Rubio mengatakan, kesepakatan damai antara Israel dan Lebanon sebetulnya bisa segera diraih. Masalahnya, Hizbullah kerap membuat onar dengan menyerang Israel di tengah gencatan senjata yang sedang berlangsung. Inilah yang lantas membuat proses perdamaian kedua negara berjalan alot.
AS Sebut Hizbullah Hambat Perdamaian Israel dan Lebanon

- Menlu AS Marco Rubio menilai Hizbullah menjadi penghambat utama perdamaian Israel-Lebanon karena terus melakukan serangan meski ada gencatan senjata.
- Rubio mendesak Pemerintah Lebanon melucuti dan membubarkan Hizbullah agar proses perdamaian bisa segera tercapai.
- Meski ada gencatan senjata, Israel masih menyerang Lebanon selatan untuk membasmi Hizbullah, sementara sebagian pejabat Lebanon justru mendukung kelompok tersebut.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat menyebut milisi Hizbullah menjadi penghambat proses perdamaian antara Israel dan Lebanon. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, kepada awak media di Gedung Putih, Washington D.C., pada Selasa (5/5/2026).
"Secara umum, saya pikir kesepakatan perdamaian antara Lebanon dan Israel sangat mungkin tercapai dan memang seharusnya demikian. Masalahnya bukanlah Israel atau Lebanon, melainkan Hizbullah itu sendiri," kata Rubio, seperti dilansir Jerusalem Post.
1. Rubio minta Pemerintah Lebanon atasi Hizbullah

Oleh karena itu, Rubio mendesak Pemerintah Lebanon untuk bertindak tegas terhadap Hizbullah. Ia meminta Lebanon untuk melucuti senjata dan membubarkan Hizbullah agar mereka tidak lagi menyerang Israel.
Menurut Rubio, Lebanon punya kuasa dan kekuatan penuh untuk mengatasi Hizbullah. Sebab, kata dia, Hizbullah hanyalah milisi biasa yang sudah pasti tunduk terhadap pemerintah. Jika Lebanon bisa menghentikan serangan Hizbullah ke Israel, maka kesepakatan damai bisa segera diraih.
"Yang harus terjadi di Lebanon, yang ingin dilihat semua orang, adalah adanya Pemerintahan Lebanon yang mampu menindak Hezbollah dan membubarkan Hizbullah," jelas Rubio.
2. Sebagian pejabat Lebanon mendukung Hizbullah

Namun, Lebanon sebetulnya juga tidak bisa bersikap tegas terhadap Hizbullah. Sebab, sejumlah pejabat mereka rupanya menjadi pendukung Hizbullah. Salah satu contoh pejabat Lebanon yang setia kepada Hizbullah adalah Nabih Berri.
Berri sendiri merupakan salah satu politisi senior Lebanon yang juga menjabat sebagai Ketua Parlemen. Sejak Israel menyerang Lebanon pada Maret lalu, ia sudah vokal mendukung Hizbullah untuk melakukan serangan balasan.
Pada Senin (4/5/2026), Berri bahkan dengan tegas menolak negosiasi damai antara Israel dan Lebanon. Ia mengatakan, negosiasi kedua negara hanya boleh berlanjut ketika Israel sudah menghentikan serangan terhadap Lebanon.
3. Israel masih menyerang Lebanon meski sudah ada gencatan senjata

Saat ini, Israel masih menyerang Lebanon, tepatnya di wilayah Lebanon selatan. Mereka menyerang wilayah tersebut untuk membasmi Hizbullah. Sebab, milisi tersebut dilaporkan bermarkas di sana. Serangan Israel di Lebanon selatan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Gencatan senjata Israel dan Lebanon sendiri kini sudah diperpanjang selama tiga pekan. Kesepakatan ini diraih usai Israel dan Lebanon melakukan negosiasi langsung di AS pada 24 April lalu.
“Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga minggu,” tulis Presiden AS, Donald Trump, di Truth Social, seperti dilansir CNBC.
Oleh karena itu, Trump meminta Hizbullah untuk mematuhi gencatan senjata yang sudah disepakati Israel dan Lebanon. Ia juga berjanji akan melindungi Lebanon dari ancaman Hizbullah yang kerap kali membuat onar.



















