Kisah Unik SBY: Tak Pegang Handphone Selama Jadi Presiden 2 Periode

- Selama dua periode menjabat, SBY tidak pernah memegang handphone pribadi dan hanya berkomunikasi melalui telepon dinas yang dipegang ajudan atau lewat Ani Yudhoyono.
- Setiap permintaan audiensi kepada presiden harus melalui jalur resmi yang diatur oleh Sekretaris Pribadi, meski usulan bisa datang dari berbagai pihak termasuk Ibu Ani.
- Keputusan akhir mengenai siapa yang akan ditemui selalu ditentukan langsung oleh SBY setelah menerima laporan agenda harian dari Sespri setiap malam.
Jakarta, IDN Times – Mantan Juru Bicara Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Andi Mallarangeng mengungkapkan kebiasaan unik SBY selama memimpin Indonesia. Berbeda dengan kebanyakan kepala negara, SBY disebut tidak pernah memegang telepon seluler alias handphone (HP) pribadi saat menjabat sebagai presiden.
Karena itu, menteri, tokoh nasional, hingga organisasi yang ingin bertemu dengan SBY harus melalui jalur resmi. Dalam beberapa kesempatan, permintaan audiensi bahkan disampaikan melalui istri SBY, Ani Yudhoyono yang diketahui memegang telepon seluler pribadi.
1. SBY tidak pernah memegang telepon seluler

Andi mengatakan, sejak awal menjabat sebagai presiden, SBY memilih tidak membawa telepon seluler. Jika ingin menghubungi seseorang, termasuk para menteri, SBY menggunakan telepon dinas yang dipegang ajudan.
"Memang dari dulu beliau nggak pernah pegang hape, kan yang pegang ajudan, Ibu Ani. Kan ada hape HP dinas, yang pegang itu ajudan. Jadi kalau presiden mau bicara dengan siapa, lewat ajudan. Misalnya menelepon menteri, mau minta, mau nanya langsung kepada menteri ini menteri itu. Itu ajudan yang pegang handphone lalu diminta, tolong telpon, teleponkan menteri ini bicara sama presiden. Jadi presiden sendiri nggak pegang HP," kata Andi kepada IDN Times, dikutip Senin (29/6/2026).
Ia mengatakan, telepon seluler pribadi justru dipegang Ani Yudhoyono. Karena nomor tersebut diketahui banyak pihak, tidak sedikit permintaan bertemu dengan presiden yang disampaikan melalui Ani.
"Nah tapi Ibu Ani pegang HP. Ibu Ani itu HP-nya Bu Ani sendiri. Dan entah kenapa banyak yang tahu. Jadi kadang-kadang bisa lewat Ibu Ani juga, Bu Ani bilang ini ada ini mau ketemu, biasanya kalau yang lewat Ibu Ani tuh aktivis perempuan, organisasi perempuan. Kowani misalnya, ingin ketemu. IWAPI ingin ketemu, ataupun juga misalnya tokoh-tokoh tertentu," ujarnya.
2. Menteri hingga tokoh bangsa mengajukan permintaan melalui Sespri

Andi menjelaskan, seluruh permintaan bertemu dengan presiden tetap harus melalui mekanisme yang diatur Sekretaris Pribadi (Sespri). Usulan pertemuan bisa datang dari berbagai pihak, mulai dari menteri, Sekretaris Kabinet, Menteri Sekretaris Negara, hingga Ani Yudhoyono.
"Kalau mengenai tentang agenda presiden, memang pertama presiden punya Sespri. Sespri itu yang paling terakhir yang mengatur dengan agenda-agenda tersebut. Tapi usulan-usulan agenda bisa datang dari Seskab, Mensesneg. Ya, kemudian juga bisa juga langsung dari Sespri sendiri. Bisa kadang-kadang juga dari Ibu Ani," kata Andi.
Ia menambahkan, tokoh bangsa maupun organisasi masyarakat juga dapat mengajukan permintaan audiensi kepada presiden melalui jalur tersebut.
"Atau ada tokoh-tokoh, tokoh-tokoh bangsa ingin silaturahmi dengan presiden. Ingin bertemu dengan presiden, atau ada organisasi-organisasi ingin ketemu dengan presiden, misalnya PBNU mau ketemu, Muhammadiyah kah. Atau ada tokoh bangsa dulu misalnya mantan-mantan pejabat negara seperti Pak Try (Sutrisno) mau ketemu, atau Pak Habibie mau ketemu," ujarnya.
3. SBY menentukan sendiri siapa yang akan ditemui

Meski saluran untuk mengajukan pertemuan cukup banyak, Andi menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan SBY. Setiap malam, Sespri melaporkan seluruh agenda dan permintaan pertemuan untuk hari berikutnya.
"Salurannya banyak. Tapi kemudian dilaporkan kepada presiden malam hari untuk mengatur jadwal besok. Oh iya (Pak SBY yang memutuskan ingin bertemu dengan siapa), karena dilaporkan malam hari. Untuk agenda besok pagi, malam hari sudah kita, sudah disusun," kata Andi.
Menurut dia, selain agenda harian, SBY juga telah memiliki jadwal mingguan sehingga berbagai pertemuan dapat diatur lebih awal. Bahkan ketika bertemu tokoh tertentu secara tidak sengaja dalam sebuah acara, SBY akan meminta Sespri mencarikan waktu untuk pertemuan lanjutan.
"Kalau weekend, itu beliau ketemu dengan siapa, di mana kadang-kadang di (acara) kawinan-kawinan beliau ketemu dengan tokoh-tokoh tertentu, minta minta waktu, kemudian Pak SBY bilang kepada ajudan atau Sespri, 'tolong carikan waktu Pak ini mau ketemu dengan saya, saya oke, coba carikan waktu'. Kan Pak SBY enggak hafal dia punya agenda. Jadi Sespri lah yang mencarikan waktu," tutur Andi.


















