"Sebagai pencegahan, yang pertama saat masuk, kami cek kesehatan mereka. Itu mencakup kondisi fisik dan tensi. Lalu, kami rekap, termasuk data-data soal riwayat penyakit kronis atau sakit berat," katanya.
TNI Akui Ada Hukuman Fisik bagi Peserta Latsar Kopdes yang Melanggar

- TNI mengakui adanya hukuman fisik ringan bagi peserta Latsar SPPI yang melanggar aturan, seperti push up, dengan tujuan menanamkan disiplin tanpa menyamakan dengan hukuman prajurit.
- Rutinitas peserta dimulai sejak pukul 04.30 hingga 21.30 WIB, mencakup kegiatan fisik, apel, materi kelas, serta pengasuhan untuk membentuk karakter dan semangat kebersamaan.
- Brigif 1 Marinir memperketat pemeriksaan kesehatan peserta setelah empat kematian dilaporkan, memisahkan mereka yang memiliki riwayat penyakit dari aktivitas fisik berat demi mencegah insiden serupa.
Jakarta, IDN Times - TNI mengakui turut memberlakukan hukuman fisik kepada peserta Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) dalam latihan dasar (latsar) militer. Hukuman fisik diberikan kepada peserta yang kedapatan melanggar beberapa peraturan selama pendidikan. Contohnya, hukuman fisik diberikan jika peserta terlambat mengikuti apel pagi.
"Contoh saat apel pagi, mereka terlambat mungkin karena ketiduran dan sebagainya, kami berikan hukuman push up 10 atau 15 kali," kata Komandan Batalyon Latihan SPPI Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, ketika dikonfirmasi Jumat (26/6/2026).
Dia mengatakan, hukuman fisik diberlakukan agar para peserta memiliki jiwa disiplin yang tinggi dan taat peraturan. Dia berharap para peserta bisa lebih tertib ketika mengikuti latsar militer.
1. Hukuman fisik yang diberikan diklaim tak sama dengan hukuman bagi prajurit

Contoh lainnya adalah jika peserta tak ikut makan bersama. Dia menjelaskan, hal itu masuk pelanggaran karena makan merupakan aktivitas yang wajib dilakukan demi menjaga kesehatan fisik peserta.
"Kami juga memberlakukan hukuman secara kolektif, contohnya tidak makan. Karena makan adalah untuk meningkatkan kemampuan kita. Kalau tidak makan atau tak bersama-sama yang lain, maka kami beri hukuman supaya besok tidak mengulang lagi," kata dia.
Meski begitu, ujar dia, hukuman yang diberikan kepada para peserta tak sama dengan hukuman bagi prajurit TNI. Hukuman fisik, kata Agus, menyesuaikan kemampuan fisik peserta.
Selain hukuman, pelatih di latsar militer juga memberikan reward atau penghargaan bagi peserta yang berprestasi selama mengikuti pendidikan. Tujuannya agar peserta termotivasi dan terus semangat menjalani latsar militer.
Meski sudah ada korban yang jatuh di satuan pendidikan lain, tetapi Agus menyebut seluruh rangkaian latsar militer masih berjalan dengan aman dan kondusif.
2. Rutinitas peserta latsar militer sudah dimulai sejak subuh hingga malam hari

Agus juga menjelaskan rangkaian kegiatan pelatihan dasar militer yang dilakukan oleh peserta SPPI di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan. Kegiatan sehari-hari dimulai pukul 04.30 WIB dan diakhiri 21.30 WIB.
"Kami bangunkan siswanya, kemudian laksanakan ibadah salat subuh. Selanjutnya, kami lanjutkan kegiatan olahraga, pembinaan fisik, dan dilanjutkan dengan makan pagi. Setelah makan pagi, lalu apel pagi. Kemudian, dilanjutkan dengan kegiatan baris-berbaris PBB," kata Agus.
Setelah itu, para peserta masuk ke dalam kelas untuk mengikuti materi. Sesi di dalam kelas berlangsung hingga sore hari. Kegiatan dilanjutkan dengan pengasuhan oleh para pelatih. Setelah pengasuhan kemudian dilanjutkan salat dan makan siang. Pengasuhan dilanjutkan kembali hingga pukul 21.30 WIB.
"Pengasuhan ini pemberian bekal. Salah satunya pengenalan lingkungan, etika selama di sini, hingga sikap PBB. Kami juga ajari yel-yel supaya mereka juga punya semangat untuk menyongsong kegiatan sehari-harinya," kata dia.
3. Brigif 1 Marinir menerapkan pengawasan kesehatan para peserta yang ketat

Agus pun mengakui sudah mendengar adanya empat peserta SPPI yang meninggal saat mengikuti latihan dasar militer. Terbaru, peserta tersebut meninggal pada Jumat dini hari.
Dia pun menempuh beberapa upaya pencegahan agar peristiwa serupa tidak terjadi. Salah satunya dengan memperketat pengecekan kondisi kesehatan para peserta.
Dia mengatakan, yang memiliki riwayat penyakit akan dipisahkan di tingkat peleton dan kompi supaya kegiatan-kegiatan di lapangan yang terkait fisik, tidak diikutkan.
"Namun, setiap kegiatan seperti pembelajaran kelas tetap kami ikutkan karena itu ada program yang harus diterima seluruhnya," ujar dia.
Pelatihan dasar militer itu harus dilewati oleh peserta SPPI selama 30 hari. Prosesnya sudah dimulai serentak pada Selasa, 16 Juni 2026 dan berakhir pada pertengahan Juli 2026.















