Kurangi Kepadatan di Muzdalifah, PPIH Siapkan Skema Murur Jemaah Haji

- PPIH Arab Saudi menyiapkan skema murur agar jemaah lansia dan berisiko tinggi langsung menuju Mina tanpa mabit di Muzdalifah untuk mengurangi kepadatan dan menjaga kesehatan mereka.
- Petugas berpengalaman disiagakan lebih awal di Arafah dan Mina guna memastikan kelancaran kedatangan jemaah, penempatan tenda, serta pelayanan optimal selama puncak ibadah haji berlangsung.
- Sekitar 300–400 jemaah lansia dan disabilitas akan mengikuti safari wukuf dengan pengawasan kesehatan ketat sejak Indonesia hingga Arab Saudi demi memastikan kesiapan fisik saat puncak haji.
Jakarta, IDN Times - Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mematangkan skema murur untuk jemaah haji Indonesia, menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Melalui skema ini, jemaah berisiko tinggi (risti), lansia, dan pendampingnya akan langsung diberangkatkan menuju Mina tanpa harus turun dan mabit di Muzdalifah.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) sekaligus Wakil Penanggung Jawab II PPIH Arab Saudi, Puji Raharjo, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi kepadatan di Muzdalifah sekaligus melindungi kondisi kesehatan jemaah yang rentan.
"Karena keterbatasan space di Muzdalifah, nanti sebagian jemaah kita yang risiko tinggi, lansia, punya komorbid dan pendampingnya akan langsung kita bawa ke Mina," kata Puji di Makkah, sebagaimana dilansir di laman Kemenhaj, Minggu (17/5/2026).
1. PPIH finalisasi mekanisme pelaksanaan murur maupun tanazul

Puji menjelaskan, jemaah haji yang masuk kategori murur nantinya akan langsung menumpang bus dari Arafah menuju Mina setelah menjalani wukuf. Mereka tidak perlu turun di Muzdalifah maupun menunggu hingga tengah malam (mabit) untuk melanjutkan perjalanan.
"Ini yang mereka tidak harus turun di Muzdalifah, dan tidak harus menunggu tengah malam untuk melewati Muzdalifah," ujarnya.
Sementara, jemaah yang dalam kondisi sehat tetap akan menjalani mabit di Muzdalifah, sebelum diberangkatkan menuju Mina setelah lewat tengah malam.
Puji menyebut saat ini PPIH Arab Saudi bersama Satuan Operasi Armuzna masih memfinalisasi mekanisme teknis, pembagian jemaah, dan SOP pelaksanaan murur maupun tanazul.
PPIH juga terus melakukan koordinasi intensif dengan ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, hingga Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
"Kita berharap semua jemaah bisa mengikuti puncak ibadah haji secara normal, sehat, dan tanpa terkendala hal-hal yang menghambat ibadah," katanya.
Puji menegaskan, kepatuhan jemaah terhadap arahan petugas menjadi faktor penting keberhasilan skema Armuzna tahun ini. Ia berharap persoalan yang pernah terjadi pada musim haji sebelumnya tidak terulang kembali.
"Kita tidak ingin ada lagi jemaah yang kesiangan keluar dari Muzdalifah atau sampai harus berjalan kaki karena kepadatan," ujarnya.
Perlu diketahui, murur adalah pergerakan jemaah haji dari Arafah menuju Mina, jemaah hanya lewat dan melintasi kawasan Muzdalifah menggunakan bus tanpa turun untuk bermalam (mabit).
Sedangkan, tanazul adalah kebijakan kemudahan (rukhsah) bagi jemaah, khususnya lansia dan jemaah berisiko tinggi, yang memungkinkan jemaah tidak perlu mabit di Mina setelah melontar jumrah, melainkan langsung kembali ke hotel di Makkah untuk beristirahat.
2. PPIH berpengalaman disiapkan di Mina

Selain menyiapkan skema murur, PPIH juga akan menempatkan petugas lebih awal di Arafah dan Mina. Sejumlah petugas bahkan disiagakan khusus di Mina, sebelum puncak haji dimulai untuk membantu kedatangan jemaah, dan memastikan mereka dapat menempati tenda dengan tepat. Petugas tersebut kemungkinan tidak akan berhaji karena mengutamakan pelayanan jemaah.
“Ada petugas yang memang kita dedikasikan khusus di Mina supaya jamaah tidak tersesat dan bisa terlayani dengan baik,” kata Puji.
Menurut Puji, sebagian petugas yang ditempatkan di Mina merupakan petugas berpengalaman yang telah beberapa kali berhaji.
3. Sebanyak 300-400 jemaah ikuti safari wukuf

Selain itu, PPIH juga tetap menyiapkan layanan safari wukuf khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas. Jumlah peserta safari wukuf tahun ini direncanakan sekitar 300 hingga 400 orang.
Menurut Puji, jumlah tersebut sudah melalui proses pemeriksaan kesehatan dan pengawasan kondisi jemaah sejak di Indonesia hingga di Arab Saudi yang lebih ketat dari tahun sebelumnya.
Menjelang puncak haji, Puji mengingatkan jemaah agar menjaga kondisi fisik dan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas berat sebelum wukuf di Arafah.
“Haji itu puncaknya di Arafah. Jangan sampai tenaganya habis sebelum waktunya,” pungkasnya.
















