Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pengamat: Reshuffle Kabinet Terbatas Jilid V Didorong Motif Politis

Pengamat: Reshuffle Kabinet Terbatas Jilid V Didorong Motif Politis
Presiden Prabowo Subianto kembali merombak (reshuffle) Kabinet Merah Putih di Istana, Senin (27/4/2025). (Youtube/Sekretariat Presiden)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Agung Baskoro menilai reshuffle kabinet terbatas jilid V oleh Presiden Prabowo lebih didorong motif politis, terlihat dari penunjukan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup tanpa latar belakang relevan.
  • Prabowo disebut belajar dari pengalaman Jokowi dengan tetap merangkul mantan pejabat agar tidak menjadi oposisi, bahkan mengembalikan beberapa wajah lama ke posisi strategis di pemerintahan.
  • Agung memprediksi reshuffle lanjutan akan terjadi, terutama di sektor ekonomi dan program populis seperti Makan Bergizi Gratis, sambil menyoroti perlunya evaluasi transparansi Badan Gizi Nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Direktur Trias Politika, Agung Baskoro, menilai reshuffle terbatas kabinet yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (27/4/2026) lebih condong mengutamakan kepentingan politis dibandingkan demokratis dan yuridis. Salah satu indikator faktor politis condong mendorong Prabowo mengocok ulang kabinet dengan memasukkan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup (LH) menggantikan Hanif Faisol. Padahal, Jumhur tak memiliki rekam jejak di bidang lingkungan sebelumnya.

"Kalau ditanya lebih lanjut, mana yang paling dominan (mendorong reshuffle), dari alasan itu ya alasan politis. Itu sulit dibantah dengan masuknya nama Jumhur Hidayat," ujar Agung ketika dihubungi oleh IDN Times, Selasa (28/4/2026).

Di sisi lain, Agung memandang semangat merangkul semua pihak masih kental dimiliki oleh Prabowo. Pada Pemilu 2024 lalu, Jumhur merupakan salah satu tim sukses pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. Namun, karena memiliki relasi baik dengan Syahganda Nainggolan dan Sufmi Dasco Ahmad, maka hal tersebut menjadi pertimbangan khusus.

"Dengan demikian politik rangkulisme presiden, baik dengan merangkul kawan dan lawan masih dipraktikan," kata dia.

1. Prabowo belajar tak mencoret sepenuhnya individu dari kabinet

Pengamat: Reshuffle Kabinet Terbatas Jilid V Didorong Motif Politis
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO) Hasan Nasbi. (IDN Times/Trio Hamdani)

Menurut Agung, Prabowo belajar dari pendahulunya Presiden ke-7, Joko "Jokowi" Widodo, ketika mengeluarkan seorang individu dari kabinet maka orang tersebut akan menjadi oposisi pada masa selanjutnya. Hal itu sudah terlihat ketika Jokowi mencoret nama Anies Baswedan dan Sudirman Said. Keduanya kemudian sempat berada dalam satu kubu untuk Pemilu 2024.

"Pak Jokowi kan ketika me-reshuffle Anies Baswedan malah menjadi kandidat capres yang kuat. Sudirman Said juga begitu, ketika di-reshuffle, malah jadi lawan. Pak Prabowo saya lihat ingin meminimalisasi dampak itu," kata Agung.

Itu sebabnya meski dicoret dari kabinet, individu tertentu tetap diberi jabatan lain seperti duta besar atau komisaris. Sementara, dalam kasus reshuffle jilid V, dua wajah lama yang sempat berada di luar kabinet kembali dimasukan. Mereka adalah Hasan Nasbi dan Abdul Kadir Karding.

Hasan dipercaya menjadi Penasihat Khusus Presiden di bidang Komunikasi. Sedangkan, Kadir menduduki posisi Kepala Badan Karantina.

2. Nama pejabat tinggi yang dipercaya tak memiliki rekam jejak sesuai jabatan

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat.
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Agung juga menyoroti rekam jejak keenam individu yang digeser di dalam reshuffle terbatas jilid V. Mayoritas tak memiliki rekam jejak atau latar pendidikan sesuai jabatan yang diampu.

Jumhur Hidayat lebih dikenal sebagai aktivis buruh dan pekerja. Namun, didapuk menjadi Menteri Lingkungan Hidup (LH). Begitu pula dengan Hanif Faisol yang merupakan alumni fakultas kehutanan lalu mengurus isu pangan.

"Pak Jumhur itu kan aktivis buruh, jadi seharusnya ditempatkan di Kementerian Ketenagakerjaan atau Kementerian Perlindungan Pekerja Migran. Kok malah ditempatkan di Kementerian Lingkungan? Jadi, kalau menurut saya sih memang harus diakui motif politisnya lebih kuat dibandingkan niat teknokratisnya," kata dia.

Meski begitu, lantaran mereka sudah dipilih oleh Presiden, seharusnya para menteri itu bisa bekerja dengan lebih kreatif. Apalagi tidak ada kaitan dengan latar belakang pendidikan dan rekam jejak seharusnya mereka bisa lebih progresif lantaran tak memiliki beban.

"Caranya dengan mengoptimalkan kinerja birokrasi di Kementerian Lingkungan Hidup dan kementerian lain yang jabatannya sekarang diampu," kata dia.

3. Reshuffle gelombang selanjutnya diprediksi masih akan terjadi

ilustrasi reshuffle (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi reshuffle (IDN Times/Aditya Pratama)

Agung pun memprediksi Prabowo masih akan melakukan pengocokan kabinet ke depannya. Apalagi isu utama yang harus segera diatasi yakni perbaikan ekonomi. Sejumlah pengamat ekonomi bahkan memprediksi Indonesia bisa kembali jatuh ke dalam krisis bila tak segera memperbaiki kondisi perekonomian.

"Jadi, reshuffle kemarin itu semacam mukadimah atau pembukaan. Akan ada reshuffle yang bersifat substantif yang katanya segera digelar yang menyasar bidang ekonomi dan bidang-bidang atau klaster yang mengelola program populis pemerintah, khususnya makan bergizi gratis (MBG)," ujar Agung.

Dia pun mendorong Prabowo agar segera mengevaluasi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sebab meski mengantongi anggaran besar tetapi minim transparansi.

"Kita gak tahu rimbanya dari mana tetapi tiba-tiba ada pengadaan kaus kaki lah, sepeda motor listrik lah, dan nominal anggarannya itu mencapai triliunan. Itu kan yang disoalkan oleh publik tidak ada transparansinya," kata dia.

Ketika ditanyakan apakah Prabowo akan mengganti Kepala BGN Dadan Hindayana lantaran dianggap sukses mendistribusikan MBG dalam waktu singkat, Agung menilai BGN tak boleh bergantung semata-mata pada sosok Dadan semata. Apalagi jumlah penerima manfaat masih banyak yang mengalami keracunan.

"Soal kualitas (MBG) ini membutuhkan seni dan tidak bisa dikompromikan. Harus ada orang yang paham itu. Kalau Pak Dadan agak bermasalah atau belum bisa (menuntaskan permasalahan) ya harus diganti. Kita gak mungkin bergantung ke Pak Dadan mengelola program dengan anggaran sebesar ini," ucap dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Related Articles

See More