Arab Saudi Tawarkan Rute Baru untuk Kirim Minyak, Lewat Mana?

- Arab Saudi membuka opsi pengiriman minyak lewat Pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah Iran menutup Selat Hormuz, namun kapasitas rute ini terbatas dan hanya menyalurkan sebagian kecil pasokan.
- Penutupan Selat Hormuz menyebabkan gangguan pasokan ke Asia, membuat kilang seperti Sinopec di China menurunkan operasi hingga 10 persen dan Jepang memakai cadangan minyak strategisnya.
- Saudi Aramco menyesuaikan strategi ekspor dengan meningkatkan pengiriman dari Yanbu, menawarkan kontrak melalui terminal Laut Merah, serta membuka tender spot untuk menjaga distribusi selama konflik berlangsung.
Jakarta, IDN Times – Arab Saudi membuka pilihan baru bagi pelanggan kontrak minyak jangka panjangnya setelah jalur ekspor utama di Selat Hormuz ditutup Iran. Menurut laporan Bloomberg pada Senin (16/3/2026), pelanggan kini diberi kesempatan menerima sebagian pasokan minyak mentah untuk April melalui Pelabuhan Yanbu yang berada di pesisir barat Laut Merah.
Namun, pembeli yang memilih opsi tersebut hanya memperoleh sebagian kecil dari alokasi bulanan biasanya. Pasalnya, minyak harus dialirkan melalui pipa East-West sepanjang sekitar 1.200 kilometer dengan kapasitas maksimal 5 juta barel per hari, sementara fasilitas terminal muat di Yanbu tak mampu menangani volume sebesar itu.
1. Rute Yanbu membatasi distribusi minyak dibanding jalur Hormuz

Sebelum Selat Hormuz ditutup, Saudi Aramco pada Februari mengekspor sekitar 7,2 juta barel minyak per hari. Sebagian besar volume tersebut diberangkatkan dari dua terminal utama di Teluk Persia sisi timur Arab Saudi, yaitu Ras Tanura dan Juaymah, dilansir dari Hindustan Times.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur paling praktis untuk pengiriman minyak. Kapal tanker cukup bersandar di terminal timur, memuat minyak, lalu berlayar langsung menuju pasar Asia dengan waktu perjalanan serta biaya yang relatif lebih ringan, sementara pengaturan kapal biasanya dilakukan oleh pihak pembeli.
Sebaliknya, pengiriman lewat Yanbu memerlukan proses yang jauh lebih panjang. Minyak harus dipompa melintasi daratan Arab Saudi melalui jaringan pipa sebelum dimuat ke kapal di Laut Merah, kemudian tanker keluar dari wilayah itu dengan memutari Semenanjung Arab dan melanjutkan perjalanan melalui Selat Bab el-Mandeb menuju Terusan Suez atau bahkan mengitari Tanjung Harapan di Afrika sehingga jaraknya menjadi lebih jauh dan biaya pengiriman meningkat.
Karena itulah jalur Yanbu hanya dapat berfungsi sebagai solusi darurat yang bersifat terbatas. Kapasitasnya belum mampu menggantikan sepenuhnya volume besar ekspor yang biasanya melewati Selat Hormuz.
2. Gangguan pasokan minyak menekan operasi kilang di Asia

Dilansir dari Times of India, sebagian besar minyak Arab Saudi dipasarkan melalui kontrak jangka panjang dengan pembeli yang mayoritas berada di Asia. Gangguan pasokan membuat perusahaan penyuling milik negara China, Sinopec, menurunkan tingkat operasi kilangnya hingga 10 persen.
Langkah penyesuaian juga terlihat di Jepang yang mulai memanfaatkan cadangan minyak strategis nasionalnya. Di kawasan Eropa, beberapa penyuling besar melaporkan tak menerima alokasi untuk bulan depan, sedangkan sebagian lainnya hanya memperoleh volume lebih kecil dari kontrak yang telah disepakati.
3. Saudi Aramco menyesuaikan strategi ekspor selama konflik

Konflik yang berlangsung telah memasuki minggu ketiga dan mendorong Saudi Aramco melakukan sejumlah penyesuaian dalam distribusi minyaknya. Perusahaan meningkatkan pengiriman melalui Yanbu, menawarkan volume kontrak dari terminal Laut Merah yang sebelumnya hanya digunakan untuk penjualan spot, serta membuka tender di pasar spot yang jarang dilakukan.
Saat ini hanya minyak jenis Arab Light yang dapat dimuat dari Yanbu. Jika penutupan selat terus berlangsung, pengiriman menuju Asia berpotensi menggunakan skema delivered sehingga Aramco yang menanggung pengaturan serta biaya kapal tanker, berbeda dengan sistem loading standar ketika pembeli menyiapkan kapal sendiri.
Opsi lain tetap mengambil minyak dari terminal di Teluk Persia, tetapi langkah itu berisiko karena pasokan bisa saja tak tersedia selama Selat Hormuz masih ditutup. Iran menyatakan penutupan berlaku bagi kapal Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya, sementara akses bagi pembeli dari negara lain masih belum jelas dalam situasi saat ini.


















