Dinkes DKI Temukan 9 Kasus Hantavirus di Jakarta, 3 Positif

- Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 9 kasus dugaan hantavirus, dengan 3 orang positif dan 6 lainnya masih berstatus suspek yang terus dipantau.
- Pemerintah daerah telah menerapkan Surat Edaran kewaspadaan dari Kemenkes dan menyiapkan beberapa RSUD sebagai rumah sakit sentinel untuk pemantauan ketat.
- Masyarakat diimbau menjaga kebersihan, mencuci tangan, serta membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus guna mencegah penularan hantavirus.
Jakarta, IDN Times - Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 9 kasus terkait dugaan hantavirus, dengan 3 orang telah terkonfirmasi positif dan 6 lainnya berstatus suspek yang masih dipantau intensif.
"Kasus santavirus yang ada di Jakarta, sampai dengan saat ini, kita masih menemukan ada 3 kasus positif. Tapi ada 6 suspek yang masih terus kami monitor sampai dengan hari ini," ucap Ani di Jakarta Barat, Senin (18/5/2026).
1. Terapkan SE kewaspadaan Kemenkes

Ani mengatakan pihaknya juga sudah menindaklanjuti Surat Edaran kewaspadaan dari Kementerian Kesehatan terkait hantavirus yang sudah diterapkan ke seluruh fasilitas kesehatan yang ada di Jakarta.
"Kami sudah menempatkan beberapa RSUD sebagai rumah sakit sentinel untuk memberikan monitoring yang lebih ketat untuk menangkap adanya suspek kasus hanta virus yang ada di masyarakat," katanya.
2. Masyarakat diimbau terapkan protokol hidup bersih

Selain itu, Dinkes DKI juga mengoptimalkan tim Gerak Cepat yang terus melakukan sistem kewaspadaan dini apabila ada peningkatan kasus yang cukup signifikan.
"Untuk imbauan kepada masyarakat pada dasarnya yang pertama adalah tetap melakukan protokol pola hidup bersih, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir karena itu adalah kunci untuk mencegah masuknya virus ke tubuh kita. Lalu kemudian bahwa hanta virus ini ditularkan melalui tikus," ujarnya.
3. Waspada tempat yang banyak tikusnya

Ani mengimbau agar masyarakat membersihkan tempat yang terdapat indikasi sarang tikus. Selain itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan.
"Karena penularannya ada beberapa macam yang paling utama adalah dengan inhalasi airosol. Jadi dari kotoran tikus, air liur maupun kencingnya kalau kemudian dia kering lalu bercampur dengan partikel udara, itu bisa terhirup oleh kita atau dengan kontak langsung kepada sekresi tikus yang terkontaminasi hanta atau kemudian secara langsung dengan gigitan tikus," katanya.


















