Menag: AI Butuh Pendampingan Spiritual agar Tidak Jadi Bumerang

- Nasaruddin menyebut perkembangan teknologi, termasuk AI, telah melampaui kesiapan masyarakat dalam menerima dampaknya.
- Menyikapi perkembangan AI, Menag siap berkoloaborasiNasaruddin mengakui Kementerian Agama tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan ini.
Jakarta, IDN Times - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menekankan pentingnya pendampingan spiritual di tengah perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Dia mengatakan, masyarakat modern memerlukan kompas spiritual untuk menghadapi era digital ini.
"Kementerian Agama harus siap memberikan panduan spiritual, agar kemajuan teknologi tidak menjadi bumerang bagi kemanusiaan," ujar Nasaruddin di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Senin, (5/01/2026).
Nasaruddin berharap, Kementerian Agama dapat menjadi rujukan dalam memberikan panduan tersebut, terutama dalam menyikapi pesatnya perkembangan AI.
1. Perkembangan AI telah melampaui kesiapan masyarakat

Nasaruddin mengatakan, perkembangan teknologi, termasuk AI, telah melampaui kesiapan masyarakat dalam menerima dampaknya. Menurut dia, Kementerian Agama memiliki peran untuk memberikan panduan agar kemajuan ini tidak menjadi bumerang bagi kemanusiaan.
Dia menegaskan, AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia.
“AI harus ditempatkan sebagai alat, bukan pengganti manusia,” kata Nasaruddin.
2. Menyikapi perkembangan AI, Menag siap berkoloaborasi

Tak hanya itu, Nasaruddin mengakui Kementerian Agama tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan ini. Menurut dia, kolaborasi dengan berbagai pihak, baik instansi pemerintah, swasta, maupun komunitas, diperlukan untuk menyusun pendekatan yang strategis dan sistematis.
Dia mengatakan, para pegawai Kementerian Agama harus terus belajar dan meningkatkan kapasitas agar mampu menjawab pertanyaan masyarakat terkait isu moral dan spiritual di era teknologi. Pembelajaran yang berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga relevansi institusi di tengah perubahan zaman.
3. Tutup hari amal bhakti ke-80 secara sederhana, Menag fokuskan ke bantuan Sumatra

Nasaruddin mengatakan, pada Senin, Kementerian Agama Republik Indonesia menutup seluruh rangkaian acara Hari Amal Bakti setelah berlangsung sekitar dua bulan.
Dia berharap, kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya lingkungan internal Kementerian Agama.
Tak hanya itu, acara tersebut biasanya digelar dengan meriah, tetapi kali ini dilakukan secara sederhana. Menurut Nasaruddin, hal ini merupakan bentuk solidaritas kepada korban bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
"Sumber daya yang kita miliki kita konsentrasikan untuk memberikan bantuan kepada mereka yang terdampak," ucap Nasaruddin.


















