Pramono: Kemerdekaan Bukan soal Angkat Senjata, Tapi Turunkan Ego

- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaknai kemerdekaan sebagai upaya menurunkan ego, saling mendengar, dan bekerja bersama, bukan lagi perjuangan fisik.
- Pembangunan Jakarta diarahkan memperkuat konektivitas, transportasi publik hingga Kepulauan Seribu, kawasan TOD, serta peningkatan kualitas ruang kota melalui kelanjutan proyek tertunda.
- Pramono menilai kemarau panjang, keterbatasan air, dan sampah memerlukan kolaborasi; kemerdekaan harus diwujudkan lewat tindakan nyata, bukan sekadar perayaan atau wacana.
Jakarta, IDN Times — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menekankan makna kemerdekaan di era saat ini bukan lagi diwujudkan melalui pertempuran fisik dan mengangkat senjata. Menurutnya, kemerdekaan harus dimaknai dengan menurunkan ego, saling mendengar, dan bekerja bersama.
Pramono menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini bersinergi dalam membangun Jakarta, mulai dari DPRD Provinsi DKI Jakarta, Forkopimda, BUMD, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat.
“Kemerdekaan hari ini bukan lagi tentang pertempuran fisik dengan mengangkat senjata, melainkan tentang menurunkan ego untuk saling mendengar, bekerja bersama,” ujar Pramono dalam sambutan di Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Senin (17/8/2026).
1. Pembanguan Jakarta untuk perkuat konektivitas

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin upacara bendera di Balai Kota, Jakarta, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Menurutnya, pembangunan Jakarta terus diarahkan untuk memperkuat konektivitas sekaligus meningkatkan kualitas ruang kota. Pengembangan transportasi publik dari Transjakarta hingga Kepulauan Seribu menjadi salah satu langkah strategis untuk mengakselerasi pembangunan transportasi publik dan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD).
“Kini pembangunan juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas ruang kota dengan melanjutkan pekerjaan yang tertunda,” katanya.
2. Tantangan Jakarta butuh kolaborasi

Pemprov DKI perkuat RDF Rorotan untuk meningkatkan pengolahan sampah dalam kota sekaligus mengurangi dampak operasional terhadap kenyamanan warga sekitar. (Dok. Pemprov DKI Jakarta) Namun, Pramono menegaskan kemajuan sebuah kota tidak hanya dapat dilihat dari pembangunan infrastrukturnya. Kualitas lingkungan dan kehidupan warga juga menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan kota yang berkelanjutan.
Karena itu, dia menilai sejumlah tantangan Jakarta, mulai dari kemarau panjang, keterbatasan air, hingga persoalan sampah, membutuhkan kepedulian dan kolaborasi berbagai pihak.
“Tantangan seperti kemarau panjang, keterbatasan air, dan persoalan sampah membutuhkan kepedulian serta kerja sama pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat,” katanya.
3. Merdeka bukan sorak perayaan

Polisi Militer Wanita mengawal kirab purna Paskibraka dalam rangka HUT ke-81 RI, Jakarta, Minggu (17/8/2026). (Youtube.com/Sekretariat Presiden) Pramono kemudian mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak seharusnya berhenti pada perayaan atau seremonial. Kemerdekaan merupakan amanah yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Merdeka bukanlah sekadar sorak perayaan, melainkan amanah yang menuntut langkah nyata, bukan pula sekadar untaian wacana,” katanya.


















