Profil Abu Janda, Aktivis Media Sosial yang Kerap Viral

- Abu Janda, bernama asli Heddy Setya Permadi, dikenal sebagai aktivis media sosial yang sering memicu pro dan kontra lewat pandangan politik serta isu keberagaman di ruang digital.
- Ia memiliki latar pendidikan internasional di Singapura dan Inggris, berkarier di sektor korporasi sebelum fokus menjadi pegiat digital sejak 2015.
- Namanya kembali viral pada Maret 2026 setelah terlibat debat panas di program televisi nasional hingga diminta keluar dari studio secara langsung.
Jakarta , IDN Times - Nama Permadi Arya atau yang lebih dikenal sebagai Abu Janda hampir tidak pernah absen dari perbincangan publik di Indonesia. Ia dikenal sebagai pegiat media sosial yang aktif menyuarakan pandangan politik dan isu keberagaman di ruang digital.
Di satu sisi, ia memiliki pengaruh cukup besar di media sosial dan kerap tampil dalam diskusi publik. Namun di sisi lain, gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos sering memicu kontroversi serta memancing reaksi pro dan kontra dari masyarakat.
Terbaru, pada Maret 2026, namanya kembali menjadi viral setelah terlibat perdebatan sengit dalam sebuah program bincang-bincang televisi nasional yang berujung pada pengusirannya dari studio. Lantas, siapa sebenarnya sosok Abu Janda? Berikut profil lengkapnya.
1. Lahir di Cianjur dengan nama Heddy Setya Permadi

Abu Janda memiliki nama asli Heddy Setya Permadi. Ia lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 14 Desember 1973. Sebelum dikenal luas sebagai influencer politik di media sosial, ia lebih dulu meniti karier profesional di berbagai sektor industri.
Selama kurun waktu sekitar 1999 hingga 2015, ia pernah bekerja di beberapa bidang seperti perusahaan sekuritas, perbankan swasta, hingga industri pertambangan batu bara. Namanya mulai mencuat di ruang publik sejak masa Pilpres 2019, ketika ia secara terbuka menjadi pendukung presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, sekaligus aktif menyuarakan pandangan politiknya di media sosial.
2. Punya latar belakang pendidikan luar negeri

Di balik gaya bicaranya yang ceplas-ceplos di media sosial, Abu Janda ternyata memiliki latar belakang pendidikan internasional.
Ia menyelesaikan Diploma Ilmu Komputer di Informatics IT School, Singapura pada 1997. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Sarjana Business & Finance di University of Wolverhampton, Inggris, dan lulus pada 1999.
Pendidikan di bidang bisnis dan keuangan tersebut menjadi bekal awal bagi kariernya di dunia korporasi sebelum akhirnya memilih fokus sebagai aktivis digital sekitar tahun 2015.
3. Sempat dikabarkan jadi komisaris anak usaha BUMN

Pada pertengahan 2025, Abu Janda sempat menjadi perbincangan setelah dikabarkan diangkat sebagai komisaris di salah satu anak usaha BUMN jalan tol, yakni perusahaan yang berada di bawah naungan Jasa Marga.
Kabar tersebut menuai pro dan kontra di media sosial. Sebagian netizen mempertanyakan kompetensinya, sementara Abu Janda menanggapi isu tersebut dengan meminta doa agar dapat menjalankan amanah dengan baik jika benar dipercaya mengemban jabatan tersebut.
4. Beberapa kali terseret polemik di media sosial

Sepanjang kiprahnya sebagai pegiat media sosial, Abu Janda juga kerap terlibat polemik akibat pernyataannya yang dianggap menyinggung kelompok tertentu.
Salah satu yang paling ramai adalah kasus cuitan “Islam adalah agama arogan” pada 2021 yang menuai kritik dari berbagai organisasi masyarakat Islam dan membuatnya menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri.
Ia juga pernah dilaporkan terkait dugaan ujaran rasisme terhadap mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Cuitannya saat itu dinilai menyinggung aspek fisik Pigai sehingga memicu kecaman publik.
Selain itu, Abu Janda juga beberapa kali terlibat perdebatan terbuka dengan tokoh agama seperti (Alm) Ustaz Tengku Zulkarnain, Felix Siauw, hingga Ustaz Maheer At-Thuwailibi.
5. Viral setelah Insiden debat di televisi pada Maret 2026

Kontroversi terbaru terjadi pada Maret 2026 ketika Abu Janda hadir dalam sebuah program diskusi televisi bertajuk “Rakyat Bersuara”. Dalam perdebatan mengenai isu geopolitik Timur Tengah, situasi memanas setelah ia terlibat adu argumen dengan seorang akademisi.
Perdebatan yang semakin emosional membuat suasana acara tidak kondusif hingga akhirnya moderator meminta Abu Janda meninggalkan studio meski acara masih berlangsung secara langsung.
Terlepas dari berbagai kontroversinya, Abu Janda tetap menjadi salah satu figur yang cukup berpengaruh di ruang digital Indonesia. Sebagian publik menilai ia sebagai pembela pluralisme, sementara yang lain menganggap gaya komunikasinya terlalu provokatif.


















