Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Boeing Nyatakan Kesepakatan Pembelian Jet F-15EX dengan RI Berakhir

Adies Kadir Dilaporkan ke MKMK Sehari Usai Dilantik, Kenapa?
Prabowo Subianto saat masih menjabat Menteri Pertahanan menanda tangani MoU pembelian 24 unit jet tempur F15EX di kantor pusat Boeing. (Dokumentasi Media Prabowo)
Intinya sih...
  • Kemhan tidak tindak lanjuti penjualan jet tempur F-15EX karena harganya terlalu mahal
  • MoU pembelian 24 jet tempur F-15EX disaksikan saat Prabowo jadi Menhan
  • Pembelian jet tempur F-15EX rencananya untuk gantikan F-5 yang sudah tua
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kesepakatan pembelian 24 jet tempur F-15EX buatan Boeing tidak berakhir manis. Sebab, meski nota kesepahaman (MoU) telah diteken antara Boeing dan Kementerian Pertahanan pada 2023 lalu belum ada kepastian atas kelanjutan pengadaan tersebut. Boeing pun terus menantikan adanya kontrak aktif.

Alhasil, di hari pertama perhelatan Singapore Airshow 2026 pada Selasa (3/2/2026), Boeing memutuskan tidak lagi melanjutkan kampanye penjualan jet tempur F-15EX kepada Indonesia. Kabar tersebut mengejutkan sejumlah pihak.

Kabar penghentian kampanye penjualan jet tempur F-15EX disampaikan secara langsung oleh Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Strategi Boeing untuk Pertahanan, Keamanan dan Antariksa, Bernd Peters. Dikutip dari laman TWZ, Jumat (6/2/2026), status pesanan F-15EX untuk Indonesia disebut bukan lagi kampanye aktif yang ditindak lanjuti.

Meski begitu, Peters tidak menjelaskan alasan di balik perubahan sikap Boeing tersebut. Ia menyarankan media untuk menyampaikan pertanyaan itu kepada Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang mengoordinasikan program penjualan jet tempur itu.

Apa komentar Kementerian Pertahanan soal sikap Boeing yang memilih mundur?

1. Kemhan tidak tindak lanjuti penjualan jet tempur F-15EX karena harganya terlalu mahal

Rico Sirait, Kementerian Pertahanan
Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait di Jakarta Pusat. (IDN Times/Santi Dewi)

Sementara, Kementerian Pertahanan mengatakan rencana pengadaan pesawat tempur F-15EX belum dapat ditindaklanjuti karena harga yang diajukan masih dinilai terlalu tinggi atau mahal. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan, Brigadir Jenderal TNI Rico Sirait menjelaskan rencana pengadaan F-15EX belum masuk tahap penganggaran. 

"Harga yang diajukan dinilai masih terlalu tinggi sehingga belum dapat ditindaklanjuti," ujar Rico ketika dikonfirmasi hari ini.

Sebelumnya, dikutip dari situs resmi Defense Security Cooperation Agency (DSCA), pada 2022 lalu nilai kontrak pembelian 36 jet tempur dan peralatannya diperkirakan mencapai US$13,9 miliar atau setara Rp199,1 triliun. Tetapi, Kemenhan tak pernah menyampaikan secara resmi angka penawaran dari pihak Boeing.

2. MoU pembelian 24 jet tempur F-15EX disaksikan saat Prabowo jadi Menhan

Boeing Nyatakan Kesepakatan Pembelian Jet F-15EX dengan RI Berakhirn
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ketika tanda tangan MoU pembelian 24 unit jet tempur F15EX di kantor pusat Boeing. (Dokumentasi Media Prabowo)

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengadaan 24 jet tempur F-15EX buatan Boeing itu disaksikan ketika Prabowo Subianto masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Penandatanganan MoU dilakukan di markas Boeing, St. Louis, Missouri. 

"Penandantanganan MoU komitmen pembelian 24 unit pesawat tempur F-15EX," ungkap Prabowo yang diunggah di akun media sosialnya dan dikutip pada Selasa (22/8/2023).

Mantan jenderal di Kopassus TNI Angkatan Darat (AD) itu juga sempat menengok unit pesawat tempur di kantor Boeing. Pembelian 24 unit jet tempur ini berbeda dari informasi yang pernah disampaikan situs resmi Defense Security Cooperation Agency (DSCA). Di sana, tertulis jumlah unit pesawat yang dibeli mencapai 36 jet tempur dan peralatannya. 

Nilai kontrak dari pembelian 36 unit jet tempur mencapai 13,9 miliar Dollar Amerika Serikat (AS). Namun, nilai kontrak MoU yang diteken untuk rencana pembelian 24 unit jet tempur tidak diungkap oleh pihak Kemhan. 

3. Pembelian jet tempur F-15EX rencananya untuk gantikan F-5 yang sudah tua

Boeing Nyatakan Kesepakatan Pembelian Jet F-15EX dengan RI Berakhir
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ketika tanda tangan MoU pembelian 24 unit jet tempur F15EX di kantor pusat Boeing. (Dokumentasi Media Prabowo)

Sementara, dalam pandangan analis militer dari Lab 45, Andi Widjajanto, pembelian F-15EX direncanakan untuk menggantikan F-5 yang juga buatan Negeri Paman Sam. Sedangkan, fungsi dari pembelian Rafale untuk penambahan skadron tempur baru. 

"Semula, yang difungsikan untuk menggantikan F-5 di era Ryamizard Ryacuddu adalah Sukhoi. Tetapi, tidak berlanjut lantaran ketidaksepakatan soal imbal dagang," ungkap Andi ketika dihubungi oleh IDN Times melalui telepon pada 2022 lalu. 

Ia menjelaskan pendekatan yang dibangun untuk menyusun Renstra 2024 bukan berbasiskan ancaman, tetapi kapabilitas menutup ruang udara yang terdapat empat titik panas. Bila celah itu tidak segera ditutup, seandainya ada pihak asing yang menerabas wilayah udara Indonesia, TNI AU tidak akan mampu berbuat banyak. 

"Saat ini kan posisi terdekat misalnya untuk menjaga Natuna harus ditarik dari (Lanud) Hasanuddin. Itu jaraknya jauh sekali bila terjadi sesuatu di Natuna," katanya. 

Andi mengatakan berdasarkan pengamatannya, Menhan Prabowo sejak awal sudah fokus kepada empat jenis jet tempur termasuk KFX yang diproduksi bersama Korea Selatan dan Rafale. Semula, Indonesia menginginkan untuk membeli jet tempur terbaru yakni F-35. 

Namun, menurut Pemerintah AS, Indonesia belum bisa membeli jet tempur generasi 5 itu. Mereka harus membeli lebih dulu pesawat generasi 4,5. F-15EX ini dianggap kandidat ideal. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More

Hamdan Zoelva: Perlakuan Eksekusi Hotel Sultan Tak Adil

07 Feb 2026, 00:48 WIBNews