- Aceh-Andaman: Potensi magnitudo 9.2
- Nias-Simeulue: Potensi magnitudo 8.7
- Batu: Potensi magnitudo 7.8
- Mentawai-Siberut: Potensi magnitudo 8.9
- Mentawai-Pagai: Potensi magnitudo 8.9
- Enggano: Potensi magnitudo 8.4
Mengenal Gempa Megathrust dan Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terkena

- BMKG mengonfirmasi gempa bermagnitudo 7,6 di Sulawesi Utara sebagai aktivitas megathrust dengan kedalaman dangkal sekitar 33 km yang berpotensi memicu tsunami.
- Sejumlah wilayah Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua memiliki potensi gempa megathrust dengan magnitudo hingga 9,2 menurut pemetaan BMKG.
- BMKG mengimbau masyarakat untuk memahami langkah evakuasi, membangun rumah tahan gempa, serta mengikuti informasi resmi agar siap menghadapi potensi bencana tanpa terpengaruh hoaks.
Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengklasifikasikan gempa bermagnitudo 7,6 yang melanda Sulawesi Utara pada Kamis (2/4/2026), sebagai aktivitas gempa megathrust.
Penjelasan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, berdasarkan analisis titik pusat gempa (episenter) serta tingkat kedalamannya.
"Kalau melihat kedalamannya cukup dangkal 33 km, kalau kategori megathrust itu kan sampai kedalamannya sekitar puluhan kilometer, ini dangkal dan di laut, dan ini termasuk megathrust ya," kata Rahmat via jumpa pers daring, Kamis.
Diketahui, gempa megathrust merupakan fenomena geologi pada zona subduksi yang dipicu oleh penunjaman satu lempeng tektonik ke bawah lempeng lainnya. Karakteristik utama dari peristiwa ini adalah kekuatan magnitudo yang sangat besar biasanya di atas 8,0 serta potensi tinggi dalam menimbulkan tsunami yang mengancam kawasan pantai.
Belakangan, BMKG kembali mengingatkan masyarakat akan potensi gempa megathrust di sejumlah wilayah di Indonesia. Lantas, apa itu gempa megathrust dan wilayah mana saja yang terancam?
1. Pengertian gempa megathrust dan mengapa kita perlu waspada

Dilansir dari laman Kemendikbud, gempa megathrust adalah jenis gempa bumi berkekuatan sangat besar yang terjadi akibat adanya pergerakan lempeng di zona subduksi, yaitu pertemuan lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua. Sumber lain menyebutkan, tumbukan tersebut yakni antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Dari sinilah istilah gempa megathrust berasal. Gempa ini tidak disebabkan karena aktivitas gunung berapi, namun karena pergerakan lempeng.
Di dalam unggahan akun instagramnya yang dikutip pada Kamis (2/4/2026), BMKG menjelaskan alasan mengapa masyarakat harus waspada terhadap potensi gempa megathrust, terutama di segmen-segmen tertentu yang lama tidak melepaskan energinya. Salah satunya adalah segmen megathrust di Selat Sunda.
Berdasarkan data sejarah, segmen ini terakhir kali melepaskan gempa besar pada tahun 1757. Artinya, sudah lebih dari 260 tahun energi di segmen ini menumpuk.
Kondisi ini dikenal sebagai seismic gap, yaitu wilayah yang secara geologis menyimpan potensi besar karena lama tidak melepaskan energi. Hal serupa juga terjadi di segmen Mentawai-Siberut yang belum aktif kembali sejak gempa tahun 1797. Jadi, meskipun dalam beberapa ratus tahun terakhir belum terjadi gempa di segmen tersebut, potensinya nyata dan bisa terjadi kapan saja.
2. Wilayah Indonesia dengan potensi gempa megathrust

BMKG telah memetakan zona gempa megathrust di Indonesia dan memperkirakan potensi magnitudo maksimal yang dapat terjadi di masing-masing segmen. Berikut daftar wilayah dengan potensi megathrust menurut BMKG.
Sumatra:
Jawa:
- Selat Sunda: Potensi magnitudo 8.7
- Jawa Barat - Jawa Tengah: Potensi magnitudo 8.7
- Jawa Timur: Potensi magnitudo 8.7
Bali & Nusa Tenggara:
- Sumba: Potensi magnitudo 8.5
Sulawesi:
- Sulawesi Utara: Potensi magnitudo 8.5
Maluku dan Papua:
- Papua: Potensi magnitudo 8.7
Filipina: Potensi magnitudo 8.2
3. Imbauan BMKG kepada masyarakat

Tak hanya itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mengenali potensi gempa bumi di lingkungan sekitar masing-masing. Selain itu, pemahaman mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah gempa bumi terjadi menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan.
BMKG juga mendorong setiap individu dan komunitas untuk mempelajari jalur evakuasi, rambu-rambu evakuasi, lokasi titik kumpul, serta memahami dokumen rencana operasi kedaruratan. Hal ini penting agar proses evakuasi dapat berlangsung cepat, tertib, dan aman.
Tidak hanya kesiapan prosedural, masyarakat disarankan untuk membangun rumah atau bangunan sesuai dengan standar konstruksi tahan gempa guna meminimalkan kerusakan dan risiko runtuh saat gempa terjadi.
Sebagai sumber informasi resmi, BMKG meminta publik untuk selalu mengikuti informasi terkini seputar gempa bumi dan kebencanaan hanya melalui kanal-kanal resmi BMKG. Dengan demikian, masyarakat dapat terhindar dari berita palsu (hoaks) yang dapat memicu kepanikan.


















