Presiden Zimbabwe Dukung Penyitaan Paksa Lahan Petani Kulit Putih

- Mnangagwa sebut tanah milik seluruh rakyat Zimbabwe.
- Warga mengambil kembali tanah yang sudah direbut oleh kolonialis.
- AS berencana bantu petani kulit Zimbabwe
Jakarta, IDN Times - Presiden Zimbabwe, Emmerson Mnangagwa mengungkapkan dukungan atas kebijakan penyitaan paksa lahan dari petani kulit putih. Kebijakan itu membuat Zimbabwe mengalami masalah ekonomi selama bertahun-tahun.
“Saya tidak yakin apa yang ada di pikiran Anda, tapi biar saya jelaskan, ekonomi kami mendapatkan tantangan hebat. Zimbabwe sudah berada di bawah sanksi bertahun-tahun imbas mengambil kembali tanah kami dari Inggris dan untuk merdeka,” terangnya, dikutip dari New Zimbabwe, Jumat (6/2/2026).
Pernyataan itu disampaikan Mnangagwa saat mengahidiri World Government Summit di Dubai. Menurutnya, rakyat Zimbabwe senang dapat mengambil lahan dari kolonialis.
1. Mnangagwa sebut tanah milik seluruh rakyat Zimbabwe
Mnangagwa mengungkapkan bahwa tanah di Zimbabwe dimiliki oleh seluruh rakyat Zimbabwe. Maka dari itu, warga mengambil kembali tanah yang sudah direbut oleh kolonialis.
“Siapapun yang ingin memiliki lahan yang setara dengan rakyat kulit hitam di Zimbabwe akan tetap tinggal. Sementara mereka yang merasa superior dibandingkan warga kulit hitam akan meninggalkan Zimbabwe,” tuturnya.
2. AS berencana bantu petani kulit Zimbabwe
Pada akhir Januari, Mercury Public Affairs LLC berjanji untuk membantu petani kulit putih di Zimbabwe agar menerima ganti rugi dari pemerintah. Perusahaan itu akan meyakinkan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump tanpa meminta imbalan.
Dilansir Business Insider Africa, Zimbabwe diketahui memiliki utang kompensasi kepada petani kulit putih sebesar 3,5 miliar dolar AS (Rp59 triliun) selama 10 tahun. Namun, tekanan ekonomi Zimbabwe membuat pembayaran ganti rugi terlambat.
Bantuan AS ini diharapkan menyusul kebijakan Trump kepada warga kulit putih di Afrika Selatan. Sebelumnya, Washington sudah memprioritaskan warga kulit putih Afrika Selatan untuk menjadi pengungsi di AS.
3. Program Reformasi Lahan menyasar pemilih pertanian komersial di Zimbabwe
Program Percepatan Reformasi Lahan Zimbabwe diberlakukan pada masa kepemimpinan mantan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe pada 2000. Pengambilalihan lahan ini menyasar lahan pertanian komersial yang dimiliki oleh petani kulit putih.
Program ini sudah menargetkan lebih dari 4 ribu petani kulit putih komersial di Zimbabwe. Sementara, aksi ini dilakukan oleh kelompok militan dukungan pemerintah untuk mengambil secara paksa atau dengan sejumlah intimidasi.
Setelah direbut, tanah itu dibagikan kepada 150 ribu warga kulit hitam di Zimbabwe. Usai insiden ini, sejumlah warga kulit putih Zimbabwe, memilih pergi ke Afrika Selatan, Zambia, Namibia, dan Australia.
















