Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Korsel Siaga Tinggi, Tiga Wabah Ternak Meluas Serentak

Korsel Siaga Tinggi, Tiga Wabah Ternak Meluas Serentak
Ilustrasi Bendera Korea (freepik.com/pranavkr)
Intinya Sih
  • Pemerintah Korea Selatan menetapkan status siaga tertinggi setelah tiga wabah hewan—flu burung, demam babi Afrika, dan penyakit mulut serta kuku—menyebar serentak di berbagai wilayah.
  • Wabah flu burung memicu pemusnahan massal unggas dan perpanjangan masa karantina, sementara kurangnya disiplin kebersihan peternak memperparah penyebaran penyakit.
  • Demam babi Afrika ditemukan menular lewat bahan pakan ternak, sedangkan penyakit mulut dan kuku pada sapi menyebabkan pembatasan gerak serta kekhawatiran lonjakan harga pangan nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Korea Selatan (Korsel) secara resmi mengumumkan kondisi siaga tertinggi pada Senin (16/3/2026), menyusul munculnya tiga jenis penyakit menular pada hewan ternak yang menyebar secara bersamaan di berbagai wilayah. Kondisi darurat ini melibatkan wabah flu burung yang sangat berbahaya, demam Babi Afrika, serta penyakit mulut dan kuku yang menyerang sapi di seluruh negeri.

Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan telah menetapkan status peringatan ke level paling atas guna merespons situasi yang semakin mengkhawatirkan ini bagi para peternak. Sebagai langkah perlindungan lebih lanjut, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang masa karantina khusus selama satu bulan tambahan yang akan berlaku hingga akhir bulan Maret mendatang.

1. Krisis flu burung yang menyerang peternakan unggas nasional

Wabah flu burung yang sangat menular telah menyebar dengan cepat di berbagai peternakan unggas di Korea Selatan, yang memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan pemusnahan massal guna mencegah penularan yang lebih luas. Hingga saat ini, puluhan peternakan telah melaporkan kasus kematian mendadak pada ayam dan bebek mereka, yang diduga kuat berasal dari kontak dengan burung liar yang bermigrasi melewati semenanjung Korea. Otoritas kesehatan hewan setempat terus melakukan pemeriksaan ketat di titik-titik yang dianggap rawan untuk memastikan tidak ada lagi ternak yang terinfeksi secara sembunyi-sembunyi tanpa terpantau oleh petugas lapangan.

Mengenai pelanggaran aturan kesehatan di lapangan, Direktur Kebijakan Karantina Kementerian Pertanian, Lee Dong-sik, memberikan penjelasan bahwa banyak peternak yang kurang disiplin dalam menjaga kebersihan kandang mereka sehari-hari. Akibat kelalaian ini, penyebaran penyakit menjadi sulit dibendung dan menyebabkan kerugian besar bagi industri telur dan daging ayam di pasar domestik.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan kami terhadap peternakan yang terkena wabah, ditemukan bahwa sebagian besar pengelola tidak mengikuti aturan kebersihan dasar dengan benar, seperti lupa melakukan penyemprotan cairan pembersih atau tidak menggunakan pakaian khusus saat masuk ke area ternak," ujar Lee, dilansir Korea Herald.

Langkah pencegahan kini ditingkatkan dengan melakukan penyemprotan disinfektan secara rutin di jalan-jalan utama yang sering dilewati oleh truk pengangkut hewan ternak di seluruh wilayah. Pemerintah juga meminta masyarakat umum untuk tidak mengunjungi area peternakan atau tempat burung liar berkumpul sementara waktu agar tidak membawa virus masuk ke pemukiman.

Jika penyebaran ini tidak segera dihentikan, para ahli mengkhawatirkan akan terjadi kelangkaan stok telur di supermarket yang dapat menyulitkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

2. Penyebaran demam Babi Afrika melalui bahan baku pakan ternak

Selain masalah pada unggas, industri babi di Korea Selatan juga menghadapi ancaman serius dari demam babi Afrika yang telah menyebabkan banyak ternak mati dalam waktu singkat. Penyakit ini dikenal sangat mematikan bagi babi namun tidak menular ke manusia, meskipun tetap bisa menghancurkan ekonomi para peternak jika tidak segera ditangani dengan prosedur karantina yang ketat. Ribuan babi telah dimusnahkan di beberapa provinsi utama guna memutus rantai penyebaran yang terlihat semakin tidak terkendali di awal tahun ini.

Hal yang paling mengejutkan dalam kasus kali ini adalah ditemukannya jejak virus penyakit tersebut di dalam bahan baku pakan yang seharusnya bersih dari segala macam kuman atau bibit penyakit. Park Jeong-hoon, selaku Direktur Biro Kebijakan Pangan menjelaskan penyebab munculnya virus tersebut dalam pasokan makanan ternak secara terbuka kepada media.

"Ini adalah kejadian pertama di negara kita di mana kuman penyakit ditemukan dalam bahan pakan, dan kami menduga darah babi yang terinfeksi masuk ke dalam proses pembuatan pakan karena pengawasan yang kurang teliti saat proses pemotongan hewan di pabrik," ujar Park, dilansir The Straits Times.

Otoritas karantina kini telah memerintahkan penarikan seluruh produk pakan yang dicurigai mengandung virus tersebut agar tidak dikonsumsi oleh ternak sehat lainnya. Pemeriksaan menyeluruh juga dilakukan terhadap ribuan fasilitas peternakan babi di seluruh penjuru negeri untuk memastikan setiap kandang sudah memiliki sistem perlindungan yang memadai dari gangguan hewan liar. Jika masalah pakan ini tidak segera diselesaikan, harga daging babi di pasar diperkirakan akan terus naik dan semakin mahal untuk dibeli oleh keluarga-keluarga di Korea Selatan.

3. Lonjakan harga daging sapi akibat penyakit mulut dan kuku

Penyakit mulut dan kuku yang menyerang sapi kini melengkapi daftar panjang masalah kesehatan hewan yang sedang dihadapi oleh pemerintah Korea Selatan. Kasus yang ditemukan pada sapi potong kualitas tinggi ini sangat meresahkan karena dapat mengganggu ketersediaan daging sapi nasional yang merupakan salah satu kebutuhan pokok warga. Petugas telah memberlakukan pembatasan gerak bagi kendaraan dan orang-orang yang berada di sekitar area yang terdampak guna mengisolasi virus agar tidak menyebar ke wilayah lain.

Guna memberikan arahan yang jelas kepada para pemilik hewan ternak, Markas Besar Manajemen Bencana Pusat mengeluarkan instruksi resmi yang harus dipatuhi oleh semua pihak tanpa terkecuali.

"Semua peternak wajib menjalankan langkah pencegahan dasar secara disiplin, seperti memberikan vaksin tepat waktu kepada hewan mereka, melakukan pembersihan area kandang setiap pagi dan sore, serta selalu mengganti alas kaki saat masuk ke dalam tempat tinggal ternak agar virus tidak terbawa masuk," kata pihak otoritas.

Langkah ini dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk menjaga agar sapi-sapi yang masih sehat tetap terlindungi dari serangan wabah.

Secara keseluruhan, kemunculan tiga penyakit ini dalam waktu yang bersamaan telah memicu kekhawatiran akan terjadinya kenaikan harga bahan pangan yang cukup tinggi di tingkat pedagang eceran. Pemerintah terus berupaya menstabilkan situasi dengan melakukan pengawasan harga di pasar dan memberikan bantuan teknis bagi para peternak yang harus kehilangan hewan mereka akibat kebijakan pemusnahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More