Penetapan Awal Ramadan, Menag Ungkap Kriteria Visibilitas Hilal

- Kriteria MABIMS: Hilal harus 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat
- Tantangan astronomis: posisi minus dan faktor cuaca
Jakarta, IDN Times - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menegaskan, sidang isbat tetap menjadi mekanisme resmi pemerintah dalam menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah.
Ia menjelaskan, secara historis sidang isbat selalu menjadi rujukan bangsa Indonesia dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri. Dalam dua tahun terakhir memang terjadi dinamika perbedaan penentuan awal Ramadan di tengah masyarakat, namun Kemenag terus mencoba untuk mempertemukan.
Nasaruddin mengungkapkan, Indonesia menggunakan kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang disepakati bersama negara anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Kriteria ini menjadi dasar utama pemerintah dalam menentukan awal bulan hijriah, termasuk Ramadan 1447 H, sekaligus menjawab berbagai dinamika astronomis yang kerap memunculkan perbedaan di masyarakat.
1. Kriteria MABIMS: Hilal harus 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat

Nasaruddin mengungkapkan, kriteria MABIMS menetapkan dua syarat utama agar hilal bisa dinyatakan terlihat. Pertama, ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam. Kedua, elongasi atau jarak sudut bulan–matahari minimal 6,4 derajat.
Menurutnya, ketentuan ini bersifat empiris karena didasarkan pada hasil riset astronomi terbaru. Sebelumnya, ketinggian hilal 2 derajat sempat digunakan, namun secara ilmiah hampir mustahil terlihat.
“Berdasarkan penelitian, hilal pada ketinggian 2 derajat hampir tidak bisa dirukyat. Karena itu dinaikkan menjadi 3 derajat agar tingkat kepastiannya lebih tinggi,” kata Nasaruddin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Sementara itu, batas elongasi 6,4 derajat merujuk pada batas fisis yang dikenal sebagai Danjon Limit, yaitu jarak minimal agar cahaya bulan memungkinkan untuk diamati.
2. Tantangan astronomis: posisi minus dan faktor cuaca

Nasaruddin juga memaparkan tantangan teknis dalam penentuan awal Ramadan. Berdasarkan perhitungan astronomi terkini, posisi hilal saat matahari terbenam di Indonesia masih berada di rentang minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga 0 derajat 58 menit 47 detik.
“Kalau melihat data ini, hampir mustahil hilal bisa dirukyat,” ujar dia
Selain itu, faktor cuaca turut menjadi kendala. Mendung, hujan, hingga polusi cahaya dapat menghalangi proses pengamatan.
“Jadi memang berlapis-lapis tantangannya. Bisa saja hari ini mendung, atau ketinggian hilalnya rendah. Semua itu kita pertimbangkan secara cermat,” kata Menag..
3. Indonesia tetap rukun di tengah perbedaan penetapan

Terkait kemungkinan perbedaan awal Ramadan, Menag mengajak masyarakat untuk tidak terjebak dalam polemik. Ia menegaskan bahwa Indonesia sudah berpengalaman menghadapi perbedaan penetapan 1 Ramadan tanpa menimbulkan konflik sosial.
“Indonesia tetap rukun dan telah berpengalaman dalam perbedaan penentuan 1 Ramadan pada tahun sebelumnya. Kita berpengalaman menyatu di tengah perbedaan,” kata dia.
Menag juga menyinggung wacana Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mulai dibahas di berbagai forum internasional, termasuk OKI. Meski begitu, untuk saat ini Indonesia tetap berpegang pada kriteria MABIMS sebagai dasar resmi pemerintah.
Dengan mengedepankan sains, musyawarah, dan semangat kebersamaan, pemerintah berharap penetapan awal Ramadan 1447 H dapat diterima secara bijak oleh seluruh elemen masyarakat.

















