KP2MI Gandeng Bappenas dan Unpad Siapkan Pekerja Migran Terampil

- KP2MI, Bappenas, dan Unpad menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat tata kelola, pelindungan, serta kualitas SDM pekerja migran Indonesia.
- Pemerintah membalik strategi penempatan: mengamankan kebutuhan pasar luar negeri terlebih dahulu, lalu menyiapkan pelatihan kompetensi; lebih dari 300 ribu lowongan tersedia, tetapi terisi Indonesia kurang 30 persen.
- Pemerintah mendorong pekerja migran terampil, Migran Aman, dan brain circulation; Unpad akan mendukung pendidikan, sertifikasi, riset, serta sistem data pekerja migran.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memperkuat upaya transformasi tata kelola pekerja migran melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas dan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Kerja sama tersebut diteken di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (28/7/2026), sebagai bagian dari penguatan pelindungan sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia pekerja migran Indonesia.
Kolaborasi lintas sektor ini diarahkan untuk membangun ekosistem pekerja migran yang lebih kompeten, terlindungi, dan mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja global. Pemerintah juga menegaskan perubahan strategi penyiapan tenaga kerja migran dengan mengedepankan peningkatan kompetensi sesuai permintaan pasar internasional.
1. KP2MI ubah strategi penyiapan pekerja migran berdasarkan kebutuhan pasar

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, mengatakan pemerintah kini menerapkan pendekatan baru dalam menyiapkan pekerja migran. Jika sebelumnya pelatihan dilakukan lebih dulu sebelum mencari peluang kerja, kini pemerintah akan memastikan kebutuhan tenaga kerja di luar negeri terlebih dahulu, baru kemudian menyiapkan kompetensi yang dibutuhkan.
Menurut Mukhtarudin, langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja global dan kemampuan Indonesia dalam memenuhinya.
Saat ini tersedia lebih dari 300 ribu lowongan kerja formal dan profesional di luar negeri, namun Indonesia baru mampu mengisi kurang dari 30 persen karena masih terjadi ketidaksesuaian kompetensi.
“Paradigmanya kita balik. Bukan latih, kompeten, baru cari penempatan. Tetapi kita amankan dulu pasarnya di luar negeri, baru kita breakdown kebutuhan kompetensinya ke bawah, dilatih di mana dan seperti apa,” ujar Mukhtarudin.
Ia menambahkan pemerintah akan memanfaatkan infrastruktur pendidikan yang telah tersedia, mulai dari perguruan tinggi, sekolah vokasi, hingga SMK di berbagai kementerian dan lembaga, tanpa perlu membangun institusi pendidikan baru.
2. Pemerintah fokus mencetak pekerja migran terampil dan memperkuat pelindungan

Selain memperkuat kualitas SDM, pemerintah juga menegaskan komitmennya meningkatkan pelindungan pekerja migran dari sebelum keberangkatan hingga kembali ke Indonesia. Bersamaan dengan itu, KP2MI terus mengampanyekan Gerakan Nasional Migran Aman untuk menekan penempatan nonprosedural dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Mukhtarudin mengatakan pemerintah juga mendorong konsep brain circulation, yakni pekerja migran tidak hanya bekerja di luar negeri, tetapi juga kembali membawa pengetahuan, pengalaman, dan kompetensi baru yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan nasional.
“Kita ingin dorong konsep brain circulation. Orang berangkat bekerja ke luar negeri, mendapatkan ilmu, pengalaman, dan kompetensi global. Ketika kembali ke Indonesia, mereka pulang membawa keahlian tinggi untuk menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi dan sosial nasional,” tambah dia.
Senada, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan pemerintah secara bertahap akan mengurangi pengiriman tenaga kerja tidak terampil dan mengarahkan penempatan pada pekerja migran yang memiliki keahlian spesifik agar daya saing Indonesia meningkat di pasar tenaga kerja internasional.
“Kita hadir di sini bukan hanya sekadar membuat langkah baru, tetapi membuat sejarah baru. Pekerja migran adalah bagian penting dari SDM kita yang memerlukan perlindungan menyeluruh mulai dari pelatihan, pendidikan, perlindungan, hingga filosofi kita dalam bekerja,” ujar Rachmat Pambudy.
3. Unpad siap menjadi bagian dari ekosistem penyiapan SDM pekerja migran

Universitas Padjadjaran menyatakan siap berkontribusi dalam pengembangan ekosistem pekerja migran melalui pendidikan, pelatihan, sertifikasi, riset, hingga penguatan sistem data pekerja migran.
Peran perguruan tinggi dinilai penting mengingat Jawa Barat merupakan salah satu daerah asal pekerja migran terbesar di Indonesia.





















