Khotbah Idul Fitri Istiqlal: Bahas MBG hingga Perdamaian Dunia

- Khotbah Idul Fitri di Masjid Istiqlal menekankan pentingnya menjaga persatuan dan keharmonisan bangsa melalui nilai keimanan, kejujuran, amanah, serta kepedulian sosial di tengah keberagaman Indonesia.
- Prof. Noorhadi Hasan mengapresiasi program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, pemberantasan korupsi, dan penguatan ekonomi rakyat sebagai langkah nyata menuju kesejahteraan dan keadilan sosial.
- Dalam konteks global, khotbah menyoroti komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia dengan dukungan konsisten bagi perjuangan rakyat Palestina melalui diplomasi dan partisipasi internasional.
Jakarta, IDN Times - Salat Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Sabtu (21/3/2026) pagi berlangsung khidmat. Tepat pukul 07.00 WIB, ribuan jemaah mengikuti pelaksanaan salat yang menjadi momentum perayaan hari besar umat Islam tersebut.
Salat Idul Fitri dipimpin oleh Imam Dr. KH. Ahmad Husni Ismail. Sementara itu, khotbah disampaikan oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhadi Hasan.
Dalam khotbahnya, Noorhadi menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia. Ia mengangkat pesan dari Surat Al-Hujurat Ayat 13 sebagai landasan utama.
Menurutnya, keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan ruang untuk memperkuat kerja sama dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.
1. Keragaman sebagai kekuatan bangsa

Noorhadi mengingatkan, nilai-nilai keimanan harus menjadi fondasi dalam menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa. Ia menekankan pentingnya kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial dalam merawat persatuan.
“Karena itu, kehidupan kebangsaan yang rukun dan harmonis perlu terus kita rawat dengan nilai keimanan, kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial,” katanya dalam khotbah.
Pesan tersebut disampaikan dalam konteks Indonesia sebagai negara yang majemuk, dengan beragam suku, agama, dan budaya. Dalam kondisi tersebut, persatuan dinilai menjadi kunci utama menjaga stabilitas sosial.
Ia menegaskan, nilai-nilai tersebut perlu terus dijaga agar keberagaman dapat menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.
2. Soroti program pemerintah untuk kesejahteraan

Dalam khotbahnya, Noorhadi juga mengaitkan pesan keagamaan dengan kondisi kehidupan berbangsa saat ini. Ia menyinggung sejumlah program pemerintah yang dinilai berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Program-program tersebut mencakup peningkatan kerukunan, pemberantasan korupsi, hingga penguatan ekonomi rakyat. Selain itu, ia juga menyinggung peningkatan kualitas pendidikan serta pemenuhan gizi masyarakat.
“Program-program prioritas yang dijalankan pemerintah, seperti peningkatan kerukunan, pemberantasan korupsi, peningkatan mutu dan sarana-prasarana pendidikan, penguatan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Merah Putih, dan pemenuhan gizi masyarakat melalui Makan Bergizi Gratis, merupakan langkah-langkah penting yang perlu diapresiasi demi mewujudkan bangsa yang lebih adil, sehat, dan sejahtera,” tutur Noorhadi.
Ia menilai langkah-langkah tersebut sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih sejahtera secara menyeluruh.
3. Komitmen Indonesia untuk perdamaian dunia

Selain isu domestik, Noorhadi juga menyinggung peran Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Salah satu yang disorot adalah komitmen terhadap perjuangan rakyat Palestina. Ia menyatakan, Indonesia secara konsisten menunjukkan dukungan melalui berbagai langkah diplomatik di tingkat internasional.
“Termasuk komitmen yang konsisten dalam memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Upaya ini tercermin dalam berbagai inisiatif diplomatik dan partisipasi aktif Indonesia dalam forum-forum perdamaian internasional,” tutupnya.
Pesan tersebut menjadi penutup khotbah yang tidak hanya menyoroti kehidupan nasional, tetapi juga peran Indonesia dalam konteks global.

















