Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menhut Restorasi 511 Hektare Hutan Tesso Nilo, Jamin Habitat Gajah Aman

Raja Juli, Taman Nasional Tesso Nilo
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ketika meninjau Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Palawan, Riau. (www.instagram.com/btn_tessonilo)
Intinya sih...
  • Menhut Raja Juli apresiasi dukungan masyarakat lewat tagar #SaveTessoNilo. Gelombang solidaritas menjadi energi penting dalam upaya memperbaiki dan memulihkan habitat Taman Nasional Tesso Nilo.
  • Individu gajah liar di Tesso Nilo tersisa 150 ekor. Perambahan hutan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan membuat rumah gajah semakin terjepit, menyebabkan penurunan populasi.
  • Tercatat 23 ekor gajah mati selama 10 tahun terakhir di Taman Nasional Tesso Nilo. Kematian gajah disebabkan oleh beberapa faktor, seperti diracun, dijerat, perburuan liar, dan penyakit.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bakal melakukan restorasi atau pemulihan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Palawan, Riau. Hal itu lantaran taman nasional itu mengalami ancaman yang serius karena area hutannya terus menyusut.

Pernyataan Raja Juli itu disampaikan ketika ia meninjau Taman Nasional Tesso Nilo pada Jumat, 28 November 2025. Restorasi, kata Raja Juli, dilakukan untuk memastikan habitat Gajah Sumatra tidak diganggu.

"Insyaallah (restorasi) dilakukan sesegera mungkin. Pak Wamen sejak tiga minggu kemarin sudah memulai proses restorasi di kawasan Tesso Nilo. Rencananya 511 hektare," ujar Raja Juli di dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (29/11/2025).

Ia juga berkomitmen untuk melakukan restorasi tambahan terhadap sekitar 7.000 hektare lahan di Tesso Nilo. "Insyaallah di area 31 ribu ini dulu yang kita restorasi dan ini jadi fokus utama. Nanti pelan-pelan bisa ke 80 ribu hektare taman nasional seperti yang ada di SK (Surat Keputusan) terakhir," tutur dia.

1. Menhut Raja Juli apresiasi dukungan masyarakat lewat tagar #SaveTessoNilo

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau
Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau (commons.wikimedia.org/A. C. Shapiro)

Lebih lanjut, Raja Juli menyampaikan apresiasi yang mendalam pada publik atas meluasnya dukungan gerakan penyelamatan Taman Nasional Tesso Nilo lewat tagar #SaveTessoNilo. Gelombang solidaritas tersebut, kata Menhut, menjadi energi penting dalam upaya memperbaiki dan memulihkan habitat Taman Nasional Tesso Nilo sebagai salah satu benteng terakhir Gajah Sumatra.

"Dukungan masyarakat di berbagai platform digital telah memperkuat komitmen pemerintah dalam mempercepat proses rehabilitasi di kawasan tersebut. Perlindungan Tesso Nilo bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi agenda penyelamatan bersama yang menghubungkan kepedulian warga, masyarakat lokal dan berbagai pemangku kepentingan," kata Menteri dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.

Raja Juli mengaku, selama ini sudah bekerja keras untuk mengambil alih Tesso Nilo untuk diperbaiki habitatnya. Tetapi, kemudian sempat terjadi kericuhan pada Jumat, 21 November 2025. Ketika itu sekelompok massa mendatangi posko di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo dan mengusir petugas yang sedang berjaga.

Bahkan situasi sempat memanas karena massa sempat membongkar plang, posko dan merusak berbagai perlengkapan di lokasi. "Keberadaan tagar #SaveTessoNilo membuat kami tambah yakin dan semangat untuk mengamankan habitat Gajah Domang dan saudara-saudaranya," tutur dia.

2. Individu gajah liar di Tesso Nilo tersisa 150 ekor

Potret gajah-gajah Sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo, Pelalawan, Riau (tntessonilo.menlhk.go.id)
Potret gajah-gajah Sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo, Pelalawan, Riau (tntessonilo.menlhk.go.id)

Populasi individu gajah liar di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo semakin berkurang. Jumlahnya kini hanya tersisa 150 ekor.

Kepala Balai TNTN Heru Sutmantoro mengatakan, menurunnya populasi gajah Sumatra karena ada perambahan hutan. Masifnya alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, membuat rumah gajah semakin terjepit. 

"Gajah itu butuh hutan primer atau hutan alami. Karena di situ tempat makanan yang beragam. Termasuk obat-obatan untuk dia di hutan alam Tesso Nilo. Jadi kenapa penting (menjaga) Tesso Nilo, karena itu apoteknya saya katakan. Apotek satwa liar ya di Tesso Nilo, karena hutan alaminya masih ada. Makanya perkembangan gajah bagus di sana," ujar Heru pada Selasa, 25 November 2025.

3. Tercatat 23 ekor gajah mati selama 10 tahun terakhir

gajah di Taman Nasional Tesso Nilo
Taman Nasional Tesso Nilo (commons.wikimedia.org/Raiyani Muharramah)

Sementara, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono mengatakan, sejak 2015 hingga 2025, sudah ada 23 ekor gajah yang mati di Taman Nasional Tesso Nilo.

"Terhitung sejak tahun 2015 sampai Juni 2025, kami mencatat ada 23 kasus kematian Gajah Sumatra di TNTN," ujar Supartono pada Juni 2025 lalu.

Ia menambahkan, kematian gajah dapat disebabkan oleh beberapa faktor. "Ada yang diracun, dijerat, perburuan liar dan terkena penyakit," imbuhnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More

Gelar Rakorwil, PSI Riau Targetkan 60 Kursi di Pemilu 2029

29 Nov 2025, 22:00 WIBNews