Ketahanan Pangan hingga Ekonomi Biru Jadi Fokus RI-Madagaskar

- Indonesia dan Madagaskar sepakat memperluas kerja sama strategis mencakup ketahanan pangan, energi bersih, dan ekonomi biru sebagai respons terhadap tantangan perubahan iklim yang memengaruhi produksi pangan.
- Madagaskar menawarkan kolaborasi di sektor potensial seperti pertanian, perikanan, pariwisata, energi terbarukan, serta kawasan industri untuk mendorong investasi dan transfer teknologi bersama Indonesia.
- Kedua negara juga membahas dampak perubahan iklim serta memperkuat kerja sama pendidikan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia Madagaskar dalam semangat kemitraan Selatan-Selatan.
Jakarta, IDN Times - Indonesia dan Madagaskar sepakat memperluas kerja sama di sejumlah sektor strategis yang dinilai memiliki potensi besar bagi kedua negara. Pembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Luar Negeri RI Sugiono dan Menteri Luar Negeri Madagaskar Alice N’Diaye di Jakarta.
Selain membahas hubungan bilateral, kedua menteri juga bertukar pandangan mengenai perkembangan regional dan global, termasuk tantangan perubahan iklim yang berdampak terhadap ketahanan pangan dan pembangunan.
Bagi Indonesia, Madagaskar merupakan salah satu mitra penting di Afrika sekaligus rekan dalam memperkuat kerja sama negara-negara Global South atau Selatan Global. Sementara bagi Madagaskar, Indonesia dinilai sebagai mitra yang memiliki pengalaman dan kapasitas untuk mendukung pembangunan di berbagai sektor.
1. Ketahanan pangan jadi salah satu fokus pembahasan

Sugiono mengatakan, pembahasan kedua negara mencakup berbagai peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas.
“Kami juga membahas ketahanan pangan dan langkah-langkah ke depan yang dapat kami lakukan agar mampu mengamankan produksi pangan kami,” kata Sugiono dalam pernyataan bersama di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Menurut dia, isu tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim yang berdampak pada sektor pertanian dan produksi pangan.
Selain pangan, kedua negara juga membahas peluang kerja sama konkret dalam pengembangan energi bersih dan ekonomi biru.
“Kami membahas kolaborasi konkret dalam inisiatif energi bersih dan ekonomi biru,” ujarnya.
2. Madagaskar tawarkan kerja sama di berbagai sektor potensial

Menlu Madagaskar Alice N’Diaye mengatakan, terdapat sejumlah sektor yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan bersama Indonesia.
“Kami telah mengidentifikasi beberapa sektor dengan potensi kerja sama yang tinggi, termasuk pertanian, agroindustri, perikanan dan ekonomi biru, pertambangan dan sumber daya alam, pariwisata, energi terbarukan, serta kawasan ekonomi khusus dan industri ringan,” kata N’Diaye.
Menurut dia, Madagaskar ingin mendorong investasi, transfer teknologi, dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri melalui kerja sama tersebut.
“Kami ingin lebih mendorong investasi, transfer teknologi, dan peningkatan nilai tambah lokal di sektor-sektor yang menjanjikan ini guna berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dan penciptaan lapangan kerja di kedua negara,” ujarnya.
N’Diaye juga menyebut Indonesia sebagai mitra penting yang memiliki banyak kesamaan kepentingan dengan Madagaskar.
3. Perubahan iklim hingga pendidikan masuk agenda kerja sama

Selain ekonomi, kedua negara juga membahas dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan banyak negara berkembang. Sugiono mengatakan, isu pemanasan global dan perubahan iklim menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian khusus dalam pertemuan tersebut.
“Kami juga membahas dampak pemanasan global dan perubahan iklim terhadap kehidupan kami, terhadap produksi pangan kami, serta cara untuk memitigasi dan mengatasi tantangan yang ditimbulkannya,” kata Sugiono.
Di bidang pendidikan, Indonesia juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia Madagaskar.
“Saya menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk terus mendukung Madagaskar melalui berbagai program dan kami mengundang partisipasi yang lebih besar dari mahasiswa Madagaskar dalam inisiatif-inisiatif tersebut,” ujarnya.
Menurut Sugiono, kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen Indonesia sebagai mitra bagi negara-negara berkembang sekaligus upaya memperkuat kerja sama Selatan-Selatan yang saling menguntungkan.

















