Kemarau Panjang, Pramono Instruksikan Setiap RW DKI Miliki APAR

- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mewajibkan setiap RW memiliki minimal satu APAR untuk mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau panjang.
- BMKG melaporkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami Hari Tanpa Hujan yang semakin panjang, bahkan beberapa daerah mencatat kategori ekstrem lebih dari 60 hari.
- Fenomena El Niño masih aktif dan memperkuat kondisi atmosfer kering, meningkatkan potensi kekeringan serta kebakaran di berbagai wilayah selama puncak musim kemarau.
Jakarta, IDN Times – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan setiap Rukun Warga (RW) di Jakarta untuk memiliki minimal satu alat pemadam api ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau.
Pramono mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering sehingga potensi kebakaran meningkat.
"Kemaraunya diprediksi oleh BMKG akan panjang dan kemungkinan akan kering dan karena panjang dan kering, kemungkinan untuk terjadinya kebakaran dan sebagainya, potensinya lebih besar. Maka untuk itu, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta, kami juga sudah melakukan sosialisasi, termasuk setiap RW harus ada APAR-nya satu," kata Pramono di Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).
1. Warga diminta terlibat cegah kebakaran

Dia mengatakan, gerakan penyediaan APAR di setiap RW sebenarnya telah berjalan di Jakarta sebagai upaya pencegahan kebakaran. Selain itu, Pramono meminta masyarakat ikut berperan aktif menjaga lingkungan, terutama di kawasan permukiman padat yang rawan kebakaran seperti Tambora dan Cakung.
"Kami meminta betul warga juga ikut terlibat menjaga bersama-sama, terutama untuk daerah-daerah yang sensitif yang padat penduduk seperti di Tambora, Cakung, dan sebagainya. Jangan kemudian misalnya habis merokok membuang puntung sembarangan yang bisa mengakibatkan kebakaran atau korsleting," ujar dia.
2. Sebagian besar wilayah Indonesia memasuki hari tanpa hujan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebagian besar wilayah Indonesia mulai mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan durasi yang semakin panjang seiring memasuki puncak musim kemarau.
Bahkan, sejumlah wilayah telah mencatat HTH kategori ekstrem panjang yang berlangsung lebih dari 60 hari.
Berdasarkan analisis BMKG, HTH kategori sangat panjang atau berlangsung 31 sampai 60 hari tercatat di 331 titik pengamatan.
"Kondisi ini didominasi di sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, serta sebagian wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Utara," tulis BMKG dalam keterangan.
3. Risiko kekeringan dan kebakaran

Selain itu, BMKG menyebut fenomena El Niño masih aktif. Kondisi tersebut memperkuat atmosfer yang lebih kering sehingga berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran selama musim kemarau.
"Musim kemarau tidak berarti hujan berhenti sepenuhnya. Dinamika atmosfer regional masih memicu terbentuknya awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia," kata dia.



















