Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jusuf Kalla Sebut Kurangi Subsidi Lebih Baik untuk Hemat BBM daripada WFH

Jusuf Kalla Sebut Kurangi Subsidi Lebih Baik untuk Hemat BBM daripada WFH
Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Jusuf Kalla menyarankan pemerintah mengurangi subsidi BBM untuk menekan defisit dan utang negara di tengah kenaikan harga minyak dunia.
  • Menurut JK, harga BBM murah membuat masyarakat tidak berhemat dan justru meningkatkan beban subsidi yang berdampak pada naiknya utang negara.
  • JK menilai pengurangan subsidi lebih efektif menghemat BBM dibanding kebijakan WFH, karena masyarakat akan menyesuaikan penggunaan kendaraan secara alami.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), menyarankan pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) daripada melakukan work from home (WFH). Menurut dia, di tengah naiknya harga minyak dunia, pengurangan subsidi BBM merupakan hal yang perlu dilakukan agar tidak terjadi defisit anggaran.

"Kita minta agar dipertimbangkan untuk mengurangi defisit, mengurangi utang dengan cara mengurangi subsidi. Karena mengurangi subsidi berarti menaikkan harga dan itu dilakukan di banyak negara," ujar JK di kediamannya, Jakarta Selatan, Minggu (5/4/2026).

1. Bila harga BBM tetap murah, tidak ada penghematan

Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)

JK mengatakan, bila harga BBM tetap murah, tidak ada penghematan. Sebab, masyarakat akan tetap membeli BBM seperti biasa.

"Karena kalau harga murah seperti sekarang orang cenderung tidak berhemat. Dia akan jalan, macet, jalan karena murah BBM. Di samping itu subsidi akan meningkat terus. Nah kalau meningkat terus maka utang naik terus," ujar dia.

"Jadi itulah sebabnya memang ada mengatakan jangan dinaikkan, iya betul, tidak dinaikkan mungkin sementara bagus tetapi utang akan menumpuk dengan subsidi yang besar. Itu yang paling berbahaya untuk kita semua. Kalau utang, semua kita kena. Ah itu masalah utang, masalah energi," sambungnya.

2. Protes kenaikan BBM hanya sementara

Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)

JK mengatakan, apabila pemerintah menaikkan harga BBM, protes masyarakat hanya berlangsung sementara. Nantinya, masyarakat bisa menyesuaikan diri dalam penggunaan BBM.

"Ya, pasti sementara ada protes, tapi ingat yang paling banyak memakai BBM yang punya mobil, ya, yang punya mobil itu pertama dia lebih mampu jadi kalau naik saja 20-30 persen itu bagi mereka tentu tidak, biasa saja. Kedua, kalau motor tentu, bisa diatur," ujar dia.

JK mengatakan, pemerintah seharusnya bisa menjelaskan kepada masyarakat dengan baik. Apabila masyarakat dijelaskan dengan baik, maka mereka akan memahami alasan subsidi dikurangi.

"Pengalaman saya 20 tahun memang kalau dijelaskan kepada rakyat dengan baik, rakyat akan menerima. 2005, 2014, tidak ada demo karena kita jelaskan dengan baik. Apalagi ini masalah eksternal (ada perang)," ujar dia.

3. JK anggap lebih baik kurangi subsidi daripada WFH untuk hemat BBM

Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)

JK menganggap lebih baik mengurangi subsidi daripada WFH untuk menghemat BBM.

"Kalau itu beban pemerintah artinya defisit, artinya utang, artinya beban kita semua. Ya, lebih baik kepada yang, agar kalau naik itu yang motor pasti kurang, pasti tinggal di rumah, pasti mungkin naik kendaraan umum macam-macam. Itu lebih efektif dibanding tadi itu harus semua tinggal di rumah, tapi dia keluar juga karena 3 hari itu long weekdays (long weekend), ya, mungkin keluar kota malah orang, ya, seperti itu," ucap dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in News

See More