Demo Mahasiswa di Bundaran HI: Diadang hingga Janji Kembali Datang!

- Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas menggelar aksi #MenujuIndonesiaBangkrut di Bundaran HI menuntut penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok, serta penolakan militerisme di ranah sipil.
- Aksi sempat diadang polisi dan TNI di Semanggi serta Dukuh Atas, menyebabkan kemacetan dan ketegangan antara aparat dengan massa yang tetap berusaha menyuarakan aspirasi mereka.
- Setelah dialog dengan Kapolres Jakarta Pusat, massa membubarkan diri secara damai pada malam hari namun BEM UI menegaskan akan melanjutkan aksi lanjutan sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintah.
Jakarta, IDN Times - Sejumlah elemen mahasiswa dari berbagai universitas menggelar aksi demonstrasi dengan tagar #MenujuIndonesiaBangkrut yang dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Jumat (12/6/2026).
Kampus yang dipastikan turut serta dalam aksi ini meliputi BEM UI beserta 15 BEM fakultas di dalamnya, BEM KM IPB, BEM PNJ, BEM Universitas Pancasila, Aliansi BEM Gunadarma, FMN Pusat, FMN UI, BEM UIN, serta kelompok Pembebasan dan Semar UI.
Namun tak hanya mahasiswa, aksi demonstrasi ini juga turut diikuti oleh sejumlah masyarakat seperti pengemudi ojek online (ojol) dan kalangan artis, salah satunya Zaskia Adya Mecca yang turut membawa tiga ambulans.
Sejumlah tuntutan yang disorot dalam aksi ini di antaranya, penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok serta BBM, penghentian program MBG dan pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, penolakan terhadap militerisme di ranah sipil, serta desakan agar Prabowo tidak mengelak dan mengakui kesalahan pemerintah.
Berikut rangkuman peristiwanya!
1. Mahasiswa berangkat menuju HI

Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, mengatakan, massa mahasiswa dari kampusnya bergerak dari Depok menuju kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat sebelum melanjutkan agenda aksi di Bundaran HI. Dia mengatakan, rencananya mereka akan melaksanakan salat Jumat terlebih dahulu sebelum menuju Bundaran HI.
“Kami akan salat Jumat dulu baru kemudian menuju ke Bundaran HI,” ujar Yatalathof kepada IDN Times melalui pesan pendek.
Yatalathof juga menegaskan, titik aksi hanya akan dipusatkan di Bundaran HI dan tidak akan dilanjutkan dengan long march menuju Patung Kuda.
2. Mahasiswa UI diblokade di Semanggi

Namun, rombongan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang menuju titik aksi di Bundaran HI itu sempat dihentikan oleh polisi di kawasan Semanggi pada pukul 12.30 WIB. Mereka tidak diizinkan melanjutkan perjalanan dan diminta untuk memindahkan lokasi aksi ke depan Gedung DPR RI.
Hal ini disampaikan oleh Ketua BEM Fakultas Hukum (FH) UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo.
“Tadi kita mau lewat Semanggi tapi dihalangi dan disuruh pindah ke DPR/MPR,” kata dia saat dihubungi.
Mahasiswa yang sempat terhenti di lokasi penyekatan juga meminta penjelasan dari pihak kepolisian, karena sebelumnya mereka mengaku telah mengirimkan surat pemberitahuan aksi di Bundaran HI.
Akan tetapi, menurut Anandaku, pihak polisi sama sekali tidak memberikan alasan. Meski demikian, mahasiswa tetap berusaha melanjutkan perjalanan menuju Bundaran HI dengan berjalan kaki.
3. Mahasiswa kembali diadang TNI di Dukuh Atas

Di kawasan Dukuh Atas, mahasiswa dari berbagai universitas kembali dicegat. Kali ini mereka dihadang oleh ratusan personel TNI yang membentuk blokade hingga menyebabkan arus lalu lintas menuju Bundaran HI lumpuh.
Pada pukul 14.40 WIB, massa dari arah Bundaran HI mendekati barikade aparat hingga membuat aparat dipres. Meski tertahan, mahasiswa tetap berupaya menembus blokade sambil menyuarakan aspirasi dan yel-yel di lokasi.
“Hei antek-antek asing! Bubarkan MBG! Hei aparat, buka jalan!” teriak mahasiswa.
“Revolusi, revolusi, revolusi!” sambut massa.
Puluhan ojol juga turut membersamai mahasiswa untuk mencoba menerobos blokade TNI pada pukul 15.15 WIB. Mereka mengendarai motor dan menghampiri kerumunan mahasiswa yang ditahan.
Para ojol berhasil menembus blokade polisi, namun tertahan saat hendak menerobos blokade TNI di lapisan berikutnya.
“Buka blokadenya! Ayo mahasiswa, kalian aspirasi kami,” teriak para ojol.
4. Situasi sempat memanas di kawasan Dukuh Atas

Situasi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, Dukuh Atas, sempat memanas ketika aparat kepolisian bergerak maju dan melakukan pemukulan mundur terhadap massa aksi.
Ketegangan meningkat saat sejumlah mahasiswa mencoba menahan aparat dengan menendang barikade yang telah dipasang. Aksi saling dorong pun tidak terhindarkan antara kedua pihak.
Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa dan warga yang berada di lokasi berteriak meminta agar situasi tidak berkembang menjadi kericuhan.
“Pak jangan rusuh, jangan rusuh,” teriak massa di lokasi.
Massa juga sempat berusaha menerobos barikade hingga barisan terdepan berhasil mendorong dan membuat pertahanan aparat sempat terpecah. Namun, aparat kemudian kembali membentuk barikade berlapis untuk menahan pergerakan massa.
5. Massa bertahan dan minta pejabat temui langsung

Mahasiswa yang menggelar aksi memilih tetap bertahan di sekitar kawasan Bundaran HI hingga sekitar pukul 19.00 WIB. Mereka juga meminta agar ada pejabat yang datang untuk mendengarkan aspirasi mereka secara langsung.
Dalam orasinya, salah satu peserta aksi menyerukan agar pemerintah datang untuk berdialog dengan para pendemo.
“Dengarkanlah kami, datanglah dan temui kami!” ujar orator melalui pengeras suara.
Mereka menegaskan tidak akan membubarkan diri sebelum tuntutan mendapatkan respons.
“Kami tidak akan bergerak, kami akan tetap berdiri di sini!” kata orator di tengah aksi.
6. Blokade dibuka, massa perlahan bubar

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung, sempat berdialog dengan sejumlah peserta aksi dan mengimbau mereka untuk mengakhiri demonstrasi serta pulang dengan tertib.
Setelah dialog tersebut, massa perlahan bergerak mundur dan meninggalkan lokasi. Sekitar pukul 20.13 WIB, blokade demo mahasiswa akhirnya dibuka. Aparat dan massa aksi bersalaman serta bersama-sama membersihkan sampah di sekitar lokasi.
“Terima kasih kawan-kawan, silakan pulang dengan tertib,” ujar seorang polisi kepada massa aksi.
7. Mahasiswa akan gelar demo lanjutan

Aksi demonstrasi akhirnya berakhir dengan damai, tetapi Yatalathof menegaskan, aksi tersebut bukanlah yang terakhir.
Dia juga menyampaikan pesan kepada pemerintahan Prabowo-Gibran, aksi kali ini tidak boleh dianggap remeh.
"Untuk pemerintahan saat ini, aksi kali ini mungkin kalian anggap remeh. Tapi, kami tidak takut kepada kalian pemerintah bengis! Tunggu kami, akan berlipat ganda. Satu hari, dua hari, tiga hari kemudian, kalian tidak akan bisa tidur nyenyak!" ucap dia.
















