Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

KontraS: Telusuri Komando Penembakan Gas Air Mata Kerusuhan di Gresik

KontraS: Telusuri Komando Penembakan Gas Air Mata Kerusuhan di Gresik
Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu malam (1/10/2022). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), menyoroti kerusuhan pascalaga Liga 2 antara Gresik United vs Deltras Sidoarjo yang melibatkan suporter dan kepolisian.

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengatakan, perlu ada penelusuran rantai komando penggunaan gas air mata dalam peristiwa ini. Siapa yang mengarahkan penggunaan gas air mata dan siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban.

“Dalam konteks polisi, mereka juga tidak bergerak secara organik, pasti ada rantai komando dan perintah yang diketahui atasan. Entah atasan mengetahui secara tidak langsung. Artinya, sudah ada persetujuan. Misalnya untuk luncuran pasukan dalam konteks pengamanan di stadion atau mengetahui secara langsung dan memberikan instruksi. Nah dua tindakan ini juga mesti dimintai pertanggungjawaban,” kata dia kepada IDN Times,  Senin (20/11/2023).

1. Pihak tertinggi di institusi kepolisian harus diperiksa

IDN Times/Ardiansyah Fajar
IDN Times/Ardiansyah Fajar

Dimas mengatakan, tindakan yang sifatnya langsung dan tak langsung tetap harus dimintai pertanggungjawaban kepada atasan atau yang memberikan komando.

Nantinya, kata dia, penegakan hukum tentang penggunaan gas air mata ini tak bisa selesai dari aparat polisi yang menembakan gas air mata saja, tetapi juga harus ada dievaluasi dari atasannya.

“Biasanya kan kalau dalam konteks daerah itu ada kerja sama dengan kapolres, ada kapolsek, lalu diketahui juga oleh Polda Jawa Timu. Jadi pihak yang paling tinggi dalam satu kewenangan di daerah, terutama di institusi kepolisian itu semua harus diperiksa. Tujuannya supaya memperlihatkan ada struktur komunikasi dalam konteks komando,” ujarnya.

2. Perlu evaluasi eksternal

Gresik United vs Deltras Sidoarjo Rusuh (Dok.istimewa)
Gresik United vs Deltras Sidoarjo Rusuh (Dok.istimewa)

KontraS pun mendorong adanya evaluasi eksternal, salah satunya dari Komisi Kepolisian Nasional Republik Indonesia (Kompolnas). Hal itu karena penggunaan gas air mata sudah berulang kali terjadi di berbagai peristiwa.

“Kami mencatat, dalam tahun ini saja itu sudah ada lebih dari lima kali gitu ya di beberapa daerah dengan latar belakang peristiwa yang berbeda,” kata dia.

3. Penggunaan gas air mata tak terkontrol

Massa yang dipukul mundur terus melakukan perlawanan, berbalas dengan polisi yang mengobral peluru gas air mata. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Massa yang dipukul mundur terus melakukan perlawanan, berbalas dengan polisi yang mengobral peluru gas air mata. (IDN Times/Prayugo Utomo)

Dimas mengatakan, penggunaan gas air mata di Indonesia saat ini terkesan eksesif atau melampaui kebiasaan karena tidak disertai dengan kontrol.

“Sampai kapan penggunaan gas air mata ini tidak dikontrol, penggunaan gas air mata ini kemudian menelan korban jiwa gitu ya dan ini juga harus menjadi catatan dari kepolisian,” ujarnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Lia Hutasoit
EditorLia Hutasoit

Related Articles

See More

Ukraina Serang Pabrik Industri Militer Rusia, 11 Orang Terluka

29 Jun 2026, 05:09 WIBNews