Mendikdasmen: Jembatan Riset dan Kebijakan Pendidikan Masih Terputus

- Abdul Mu'ti menyoroti masih terputusnya hubungan antara hasil riset dan kebijakan pendidikan, sehingga perlu dibangun jembatan kolaborasi yang lebih kuat antara peneliti dan pembuat kebijakan.
- Ia menekankan pentingnya pendekatan co-creation agar penelitian sejak awal bisa diterjemahkan menjadi kebijakan relevan, didukung standar regional, basis data bersama, dan dialog rutin antar pihak.
- Pemerintah berkomitmen memperkuat sistem pendidikan lewat peningkatan tata kelola data, pelatihan guru di bidang teknologi, serta penyediaan fasilitas digital untuk mendukung pembelajaran interaktif.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, menilai hubungan antara hasil penelitian dan kebijakan pendidikan masih belum berjalan optimal.
Menurutnya, masih terdapat kesenjangan antara para peneliti dan pembuat kebijakan yang perlu segera dijembatani.
"Jembatan antara penelitian dan kebijakan sering kali terputus. Para peneliti menerbitkan karya ilmiah yang tidak pernah dibaca oleh pembuat kebijakan. Sebaliknya, pembuat kebijakan mengambil keputusan yang tidak pernah dikaji oleh para peneliti. Kita harus mengubah kondisi ini," ucap Mu'ti di SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
1. Pentingnya kolaborasi

Mu'ti menekankan pentingnya kolaborasi sejak awal antara peneliti dan pembuat kebijakan melalui pendekatan co-creation atau penciptaan bersama.
Menurutnya, kedua pihak harus duduk bersama sejak tahap awal penyusunan penelitian agar hasil kajian dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang relevan dan berdampak.
"Kita masih membutuhkan standar regional, basis data bersama, dan dialog penelitian kebijakan yang dilakukan secara rutin. Itulah tugas utama CPRN (Centre Policy Research Network) yang sesungguhnya," ucapnya.
2. Generasi muda harus siap hadapi tantangan

Selain menyoroti pentingnya kebijakan berbasis riset, Mu'ti juga menyampaikan pesan utama terkait masa depan pendidikan di kawasan Asia Tenggara. Salah satunya adalah pentingnya mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
"Sangat penting bagi kita untuk mempersiapkan generasi muda menjadi talenta yang siap menghadapi masa depan, yakni generasi yang memiliki kompetensi abad ke-21 yang kuat dan budaya belajar sepanjang hayat," katanya.
3. Pemerintah akan perkuat sistem pendidikan

Ia menjelaskan, pemerintah terus memperkuat sistem pendidikan melalui peningkatan tata kelola data, revitalisasi fasilitas sekolah, pelatihan guru di bidang AI, coding, STEM, dan pendidikan karakter, hingga penyediaan Interactive Flat Panels (IFP) dan akses internet untuk mendukung pembelajaran yang lebih interaktif di sekolah.
"Namun, masih diperlukan upaya yang lebih besar untuk memastikan bahwa proses bersekolah benar-benar menghasilkan pembelajaran yang bermakna bagi para siswa," tegasnya.

















