Hubungan Australia-China Memanas Terkait Laut Kuning

- Insiden militer terjadi di Laut Kuning antara helikopter Australia dan China pada 4 Maret 2026, memicu ketegangan diplomatik baru antara kedua negara.
- Australia menuduh manuver berbahaya dari helikopter China, sementara Beijing membantah dan menyebut tindakan mereka sah serta respons atas provokasi Canberra.
- Peristiwa ini menambah daftar gesekan militer berulang antara Australia dan China, meski hubungan ekonomi keduanya sempat menunjukkan perbaikan.
Jakarta, IDN Times - Hubungan diplomatik antara Australia dan China kembali memanas, setelah insiden militer tidak aman dan tidak profesional yang melibatkan helikopter kedua negara. Insiden ini terjadi di atas perairan internasional Laut Kuning pada 4 Maret 2026.
Angkatan Pertahanan Australia (ADF) melaporkan bahwa helikopter Seahawk (MH-60R) miliknya, yang lepas landas dari fregat HMAS Toowoomba, terpaksa melakukan manuver menghindar setelah dicegat secara berbahaya oleh helikopter Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA-N) China, dilansir The Straits Times pada Sabtu (7/3/2026).
1. Kronologi kejadian pertikaian militer Australia-China
Menurut pernyataan resmi Canberra pada 6 Maret 2026, helikopter China menyamai ketinggian pesawat Australia sebelum mendekat dalam jarak yang tidak aman. Selanjutnya, pesawat China tersebut menambah kecepatan dan berputar tajam ke arah helikopter ADF.
Dilaporkan, tidak ada korban luka atau kerusakan dalam insiden tersebut. Namun, Australia mengecam tindakan itu karena membahayakan personelnya.
Australia menegaskan bahwa pasukannya beroperasi sesuai hukum internasional di bawah Operasi Argos, yakni sebuah misi rutin untuk menegakkan sanksi Dewan Keamanan (DK) PBB terhadap Korea Utara.
2. Beijing bantah klaim Canberra

Juru bicara Kementerian Pertahanan China, Jiang Bin, membantah tuduhan ADF. Beijing mengklaim tindakan mereka sah, wajar, dan profesional sebagai respons atas provokasi Canberra. Pihaknya menegaskan bahwa tindakan China sesuai dengan hukum dan praktik internasional.
"Fregat Australia telah berulang kali mengirim helikopter berbasis kapal induk, guna melakukan pengintaian terhadap China di Laut Kuning. Tindakan tersebut membahayakan keamanan nasional China," kata Jiang dalam konferensi pers di Beijing.
"Perlu ditegaskan bahwa resolusi DK PBB tidak pernah mengizinkan negara manapun untuk mengerahkan pasukan militer dan melakukan kegiatan pengawasan di laut," sambungnya, dikutip dari ABC News.
Beijing juga menuduh Canberra memutarbalikkan fakta mengenai insiden tersebut dan meminta Australia berhenti menyebarkan informasi palsu.
3. Pola ketegangan yang berulang antar kedua negara

Inisiden ini bukanlah yang pertama. Australia mencatat serangkaian gesekan militer serupa dengan China dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Oktober 2025, Canberra juga memprotes tindakan jet tempur China yang melepaskan suar di dekat pesawat pengintai Australia di Laut China Selatan. Lalu, penggunaan sonar militer China saat penyelam angkatan Laut Australia berada di dalam air.
Merespons insiden tersebut, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menyatakan telah mengajukan protes diplomatik resmi kepada Beijing. Sementara itu, oposisi Australia menyebut insiden ini sebagai pola perilaku yang disengaja, berbahaya, dan sembrono dari pihak militer China yang berisiko merusak stabilitas kawasan.
Meski hubungan perdagangan kedua negara telah membaik belakangan ini, insiden militer semacam ini terus menimbulkan ketegangan dalam hubungan bilateral.


















