Polemik Gapura Gedung Sate, Wakil Ketua DPRD Minta Gubernur Ajak Warga Komunikasi

- Iwan Suryawan mendukung pelibatan para pakar, termasuk dari ITB, untuk memberikan solusi yang terukur dan bertanggung jawab secara keilmuan
- Keterlibatan ini penting untuk mencegah terulangnya polemik serupa di masa depan
Bogor, IDN Times - Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan, mengatakan, polemik pembangunan gapura berbentuk candi di Gedung Sate, Bandung, harus dilihat dari perspektif yang lebih luas dan konstruktif.
Menurut dia, sinergi antara visi pemimpin dan pelibatan publik, terutama dalam konteks bangunan bersejarah sangat penting. Dia pun mengajak semua pihak untuk mengalihkan fokus dari sekadar kontroversi ke upaya menjaga nilai-nilai luhur Gedung Sate.
Dia mengingatkan, ikon pusat pemerintahan Jawa Barat tersebut adalah heritage building yang sangat penting. Dengan demikian, perubahan apa pun harus memperkuat warisan sejarah, bukan sebaliknya.
"Kita paham setiap pemimpin punya selera, punya kehendak yang mungkin niatnya baik, visioner. Tapi mungkin Pak Dedi (Gubernur) kan sangat aktif di media sosial, ajak lah diskusi terbuka masyarakat dalam perencanaan agar perspektifnya dipahami sebelum dimulai," kata Iwan Suryawan, Jumat (28/11/2025).
1. Wajib libatkan pakar

Setiap upaya penataan di kawasan cagar budaya, kata dia, idealnya didahului dengan kajian mendalam yang melibatkan berbagai pihak kompeten.
Iwan pun mendukung penuh pelibatan para pakar, termasuk dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memberikan solusi yang terukur dan bertanggung jawab secara keilmuan. Keterlibatan ini penting untuk mencegah terulangnya polemik serupa di masa depan.
"Struktur baru di kawasan inti Gedung Sate harus tunduk pada kaidah cagar budaya yang ada, terutama dari segi skala, material, dan sense of place," kata dia.
2. Pembangunan humanis

Iwan lantas menyoroti pembangunan di Jawa Barat yang harus memiliki pendekatan lebih humanis dan mempertimbangkan aspek sosiologis masyarakat. Meskipun gapura elemen fisik, kata dia, tetapi memiliki makna simbolis yang besar.
"Pembangunan harus menghormati ruh tempat itu sendiri. Gedung Sate bukan hanya kantor, dia adalah monumen. Setiap tambahan, sekecil apa pun, harusnya memperkuat, bukan malah menenggelamkan aura sejarahnya," kata Iwan.
3. Desakan evaluasi

Iwan mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk segera melakukan evaluasi total. Evaluasi ini tidak hanya berfokus pada teknis pembangunan, tetapi juga pada komunikasi program, terutama yang melibatkan simbol-simbol bersejarah. Hal ini krusial untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi cagar budaya dan penerimaan publik.
"Sinergi ini adalah kunci untuk pembangunan yang berkelanjutan dan berkarakter. Diharapkan, dengan adanya masukan dari para ahli, termasuk arsitek ITB yang disampaikan Dedi Mulyadi, dan pengawasan dari DPRD, solusi terbaik dapat segera ditemukan," ucap dia.

















