SBY Lebih Sering Pimpin Rapat di Istana, Urusan Partai di Cikeas
- SBY lebih sering memimpin rapat pemerintahan di kompleks Istana Kepresidenan karena tinggal di sana, sehingga aktivitas kenegaraan berjalan efisien tanpa perlu berpindah lokasi.
- Agenda Partai Demokrat biasanya dibahas di kediaman SBY di Cikeas pada akhir pekan, sebagai bentuk pemisahan antara urusan negara dan kepentingan partai.
- SBY memberi ruang bagi menteri untuk berbeda pendapat dalam rapat kabinet, namun setelah keputusan presiden ditetapkan, seluruh jajaran wajib mengikuti satu garis kebijakan.
Jakarta, IDN Times – Mantan Juru Bicara Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Andi Mallarangeng, mengungkapkan gaya kepemimpinan SBY saat memimpin pemerintahan selama dua periode. Menurutnya, sebagian besar rapat pemerintahan digelar di kompleks Istana Kepresidenan, karena SBY memang tinggal di Istana selama menjabat sebagai presiden.
Sementara, agenda yang berkaitan dengan Partai Demokrat justru lebih sering dilakukan di kediaman pribadi SBY di Cikeas, Bogor, terutama pada akhir pekan. Pemisahan lokasi itu dilakukan, agar urusan negara dan kepentingan partai tetap berjalan sesuai porsinya.
1. Mayoritas rapat pemerintahan digelar di Istana

Andi menjelaskan, aktivitas harian Presiden SBY hampir seluruhnya berlangsung di Istana Kepresidenan. Mulai dari rapat kabinet paripurna, rapat terbatas, hingga pekerjaan sehari-hari dilakukan di lokasi yang sama, karena kantor dan kediaman presiden berada dalam satu kawasan.
"Jadi memang, kalau Pak SBY karena tinggal di Istana, hampir semuanya dilakukan di Istana. Rapat-rapat, baik rapat, rapat paripurna maupun rapat-rapat terbatas, tinggal di Istana, kantornya juga di Istana. Jadi tinggal jalan kaki kan, kediaman di Istana Negara, Istana Merdeka, lalu kemudian tinggal jalan ke kantor presiden di situ," kata Andi kepada IDN Times, Jumat (26/6/2025).
Andi menjelaskan situasi itu membuat rapat pemerintahan lebih efektif, karena presiden tidak perlu berpindah lokasi untuk menjalankan tugas negara.
"Ya di Istana, di Istana karena memang tinggalnya di Istana. Kantornya juga di situ. Jadi, cuma kalau weekend di Cikeas," ujarnya.
Meski demikian, apabila terjadi persoalan mendesak saat akhir pekan, para menteri tetap dipanggil ke Cikeas untuk mengikuti rapat bersama presiden.
"Kalau ada masalah-masalah penting, ya menteri-menteri dipanggil datang ke Cikeas. Tetapi karena beliau tinggalnya di Istana, kalau sehari-hari ya di Istana," ucap Andi.
2. Urusan Partai Demokrat dibahas di Cikeas saat akhir pekan

Menurut Andi, SBY berupaya memisahkan agenda pemerintahan dengan aktivitas politik kepartaian. Karena itu, pembahasan terkait Partai Demokrat lebih banyak dilakukan di Cikeas, terutama pada hari libur.
"Kalau Pak SBY, kalau ada rapat-rapat partai, kalau ada tentang partailah, segala macam beliau lebih senang kalau itu di tidak di Istana. Artinya beliau di Cikeas, makanya kalau weekend kan barulah kemudian kita partai-partai itu merapat," kata dia.
Andi mengatakan, meski ketika itu SBY belum menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, ia tetap memiliki tanggung jawab sebagai Ketua Dewan Pembina, sehingga berbagai urusan partai tetap dibahas secara rutin.
"Urusan partai diurus biasanya di weekend. Walaupun beliau bukan ketua umum, terakhir-terakhir aja dia jadi ketua umum. Tetapi kan beliau kan sebagai Ketua Dewan Pembina dan sebagainya. Nah, ada urusan-urusan partai diurus pada waktu weekend, itulah di Cikeas," ujarnya.
Namun, ia menegaskan, jika ada persoalan kenegaraan yang mendesak saat SBY berada di Cikeas, rapat kabinet tetap bisa digelar di sana.
"Tetapi namanya urusan negara, tiba-tiba ada ada masalah ini, ada masalah itu, ya gak mungkin menunggu. Menteri-menteri yang terkait bisa dipanggil kalau bisa dipanggil ke Cikeas," katanya.
3. Perbedaan pendapat dalam rapat jadi hal yang wajar

Andi juga mengungkapkan gaya kepemimpinan SBY dalam mengambil keputusan. Menurutnya, setiap menteri diberi ruang untuk menyampaikan pandangan, bahkan berbeda pendapat selama rapat kabinet berlangsung.
"Silakan berbeda pendapat di dalam rapat itu. Tapi kalau presiden sudah memberikan arahan, semuanya ikut dalam satu garis dengan presiden," kata Andi.
Andi menjelaskan, setiap kebijakan strategis selalu dibahas terlebih dahulu melalui rapat terbatas, sebelum diputuskan oleh presiden.
"Nah, begitu sudah diambil keputusan, garisnya sudah jelas, maka tidak ada, tidak ada apa namanya menteri-menteri bersilang pendapat di media itu nggak mungkin kalau zaman Pak SBY. Silang pendapat hanya di rapat kabinet. Jadi publik tidak bingung karena arahannya sudah jelas," ujarnya.
Selain itu, Andi mengatakan, SBY tetap memimpin rapat di mana pun berada, termasuk saat melakukan kunjungan kerja atau menangani bencana di daerah.
"Bahkan kalau Pak SBY kalau ke luar negeri, kalau ke daerah bisa rapat di atas pesawat, bisa bisa rapat di atas pesawat, bisa rapat di mana saja pada waktu itu. Kalau lagi di daerah, waktu tsunami Aceh kan rapatnya ya di Banda Aceh," kata Andi.














