Jakarta, IDN Times - Diawali tahun 2016, ajang balap sepeda Banyuwangi BMX Supercross terus mendapat animo yang baik dari para peserta, baik dari dalam maupun luar negeri. Setiap tahun, pesertanya terus meningkat dan bahkan menjadi incaran para rider mancanegara.
Bereputasi Baik, Banyuwangi BMX Supercross Makin Diminati Pembalap

- Banyuwangi BMX Supercross 2026 menarik 331 rider dari dalam dan luar negeri, menunjukkan peningkatan minat sejak pertama kali digelar pada 2016.
- Sirkuit BMX Banyuwangi berstandar internasional Olimpiade dengan lintasan 465 meter dan obstacle menantang, menjadi daya tarik utama bagi pembalap mancanegara.
- Peserta dan keluarga mengapresiasi fasilitas serta suasana Banyuwangi yang mendukung kompetisi sekaligus wisata, memperkuat reputasi daerah sebagai pusat olahraga sepeda BMX.
Seperti tahun ini, sekitar 331 rider dari berbagai provinsi di Indonesia maupun manca negara turut berkompetisi dalam Banyuwangi BMX Supercross 2026 yang digelar 27-28 Juni 2026 di Sirkuit BMX Banyuwangi.
“Ya setiap tahun meningkat, bahkan tahun ini kami sengaja membatasi peserta karena sudah 300 lebih. Mereka tertantang dengan Sirkuit BMX Banyuwangi yang memang sudah standar internasional, dan yang paling penting ini juga masuk kalender federasi balap sepeda dunia (UCI) untuk bisa peroleh poin,” kata Dadang Haris Purnomo, Race Director Banyuwangi BMX Supercross.
1. Sirkuit Banyuwangi dikenal berstandar internasional Olimpiade

Seperti tim dari negara tetangga Singapura yang menurunkan 10 pembalapnya. Mereka mengaku ketertarikan datang ke Banyuwangi setiap tahun karena sirkuit Banyuwangi dikenal berstandar internasional Olimpiade. Sirkuit di Asia yang berstandar olimpiade hanya di Jepang dan Cina.
Sirkuit di Banyuwangi dikenal memiliki karakteristik dan tingkat kesulitan sangat tinggi. Panjang lintasan track 465 meter, serta obstacle 4 high jump. Sirkuit ini juga dilengkapi dua start gate ketinggian 5 dan 8 meter, serta 7 line yang memiliki karakteristik berbeda dan bisa digunakan untuk perlombaan berbagai kelas.
“Treknya menarik, panjang, sangat menantang. Di Singapura tidak seperti ini,” kata Azel, rider Singapura.
“Panjangnya dua kali dari yang ada di Singapura. Capek, tapi sangat menyenangkan. Ini melatih kami bermain di sirkuit standar internasional,” kata Hamzah juga dari Singapura.
2. Tidak banyak negara yang memiliki sirkuit BMX dengan standar UCI

Pelatih Thailand Cycling Association Herve Krebs menegaskan, sirkuit internasional Banyuwangi menjadi salah satu race yang tepat untuk melatih tim-nya lantaran tidak banyak negara yang memiliki sirkuit BMX dengan standar UCI.
“Kami disini untuk menggunakan race nya sebagai tempat latihan karena fokus kami di kejuaraan Nasional dan seagames seperti tradisi biasanya, kita tidak memiliki lebih banyak race jadi ini perlu kami lakukan untuk berlatih,” katanya.
Herve Krebs menyebut, Track pada sirkuit Internasional BMX Supercross Muncar yang panjang menjadi tantangan tersendiri bagi atlet atletnya.
3. Antuasiasme tinggi para pembalap

Hal yang sama juga diungkapkan Citra Mutia dari DKI Jakarta yang ke Banyuwangi bersama keluarganya untuk mendukung putranya, Rafa Thara yang ikut kategori challenge 11-12 tahun.
“Ini tahun ke-3 Rafa ikut di Banyuwangi. Sirkuitnya bagus, jadi favorit anak saya. Selain itu, Banyuwangi vibesnya menyenangkan. Tidak hanya mengantar anak, tapi juga bisa sekalian liburan di sini yang wisatanya bagus-bagus. Makanan juga murah,” kata Citra.
Begitu juga yang disampaikan Imam Maftuh, orang tua rider cilik Aditama Elvan asal Tasikmalaya. Salah satu dorongan kuat untuk ikut di Banyuwangi adalah sirkuitnya yang standar iternasional.
“Anak saya melihat sirkuit Muncar yang treknya panjang dan internasional dia langsung minta ikut lomba di Banyuwangi. Keren Banyuwangi, tidak semua tempat di Indonesia punya komitmen membuat fasilitas untuk pengembangan bibit atlet. Salut untuk Banyuwangi, ditambah kondisinya juga mendukung rider berlatih dan bertanding di sini,” kata Imam. (WEB)













