Hari Bumi 2026: Jakarta Padam 1 Jam, Turunkan Emisi 77,53 ton

- Pemerintah DKI Jakarta menggelar aksi pemadaman lampu selama 60 menit di berbagai ikon kota untuk memperingati Hari Bumi 2026 dan menekan emisi karbon.
- Kegiatan ini berhasil menghemat listrik sebesar 96,91 MWh, menurunkan emisi karbon hingga 77,53 ton CO2e, serta menghemat biaya listrik lebih dari Rp140 juta.
- Aksi hemat energi ini menjadi bagian strategi jangka panjang Pemprov DKI menuju target penurunan emisi 30 persen pada 2030 sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap krisis iklim.
Jakarta, IDN Times – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menggelar Aksi Hemat Energi dan Pengurangan Emisi Karbon dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026. Selama 60 menit, Sabtu (25/4/2026) malam, lampu di sejumlah titik strategis Ibu Kota dipadamkan.
Pemadaman berlangsung pukul 20.30–21.30 WIB. Sejumlah ruas jalan protokol dan arteri ikut gelap. Ikon-ikon kota seperti Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Bundaran Hotel Indonesia, hingga Balai Kota DKI Jakarta turut dipadamkan.
Aksi ini bukan sekadar simbolik. Pemerintah mencatat dampak nyata, baik dari sisi penghematan energi maupun penurunan emisi karbon.
1. Target turunkan emisi gas rumah kaca 30 persen pada 2030

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menegaskan aksi ini bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah. Tujuannya jelas: menekan emisi gas rumah kaca.
“Aksi Hemat Energi yang dilakukan tadi malam merupakan aksi rutin yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Kegiatan ini juga mengacu pada Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 mengenai Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon,” katanya.
Program ini sejalan dengan target penurunan emisi sebesar 30 persen pada 2030. Edukasi publik menjadi kunci utama keberhasilannya.
2. Hemat listrik 96,91 MWh dalam satu jam

Data dari PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya mencatat hasil signifikan. Dalam satu jam pemadaman, konsumsi listrik berkurang drastis.
“Dari kegiatan tersebut, tercatat penghematan biaya listrik mencapai Rp 140.226.312 serta penurunan emisi karbon sebesar 77,53 ton CO2e,” ungkapnya.
Angka ini menunjukkan perubahan kecil, jika dilakukan serentak, mampu memberi dampak besar.
3. Tekan emisi dan bangun kesadaran publik

Selain efisiensi energi, aksi ini juga bertujuan membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap krisis iklim. Partisipasi warga menjadi faktor penting.
“Kami mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat yang telah mendukung Aksi Hemat Energi ini. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran bersama untuk terus menerapkan perilaku hemat energi sebagai langkah menghadapi perubahan iklim,” bebernya.
Pemprov DKI berharap aksi serupa terus mendapat dukungan luas. Langkah sederhana seperti mematikan lampu, jika dilakukan bersama, terbukti efektif mengurangi emisi karbon.


















