Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Iran Disebut Tangkap 500 Orang Diduga Bocorkan Info Rahasia ke Israel

Iran Disebut Tangkap 500 Orang Diduga Bocorkan Info Rahasia ke Israel
ilustrasi operasi penangkapan (pexels.com/Kindel Media)
Intinya Sih
  • Iran menangkap sekitar 500 orang yang diduga membocorkan informasi rahasia pemerintah ke Israel, meski waktu penangkapan belum diungkap secara resmi oleh pihak kepolisian.
  • Pemerintah Iran menuduh para tersangka sebagai mata-mata Israel dan Amerika Serikat yang dikirim untuk mengumpulkan data militer serta memicu kerusuhan di dalam negeri.
  • Ketegangan antara Iran, AS, dan Israel terus meningkat, sementara Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan kesediaan berdamai jika syarat-syarat Iran dipenuhi, namun ditolak oleh Donald Trump.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Iran dilaporkan telah menangkap 500 orang yang diduga membocorkan informasi rahasia pemerintah kepada Israel. Informasi tersebut disampaikan langsung oleh kepolisian Iran pada Minggu (15/3/2026).

Namun, tidak diketahui kapan 500 orang tersebut ditangkap. Salah satu anggota kepolisian Iran, Ahmadreza Radan, juga tidak memberi informasi detail kepada media mengenai hal tersebut. 

1. Media Iran melaporkan puluhan orang ditangkap pada Minggu

Polisi sedang menangkap seseorang.
ilustrasi penangkapan (pexels.com/Kindel Media)

Kendati begitu, media Iran, Tasnim, melaporkan bahwa puluhan dari total 500 orang yang diduga membocorkan informasi rahasia pemerintah ke Israel ditangkap pada Minggu. Mereka ditangkap di beberapa wilayah yang ada di Iran.

Dalam laporannya, Tasnim menyebut sebanyak 20 orang ditangkap di Iran barat laut. Mereka ditangkap karena diduga membocorkan informasi rahasia milik militer Iran ke Israel.

Di sisi lain, Tasnim juga menyebut ada sekitar 10 orang yang telah ditangkap di Iran timur laut pada hari yang sama. Mereka ditangkap karena diduga menyebarkan informasi rahasia mengenai infrastruktur ekonomi Iran kepada Israel. 

2. Iran menuduh Israel dan Amerika Serikat sengaja mengirim mata-mata

Mata-mata.
ilustrasi mata-mata (unsplash.com/Sergiu Nista)

Menurut pemerintah Iran, 500 orang yang telah ditangkap merupakan mata-mata Israel dan Amerika Serikat (AS). Sebab, menurut Iran, Israel dan AS memang sengaja mengirim mata-mata ke wilayahnya. 

Langkah ini bertujuan agar Israel dan AS bisa mengetahui informasi rahasia milik Iran, terutama soal kekuatan militer. Dengan begitu, Tel Aviv dan Washington bisa dengan mudah mengalahkan Iran dalam peperangan yang kini sedang terjadi. 

"Saat musuh Zionis (Israel) dan AS berupaya menginvasi Iran, mereka secara bersamaan mengaktifkan tentara bayaran dan mata-mata untuk melakukan kerusuhan sebagai langkah selanjutnya," kata Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

3. Perang antara Iran dengan AS-Israel sedang memanas

Ledakan terjadi di tengah kota.
ilustrasi serangan (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Saat ini, perang antara Iran dengan AS dan Israel juga sedang memanas. Sebab, baik Iran, AS, maupun Israel masih saling serang hingga saat ini. 

Iran sendiri sebetulnya sudah bersedia berdamai dengan AS dan Israel. Namun, untuk mencapai hal tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan AS dan Israel harus mematuhi syarat-syarat yang diberikan olehnya. 

“Satu-satunya cara untuk mengakhiri perang ini, yang dipicu oleh rezim Zionis dan AS, adalah dengan mengakui hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi (atas kerusakan yang ditimbulkan akibat perang), dan jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa depan,” tulis Pezeshkian dilansir Al Jazeera.

Namun, Trump enggan mematuhi semua syarat yang diberikan oleh Iran. Sebab, menurutnya, syarat-syarat tersebut tidak menguntungkan semua pihak. “Saat ini, syarat-syarat (yang diberikan oleh Iran) belum bagus,” ujar Trump.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More