Ekonomi Sulit, Pemprov DKI Akan Buka 2.843 Lowongan Kerja Padat Karya

- Pemprov DKI Jakarta membuka 2.843 lowongan kerja padat karya sebagai langkah jangka pendek untuk membantu warga menghadapi tekanan ekonomi yang mulai terasa.
- Program padat karya ini dirancang sebagai bantalan sosial tanpa mengurangi alokasi anggaran sektor lain seperti sosial, kesehatan, dan pendidikan yang bahkan mendapat tambahan dukungan.
- Pramono menegaskan pentingnya menjaga daya beli masyarakat karena Jakarta menyumbang sekitar 16,67 persen terhadap PDB nasional dan berperan sebagai barometer ekonomi Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan membuka 2.843 lowongan kerja melalui program padat karya.
Pramono menyebut lowongan pekerjaan padat karya ini khusus disiapkan sebagai bantalan sosial bagi warga Jakarta di tengah tekanan ekonomi yang mulai dirasakan masyarakat.
"Jadi, padat karya kurang lebih 2.800. Ini adalah betul-betul kegiatan yang bersifat jangka pendek karena tekanan ekonomi ini mulai terasa," ujar Pramono di Jakarta Timur, Minggu (7/6/2026).
1. Bantu warga hadapi kondisi ekonomi saat ini

Pramono mengatakan, program padat karya tersebut merupakan inisiatif Pemprov DKI untuk membuka ruang pekerjaan bagi masyarakat yang membutuhkan. Program itu akan dijalankan sebagai langkah jangka pendek untuk membantu warga menghadapi kondisi ekonomi saat ini.
"Jadi kami berinisiatif untuk membuka ruang padat karya. Nanti secara detail akan ditindaklanjuti, dijabarkan oleh Asisten Pembangunan," katanya.
2. Sebagai bantalan sosial warga Jakarta

Menurut dia, program tersebut memang dirancang sebagai bantalan sosial. Meski demikian, Pemprov DKI memastikan alokasi anggaran untuk sektor lain tetap berjalan dan tidak mengalami pengurangan.
"Karena memang ini adalah program jangka pendek untuk bantalan sosial. Tetapi untuk DKI Jakarta yang lain-lain masih tetap sepenuhnya dialokasikan," ujarnya.
3. Jakarta sebagai barometer Indonesia

Pramono menegaskan anggaran untuk sektor sosial, kesehatan, dan pendidikan tetap menjadi prioritas. Bahkan, kata dia, beberapa program pada sektor tersebut justru mendapatkan tambahan dukungan.
"Apakah itu berkaitan dengan sosial, berkaitan dengan kesehatan, berkaitan dengan pendidikan, tidak ada yang dikurangi sedikit pun, bahkan malah ditambah," katanya.
Pramono menjelaskan, langkah tersebut diambil karena Jakarta memiliki peran strategis terhadap perekonomian nasional. Sebagai ibu kota ekonomi, kondisi Jakarta dinilai turut memengaruhi perkembangan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
"Kenapa itu kami lakukan? Karena bagaimanapun Jakarta ini kan sebagai barometer Indonesia," ujarnya.
4. Jaga daya beli masyarakat

Ia menambahkan, kontribusi Jakarta terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai sekitar 16,67 persen. Karena itu, menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat Jakarta menjadi hal yang penting.
"Apalagi kontribusi Jakarta terhadap GDP itu adalah 16,67 persen sehingga dengan demikian cukup signifikan untuk itu," kata Pramono.
















