Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kasus Bunuh Diri Meningkat 3 Kali, Kemenkes Soroti Fenomena Gunung Es

Kasus Bunuh Diri Meningkat 3 Kali, Kemenkes Soroti Fenomena Gunung Es
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi dalam temu media di Gedung Kemenkes, Kamis (10/9/2026)/ IDN Times Dini Suciatiningrum
  • Laporan kepolisian mencatat kasus bunuh diri naik dari 1.332 pada 2023 menjadi 1.403 pada 2024, lalu bertambah sekitar 100 kasus pada 2025.
  • Kemenkes menilai data resmi belum mencerminkan kondisi penuh karena banyak kasus dan percobaan bunuh diri tidak dilaporkan atau ditutupi keluarga maupun lingkungan.
  • Estimasi IHME menunjukkan angka lebih tinggi daripada catatan kepolisian; kenaikan laporan juga dapat dipengaruhi meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melapor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti tren kasus bunuh diri di Indonesia yang tercatat terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan berdasarkan laporan dari kepolisian, terdapat 1.332 kasus bunuh diri pada 2023. Angka tersebut meningkat hingga 2025.

"Kalau dilihat dari laporan dari kepolisian, ternyata memang kasus bunuh diri yang dilaporkan ke kepolisian itu tiap tahun meningkat. Kalau kita lihat dari 2023 itu 1.332, kemudian naik tahun 2024 menjadi 1.403, tahun 2025 naik 100," kata Imran dalam temu media di Gedung Kemenkes, Rabu (9/9/2026).

  1. 1. Banyak kasus yang gak dilaporkan

    IMG_20260909_141750.jpg
    Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi dalam temu media di Gedung Kemenkes, Kamis (10/9/2026)/ IDN Times Dini Suciatiningrum

    Menurutnya, angka tersebut belum menggambarkan keseluruhan kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia. Sebab, masih terdapat kasus yang tidak dilaporkan, termasuk percobaan bunuh diri yang tidak berujung pada kematian.

    "Ini baru yang dilaporkan. Dan saya yakin sebetulnya cukup banyak kasus-kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan," ujarnya.

  2. 2. Kasus percobaan bunuh diri seperti fenomena gunung es

    Temu Media Hari Pencegahan Bunuh Diri Kemenkes,   Rabu, (9/9/2026).
    Temu Media Hari Pencegahan Bunuh Diri Kemenkes, Rabu, (9/9/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

    Imran menyebut percobaan bunuh diri juga kerap tidak tercatat karena keluarga maupun lingkungan sekitar memilih menutupinya. Kondisi tersebut membuat kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri layaknya fenomena gunung es.

    "Belum yang percobaan bunuh diri, tapi enggak jadi meninggal. Itu juga cukup banyak. Dan kasus-kasus seperti ini seringkali ditutupi," katanya.

  3. 3. Kasus bunuh diri lebih tinggi dibandingkan jumlah yang tercatat

    Ilustrasi bunuh diri (IDN Times)
    Ilustrasi bunuh diri (IDN Times)

    Imran menjelaskan, estimasi Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan angka kasus bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan jumlah yang tercatat dalam laporan kepolisian.

    Menurut dia, terdapat kemungkinan angka kejadian secara keseluruhan menurun, tetapi jumlah kasus yang dilaporkan justru meningkat karena kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus semakin baik.

    "Bisa jadi kasus kejadiannya secara overall itu menurun, tetapi yang dilaporkan itu meningkat. Jadi kesadaran untuk melaporkan ini jadi lebih baik," jelasnya

    Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

    Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.

    Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

    Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:

    RSJ Amino Gondohutomo Semarang | (024) 6722565

    RSJ Marzoeki Mahdi Bogor | (0251) 8324024, 8324025

    RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta | (021) 5682841

    RSJ Prof Dr Soerojo Magelang | (0293) 363601

    RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang | (0341) 423444

    Selain itu, terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More