Respons Approval Rating Prabowo, Gerindra: Jadi Bahan Introspeksi

- Sebanyak 2-3 persen masyarakat tidak puas dengan kebijakan Prabowo.
- Sebanyak 79,9 persen publik puas dengan kinerja Prabowo.
- Alasan ketidakpuasan terhadap kinerja Prabowo di antaranya bantuan tidak tepat sasaran, belum ada bukti nyata kinerja, program kerja belum berjalan maksimal, dan faktor ekonomi
Jakarta, IDN Times - Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, merespons tingginya approval rating terhadap Presiden Prabowo Subianto yang mencapai 79,9 persen, dalam survei Lembaga Indikator Politik Indonesia. Dasco mengatakan, approval rating menjadi bahan evaluasi sekaligus introspeksi bagi pemerintahan Presiden Prabowo.
"Ya, yang pertama approval rating itu kita anggap sebagai sebuah masukan, juga sebuah evaluasi, juga bahan introspeksi," kata Dasco di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (9/2/2026).
1. Masih ada warga belum puas, keluhkan kebijakan Prabowo

Berdasarkan survei tersebut, masih ada 2-3 persen persen masyarakat yang merasa tidak puas sama sekali. Dasco mengatakan, temuan ini menjadi catatan untuk perbaikan pemerintah.
"Walaupun cuma sekitar 2-3 persen, tapi itu cukup berarti dan penting menurut kami menjadi bahan masukan nantinya," kata dia.
2. Sebanyak 79,9 persen publik puas terhadap Prabowo

Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan mayoritas publik puas terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto, karena dinilai gigih berantas korupsi. Hasil survei memperlihatkan, sebanyak 13 persen responden menyatakan sangat puas; 66,9 persen cukup puas; 17,1 persen kurang puas; 2,2 tidak puas sama sekali; dan 0,8 responden tak menjawab.
"Mayoritas merasa puas dengan kinerja Presiden Prabowo Subianto 79,9 persen," kata Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, dalam jumpa pers, Minggu (8/2/2026).
3. Alasan publik tidak puas terhadap kinerja Prabowo

Indikator Politik Indonesia juga memotret alasan utama kelompok responden yang tidak puas terhadap kinerja Presiden Prabowo. Mereka menilai bantuan tidak tepat sasaran atau kurang merata, dengan persentase 16,2 persen.
“Bantuan itu seperti pisau bermata dua. Ada yang puas karena Presiden Prabowo dianggap sering memberikan bantuan, tapi di kalangan yang tidak puas justru bantuan dianggap tidak tepat sasaran,” kata Burhanuddin.
Responden juga menilai belum ada bukti nyata kinerja Presiden Prabowo (15,8 persen) dan program kerja belum berjalan maksimal (13,7 persen).
Selain itu, faktor ekonomi turut menjadi sorotan, dengan 9,2 persen responden menilai kondisi ekonomi belum stabil atau memburuk, serta 5,8 persen menyebut sulitnya lapangan pekerjaan.
Survei Indikator Politik Indonesia digelar pada 15-21 Januari 2026 dengan melibatkan 1.220 responden yang merupakan WNI minimal berumur 17 tahun. Proses pengambilan data dilakukan melalui wawancara secara langsung dengan tingkat kepercayaannya sebesar 95 persen dengan margin of error sekitar 2,9 persen.















