Meksiko Selidiki Pelanggaran Kedaulatan AS soal Penangkapan El Mayo

- Pemerintah Meksiko menyelidiki dugaan pelanggaran kedaulatan oleh agen FBI AS yang diduga masuk ke wilayahnya untuk menangkap pemimpin Kartel Sinaloa, Ismael Zambada alias El Mayo.
- Presiden Claudia Sheinbaum menuduh Kedutaan AS berbohong soal keterlibatan agennya dalam operasi penangkapan El Mayo, memicu ketegangan diplomatik antara kedua negara.
- Meksiko juga berencana menuntut AS atas kematian 17 warganya akibat operasi dan fasilitas ICE, menilai insiden tersebut sebagai tragedi yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum.
Jakarta, IDN Times - Meksiko membuka investigasi soal pelanggaran kedaulatan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) pada 2024. Saat itu, agen FBI diduga sudah masuk ke teritori Meksiko untuk menangkap pemimpin Kartel Sinaloa, Ismael Zambada alias El Mayo.
“Jika salah satu agen AS berpartisipasi dalam operasi penangkapan ini, mereka jelas melanggar perjanjian internasional dan konstitusi di Meksiko,” terang Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, dikutip dari CBS News, Jumat (10/7/2026).
Pada 2024, El Mayo sudah ditangkap bersama dengan anak El Chapo, Joaquin Guzman Lopez saat dialihkan ke AS menggunakan pesawat jet pribadi. Hingga kini, keduanya masih mendekap di penjara AS.
1. Sheinbaum sebut Dubes AS telah berbohong

Sheinbaum mengatakan bahwa Kedutaan AS di Meksiko telah berbohong. Saat itu, Washington menyebut bahwa tidak ada satu pun agennya yang berpartisipasi dalam operasi penangkapan El Mayo.
“Pernyataan itu kontradiktif dan terdapat kebohongan di balik itu. Lantas, apa persetujuan yang dimiliki agen AS tersebut atau siapapun yang berpartisipasi dengan kelompok kriminal tersebut? Saat ini, semua mengindikasikan eks Duta Besar AS di Meksiko, Ken Salazar berbohong,” ujarnya.
Insiden ini membuat hubungan AS dan Meksiko memanas. Terlebih setelah Presiden AS, Donald Trump terus mengancam akan mengirimkan pasukan ke Meksiko untuk melawan kartel narkoba.
2. El Mayo setujui hukuman seumur hidup di AS

Pada saat yang sama, El Mayo Zambada yang sudah ditetapkan bersalah atas penyelundupan narkoba ke AS setuju menerima hukuman seumur hidup. Namun, dengan syarat mendapatkan layanan medis yang memadai untuk kesehatannya.
Dilansir Mexico News Daily, Kuasa Hukum El Mayo, Frank A. Perez mengatakan bahwa kliennya memang sudah ditetapkan bersalah di Pengadilan Dallas dan akan diputuskan pada 20 Juli nanti. Ia mengatakan bahwa kliennya akan menerima apapun hasilnya.
Perez menambahkan, El Mayo lebih memilih untuk mengaku bersalah dan dikurung dalam penjara di AS selama perawatan kesehatannya terjamin. Ia menolak untuk menjalani persidangan berulang kali.
3. Meksiko akan tuntut soal kematian warganya di AS

Tak hanya mengenai dugaan pelanggaran kedaulatan, Meksiko juga berencana menuntut AS atas kematian warganya imbas operasi ICE. Menteri Luar Negeri Meksiko, Roberto Velasco mengatakan, 3 warga Meksiko tewas dalam operasi ICE dan 14 lainnya tewas di dalam fasilitas ICE.
Dilansir DPA International, Velasco menyebut insiden tewasnya belasan warganya sebagai tragedi. Dengan ini, Meksiko akan melayangkan tuntutan ke Departemen Hukum AS dan akan menuntut perusahaan swasta yang ikut terlibat di dalam fasilitas ICE.
















