Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pejabat Iran Bantah Klaim Trump Soal Perpecahan Internal

Pejabat Iran Bantah Klaim Trump Soal Perpecahan Internal
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Pejabat tinggi Iran, termasuk Presiden Pezeshkian dan Ketua Parlemen Ghalibaf, menegaskan persatuan nasional serta membantah klaim Donald Trump tentang perpecahan kepemimpinan di Teheran.
  • Trump menuduh adanya krisis kepemimpinan di Iran setelah Mojtaba Khamenei dikabarkan terluka parah, namun pejabat Iran menyatakan ia tetap mampu memimpin negara.
  • Ketegangan AS-Iran meningkat di Selat Hormuz setelah IRGC menyita dua kapal kontainer sebagai balasan atas pembajakan kapal tanker Iran oleh pasukan khusus Amerika.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sejumlah pejabat tinggi Iran, pada Kamis (23/4/2026), secara kompak membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai perpecahan kepemimpinan di Teheran. Mereka menegaskan bahwa pemerintahan dan rakyat Iran saat ini bersatu menghadapi ancaman asing.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf merilis pernyataan bersama untuk menepis isu tersebut. Kedua tokoh penting itu membagikan pesan yang seragam melalui media sosial X untuk menunjukkan persatuan negara.

1. Pejabat Iran menyuarakan pesan persatuan di media sosial

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Chatham House, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, turut menyuarakan narasi serupa untuk meredam rumor miring. Ia menyatakan bahwa Iran adalah benteng persatuan yang tetap kokoh di tengah krisis perang.

"Di Iran, tidak ada kelompok radikal atau moderat. Kami akan membuat penjahat agresor menyesali tindakannya," tulis Ghalibaf, dilansir Al Jazeera.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga membantah tuduhan bahwa militer dan elite politik sedang berselisih. Ia mengklaim berbagai institusi Iran tetap bertindak dengan disiplin tinggi serta tujuan yang sama.

Araghchi menambahkan bahwa medan perang dan jalur diplomasi merupakan front yang terkoordinasi. Teheran juga menuduh terhambatnya perundingan damai merupakan akibat dari blokade AS di sejumlah pelabuhan mereka.

2. Trump klaim Iran alami krisis kepemimpinan

unjuk rasa pendukung Ayatollah Ali Khamenei di Gorgan, Iran pada 2018
unjuk rasa pendukung Ayatollah Ali Khamenei di Gorgan, Iran pada 2018 ( Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sebelumnya, Trump menggembar-gemborkan narasi bahwa elite politik Teheran sedang mengalami perselisihan hebat antara kubu moderat dan garis keras. Trump menuding warga Iran mulai kesulitan menentukan siapa pemimpin sah mereka saat ini.

Klaim perpecahan ini dinilai sengaja digunakan Trump untuk membenarkan perpanjangan masa gencatan senjata. Langkah tersebut sekaligus bertujuan menyudutkan Iran sebagai pihak yang bersalah atas buntunya negosiasi damai.

Isu kekosongan kekuasaan mencuat lantaran Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei belum tampil di depan publik. Ia berkuasa setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas akibat serangan udara gabungan AS dan Israel pada akhir Februari.

Mojtaba dikabarkan terluka sangat parah akibat rentetan serangan tersebut. Kendati kakinya harus dioperasi dan wajahnya terbakar, seorang pejabat Iran menyebut pikirannya masih sangat tajam untuk memimpin negara.

3. AS-Iran masih bersitegang di Selat Hormuz

kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz
kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

Di tengah perang narasi, AS dan Iran masih bersitegang di Selat Hormuz. Pasukan komando Garda Revolusi Iran (IRGC) baru saja menyita dua kapal kontainer yang diduga mematikan sistem pelacakannya.

Penyitaan ini merupakan balasan atas tindakan pasukan khusus AS yang membajak sebuah kapal tanker Iran di Samudra Hindia. AS juga mengklaim armada kapal penyapu ranjau mereka bekerja tiga kali lipat lebih keras untuk membersihkan jalur pelayaran.

"Kami memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Tidak ada kapal yang bisa masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut Amerika Serikat," ujar Trump, dilansir The Guardian.

Ketegangan ini semakin dikhawatirkan akan semakin mengancam pasokan energi global karena kedua kubu saling menerapkan blokade laut. Sementara itu, militer Israel dilaporkan sedang bersiap untuk kembali menyerang Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More