Istilah Prabonomics hingga Gentengisasi, Apa Dampak Nyata ke Rakyat?

- Prabonomics adalah identitas doktrin ekonomi Prabowo, menekankan kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Sistem ekonomi trickle-down effect dikritik oleh Prabowo dengan istilah Serakahnomics karena dianggap gagal menyejahterakan rakyat.
- Gentengisasi muncul dalam konteks teknis namun berdampak luas, pemerintah wajib memastikan rakyat memahami pesan di baliknya.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto kembali mencuri perhatian publik lewat diksi unik dalam setiap pidatonya. Belakangan, masyarakat diperkenalkan dengan istilah baru seperti Prabonomics, Serakahnomics, hingga yang terdengar sangat lokal, Gentengisasi.
Meski terdengar segar, istilah-istilah ini bukan sekadar jargon. Di baliknya tersimpan visi besar Prabowo menahkodai Indonesia menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam lima tahun. Namun, pertanyaan penting muncul: apakah istilah-istilah ini benar-benar berdampak pada isi piring rakyat?
1. Lahirnya Prabonomics dan Serakahnomics

Prabonomics muncul sebagai identitas doktrin ekonomi Prabowo. Konsep ini menekankan kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Momen penting paparan visi ini Prrabowo ini diungkapkan dalam Mandiri Investment Forum (MIF). Dalam forum yang sama, Prabowo menyinggung Serakahnomics.
Ia mengkritik sistem ekonomi trickle-down effect, yang dianggap gagal menyejahterakan rakyat. Menurutnya, sistem tersebut gagal menyejahterakan rakyat karena orang kaya justru semakin kaya, sementara yang miskin tetap terpuruk.
Berbeda dengan dua istilah sebelumnya, Gentengisasi muncul dalam konteks teknis namun berdampak luas. Istilah ini diperkenalkan saat Prabowo memberi arahan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor.
2. Hensat pertanyakan pemahaman publik

Analisis Politik, Hendri Satrio menegaskan, apapun istilahnya, pemerintah wajib memastikan rakyat memahami pesan di baliknya.
"Itu sih bagus-bagus saja istilah-istilah itu, hanya kan pertanyaannya ada dua, dipahami rakyat atau tidak kemudian dampaknya apa buat bangsa dan negara buat negara yang dia pimpin. Yang pertama, rakyat gerti apa gak itu kan tugasnya officer-officernya pemerintah, menjelaskan apa itu Prabowonomics, apa itu Serakahnomics apa itu Gentengisasi, apa itu Koperasi Merah Putih, apa itu Sekolah Rakyat, kemudian memang istilah-istilah itu tidak hanya Prabowo sampaikan, tapi harus ada kelanjutan," ujar Hensat, Minggu (15/2/2026).
Hensat menekankan, tanpa pemahaman yang utuh, dukungan rakyat terhadap program pemerintah akan sulit didapat. Sosialisasi menjadi kunci agar istilah ini tak hanya menjadi bahan guyonan.
"Kenapa rakyat mesti paham? Karena harus ada dukungan, gimana caranya mendukung kalau rakyat tidak paham maksudnya apa, Prabonomics, serakahnomics sulit dimengerti, gentengisasi juga sulit dimengerti, bahkan plesetan-plesetannya sudah banyak beredar," ucap dia.
3. Menanti dampak nyata di lapangan

Hensat juga menyoroti keterkaitan istilah baru dengan kebijakan nyata. Ia meminta pemerintah menjelaskan dampak konkret setiap kebijakan, seperti MBG atau pertemuan Prabowo dengan konglomerat, terhadap konsep ekonomi yang diusung.
"Kedua paling penting, dampaknya apa? Jadi Presiden sudah bilang, Prabowonomics, Serakahnomics, sudah mengatakan Gentengisasi, tapi dampaknya apa dan itu yang perlu dijelaskan dan kadang Presiden suka menyampaikan hal-hal baik tapi dihentikan dalam artian dampaknya itu tidak di-update. Misalnya, Prabowo menggelontorkan banyak uang untuk MBG, ini kaitannya dengan Prabowonomics apa? Kaitannya dengan Serakahnomics itu apa? Misalnya seperti kemarin Presiden memanggil para taipan-taipan itu hubungannya dengan Serakahnomics itu apa? Hubungannya dengan Gentengisasi itu apa?" kata Hensat.
Hingga kini, publik menunggu langkah nyata pemerintah agar istilah-istilah unik ini bukan sekadar tren semata, melainkan strategi yang menyentuh kesejahteraan rakyat.

















