Drone Emprit: Ada Narasi Tandingan Mens Rea Pandji di Ruang Digital

- Muncul narasi tandingan Mens Rea Pandji yang memiliki keseragaman frasa dan waktu posting di ruang digital
- Mens Rea Pandji memunculkan tingginya penerimaan publik terhadap kritik tanpa sensor
- Perbincangan mengalami polarisasi menyusul kritik dari sejumlah pihak pasca-kemunculan Mens Rea Pandji
Jakarta, IDN Times - Analisis digital yang dilakukan Drone Emprit mengungkap respons terhadap karya komedi satir Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono tidak hanya berisi dukungan positif, namun ada juga kemunculan narasi tandingan yang tersebar di ruang digital.
Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyebut pola penyebarannya memunculkan tanda tanya terkait keseragaman dan kemungkinan adanya mobilisasi.
"Munculnya narasi yang relatif seragam di media sosial, seperti ‘Pandji Darurat Ide’ atau ‘Pandji Rusak Komedi’ memunculkan kecurigaan sebagian netizen akan adanya mobilisasi narasi tandingan," kata Fahmi di akun media sosial X, dikutip Jumat (9/01/2026).
Fahmi menyebut fenomena ini justru memperkuat persepsi materi Mens Rea menyentuh titik sensitif kekuasaan.
1. Narasi tandingan memiliki keseragaman frasa dan waktu posting

Lebih lanjut, temuan Drone Emprit menunjukkan narasi kontra yang muncul memiliki keseragaman frasa dan waktu posting yang berdekatan. Kesamaan pola ini memicu analisis mengenai kemungkinan upaya terkoordinasi untuk membentuk opini tandingan di ruang digital, di tengah dominasi sentimen positif publik terhadap tayangan tersebut.
Alih-alih meredam diskusi, Fahmi juga mengatakan, respons yang muncul justru bersifat sarkastis terhadap narasi tandingan ini. Banyak warganet yang menyebut gelaran Mens Rea justru membuka lapangan kerja baru bagi buzzer politik, sebagai sindiran terhadap gelombang kritik terarah yang muncul.
“Dalam konteks ini, serangan balik justru dibaca sebagai validasi relevansi kritik, bukan pelemahannya,” kata Fahmi.
2. Tingginya penerimaan publik terhadap kritik tanpa sensor

Tak hanya itu, menurut Fahmi, kesuksesan Mens Rea menunjukkan tingginya permintaan pasar terhadap konten satir politik yang berani. Ia menyebut data menunjukkan sentimen positif di media sosial mendominasi percakapan. Publik dinilai melihat materi tersebut menyuarakan kritik terhadap institusi negara dan penegakan hukum secara lugas.
Salah satu komentar yang muncul dari publik, misalnya, menyebutkan Mens Rea membuktikan kecerdasan Pandji dalam memilih kata-kata untuk menggambarkan situasi politik yang dinilai karut-marut.
"Gak selalu nonton stand up-nya dia, tapi Mens Rea membuktikan bahwa Pandji memang cerdas milih kata-kata yang tepat buat nyeritain Politik kita yang carut marut," tulis akun @djayc**** di sosial media X.
Selain itu, bernada serupa, akun X dengan username @ihi*** juga menyampaikan komentar positif.
"Lewat Mens Rea, Pandji Pragiwaksono pakai komedi buat nerjemahin isu serius (politik) jadi hal yang mudah dicerna awam,’ tulisnya.
3. Adanya polarisasi akibat benturan etika komedi dan fakta media

Sementara, perbincangan juga mengalami polarisasi, menyusul kritik dari sejumlah pihak, termasuk dari dr. Tompi mengenai materi fisik yang dinilai sebagai bentuk body shaming. Isu ini memicu debat yang membelah opini publik, antara kebebasan berekspresi dan etika komedi.
Dari analisis Drone Emprit, kelompok kontra-Pandji mengangkat tuduhan materi komedi yang miskin gagasan dan mengungkit masa lalu Pandji sebagai juru bicara Anies Baswedan. Menurut Drone Empirit, hal ini menunjukkan isu dimanfaatkan untuk membangun narasi tandingan yang menyoroti kredibilitas komedian.
Lebih jauh, Fahmi juga menyebutkan, sebuah pola konsisten terlihat dalam penerimaan publik terhadap Mens Rea. Dukungan terhadap kritik politik Pandji Pragiwaksono tetap dominan, namun karakteristik platform media sosial membentuk corak percakapan yang berbeda.
Ia menambahkan, X berperan sebagai arena perdebatan ideologis, sementara Facebook menjadi ruang untuk dukungan emosional. Di sisi lain, Instagram berfungsi sebagai panggung legitimasi popularitas. Sementara itu, YouTube ditandai sebagai tempat penonton mencari pemahaman mendalam, dan TikTok bertindak sebagai mesin viral yang mempercepat polarisasi perbincangan.


















