aktivis konservasi menolak rencana tersebut karena serigala Meksiko diperkirakan hanya berjumlah 317 ekor pada akhir 2025 dan koalisi siap menggugat di pengadilan federal.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump resmi mengevaluasi status perlindungan satwa liar pada Jumat (4/9/2026). Kebijakan ini berfokus pada pengkajian ulang status konservasi serigala abu-abu dan serigala Meksiko yang selama ini dilindungi oleh hukum federal.
Langkah peninjauan regulasi tersebut sontak memicu sorotan publik di tingkat nasional. Kalangan pemerhati lingkungan menilai potensi pemangkasan proteksi ini dapat mengancam keseimbangan ekosistem dan populasi satwa di alam liar.
1. Pemerintah beri tenggat 90 hari untuk kaji status konservasi
Melalui perintah eksekutif terbarunya, pemerintah federal memberikan tenggat waktu 90 hari kepada Menteri Dalam Negeri, Doug Burgum, untuk mengkaji ulang populasi serigala. Kajian ini bertujuan menilai apakah tingkat pemulihan populasi sudah memenuhi syarat untuk pencabutan atau penurunan status perlindungan.
“Menteri Dalam Negeri harus menentukan apakah serigala abu-abu dan serigala Meksiko telah memenuhi kriteria pemulihan untuk pencabutan atau penurunan status perlindungan berdasarkan Undang-Undang Spesies Terancam Punah,” kata Presiden Trump, dilansir BBC.
Jika kriteria pemulihan tersebut terpenuhi, Kementerian Dalam Negeri akan segera memulai proses deregulasi. Langkah ini berpotensi mendorong pemerintah negara bagian untuk melonggarkan aturan perburuan di wilayahnya masing-masing.
2. Kelompok peternak dan pemburu dukung kebijakan baru
Komunitas peternak menyambut positif evaluasi tersebut karena mereka kerap merugi akibat serangan predator terhadap hewan ternak. Kebijakan ini dinilai mampu memberikan kepastian perlindungan bagi jalannya usaha masyarakat di kawasan perdesaan.
Di sisi lain, asosiasi pemburu memandang langkah ini rasional guna mengembalikan kewenangan pengelolaan satwa liar ke tingkat lokal, seiring melonjaknya populasi serigala di kawasan utara dan barat AS.
“Perintah eksekutif ini merupakan langkah nyata untuk mengembalikan akal sehat dalam pengelolaan satwa liar,” ujar Pendiri Hunter Nation, Keith Mark.
3. Aktivis lingkungan bersiap ajukan gugatan hukum
Sebaliknya, pegiat konservasi menolak keras rencana penurunan status tersebut dan menuding kebijakan ini sarat akan kepentingan politik. Para peneliti menggarisbawahi bahwa populasi serigala Meksiko masih sangat rentan, dengan perkiraan jumlah hanya sekitar 317 ekor di alam liar pada akhir 2025 lalu.
“Serigala abu-abu Meksiko belum pulih hanya karena jumlahnya bertambah, mengingat populasinya di alam liar hanya 317 ekor dan masih menghadapi masalah genetik yang berat,” tegas Direktur Eksekutif Grand Canyon Wolf Recovery Project, Claire Musser.
Merespons hal ini, koalisi advokasi satwa liar menyatakan kesiapan mereka untuk menempuh jalur hukum di pengadilan federal. Upaya ini dilakukan demi mempertahankan status perlindungan spesies terancam punah dari ancaman perburuan liar yang masif.




















