Ketua Dewan Pers: Perempuan Maju karena Knowledge, Bukan Otot dan Gender
- Perempuan duduk di posisi strategis: Perempuan Indonesia menduduki posisi strategis dan berpengaruh di berbagai bidang.
- Minangkabau sebagai salah satu wilayah yang lebih awal mengalami pemerataan pendidikan: Peran penting perempuan Minangkabau dalam lahirnya pemikiran modern di Indonesia.
- Roehana Koeddoes tokoh perempuan pelopor pendidikan dan pers: Sebagai salah satu pahlawan nasional, Roehana Koeddoes memiliki peran penting dalam membentuk pemikiran kebangsaan.
Jakarta, IDN Times – Ketua Dewan Pers Profesor Komaruddin Hidayat menegaskan, kemajuan perempuan saat ini tidak lagi ditentukan oleh perbedaan gender, namun oleh akses pendidikan dan penguasaan pengetahuan.
Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi termasuk Akal Imitasi (AI) dan komputer, pendidikan menjadi faktor paling menentukan dalam membuka ruang kesetaraan.
Pernyataan ini disampaikan Komaruddin saat menghadiri acara diskusi bertajuk '3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia' yang digelar IDN Times bekerja sama dengan Yayasan Amai Setia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).
“Sekarang ini bukan lagi mengandalkan otot, tapi otak. Dengan AI, dengan komputer, maka pendidikan yang menentukan. Bukan karena laki-laki, bukan perempuan, tapi knowledge yang menentukan,” ujar Komaruddin.
1. Pendidikan dorong perempuan Indonesia duduki posisi strategis dan berpengaruh
Ia menilai, kemajuan pendidikan telah mendorong semakin banyak perempuan Indonesia menduduki posisi strategis dan berpengaruh di berbagai bidang.
"Saya melihat di Indonesia itu banyak sekali perempuan-perempuan yang punya posisi yang luar biasa," ujarnya.
2. Minangkabau sebagai salah satu wilayah yang lebih awal mengalami pemerataan pendidikan
Dalam perspektif historis, Komaruddin menyoroti peran penting perempuan Minangkabau dalam lahirnya pemikiran modern dan progresif di Indonesia. Ia menyebut, Minangkabau sebagai salah satu wilayah yang lebih awal mengalami pemerataan pendidikan dibandingkan daerah lain pada awal abad ke-20.
“Di Minang itu relatif merata. Pemikiran modern justru banyak datang dari sana. Karena lebih dulu menggunakan bahasa Indonesia dan Belanda, penguasaan ilmu pengetahuan berkembang lebih awal,” katanya.
3. Roehana Koeddoes tokoh perempuan pelopor pendidikan dan pers
Komaruddin mencontohkan sosok Roehana Koeddoes, tokoh perempuan pelopor pendidikan dan pers, yang berasal dari Koto Gadang, Sumatra Barat. Dia tercatat sebagai salah satu pahlawan nasional, sejajar dengan tokoh-tokoh besar seperti Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir, yang juga merupakan saudaranya.
“Di Koto Gadang ada tiga pahlawan nasional: Agus Salim, Sjahrir, dan Bu Roehana. Itu luar biasa. Ini menunjukkan sejak awal perempuan sudah punya peran penting dalam membentuk pemikiran kebangsaan,” ujarnya.

















