Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Surabaya Jadi Percontohan Nasional Cegah Sampah ke Laut

Surabaya Jadi Percontohan Nasional Cegah Sampah ke Laut
Kota Surabaya ditunjuk sebagai lokasi perdana pelaksanaan program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution. (dok. Pemkot Surabaya)
Intinya Sih
5W1H
  • Surabaya ditunjuk sebagai kota pertama program kolaborasi Indonesia, UEA, dan UNDP untuk mencegah sampah plastik sungai masuk ke laut melalui pemasangan trash boom di Kali Tebu dan Kali Mrutu.
  • Program ini berhasil mengangkat sekitar satu ton sampah plastik per hari serta mendorong ekonomi sirkular dengan melibatkan warga dalam pemilahan dan penjualan sampah bernilai ekonomis.
  • Inisiatif tersebut menjadi model nasional pengelolaan sampah terpadu yang menekankan edukasi masyarakat dan perubahan perilaku agar daerah lain dapat meniru keberhasilan Surabaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Kota Surabaya ditunjuk sebagai lokasi perdana pelaksanaan program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution, kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), dan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia untuk mencegah sampah plastik dari sungai masuk ke laut.

Program tersebut diperkenalkan melalui kegiatan soft launching yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Surabaya dipilih sebagai kota pertama karena dinilai memiliki komitmen kuat dalam pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran lingkungan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, mengatakan program ini telah dijalankan di Kali Tebu dan Kali Mrutu melalui pemasangan sistem penahan sampah atau trash boom.

1. Sekitar 1 ton sampah plastik berhasil diangkat setiap hari

DSC01006.jpg.jpeg
Kota Surabaya ditunjuk sebagai lokasi perdana pelaksanaan program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution. (dok. Pemkot Surabaya)

Menurut Fikser, implementasi program di dua aliran sungai tersebut telah menunjukkan hasil nyata. Sampah plastik yang sebelumnya terbawa arus sungai menuju laut kini dapat ditahan dan dikumpulkan untuk dikelola lebih lanjut. "Project yang sekarang dijalankan di Kali Tebu dan Kali Mrutu itu sangat berdampak," ujarnya.

Fikser menjelaskan, setiap hari sekitar satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari aliran sungai melalui kolaborasi DLH Surabaya bersama organisasi lingkungan yang terlibat dalam program. "Satu hari, 1 ton sampah plastik yang kemudian diambil oleh teman-teman Ecoton begitupun juga Lohjinawi. Kami fasilitasi tempat bagi teman-teman dua NGO ini," katanya.

Pemkot Surabaya juga memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program, termasuk melalui edukasi kepada masyarakat sekitar agar turut menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke sungai.

2. Dorong ekonomi sirkular dan libatkan warga

FOTOutama.jpeg
Kota Surabaya ditunjuk sebagai lokasi perdana pelaksanaan program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution. (dok. Pemkot Surabaya)

Selain berfokus pada pengurangan pencemaran laut, program ini juga mengedepankan pendekatan ekonomi sirkular. Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak langsung dibuang, melainkan dipilah dan dimanfaatkan kembali sesuai jenisnya.

"Dari hasil sampah yang diambil itu dilakukan pemilahan. Jadi warga juga bisa bekerja dan mendapatkan manfaat," ungkap Fikser.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam proses pemilahan, pengemasan, hingga penjualan sampah bernilai ekonomis.

"Sampah itu disortir, terus kemudian dipilah lagi, dipacking, dijual. Jadi tidak hanya project untuk menjaga lingkungan, tapi warga kami juga kemudian mendapatkan nilai ekonomis manfaat dari ada kegiatan ini," kata dia.

Fikser menambahkan, kondisi Kali Tebu yang sebelumnya dipenuhi sampah kini mulai berubah. Perbaikan kualitas lingkungan tersebut dinilai turut mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai.

"Kali Tebu sekarang bersih. Jadi apa yang kita lakukan itu ternyata warga juga terpanggil untuk ingin berusaha menjaga lingkungannya," ujarnya.

3. Jadi model bagi daerah lain

DSC09884.jpg.jpeg
Kota Surabaya ditunjuk sebagai lokasi perdana pelaksanaan program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution. (dok. Pemkot Surabaya)

Koordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe, mengatakan program ini dirancang secara menyeluruh karena tidak hanya berfokus pada pengangkatan sampah, tetapi juga pengelolaan dan edukasi masyarakat.

"Jadi program ini bukan hanya mengambil sampah yang plastik saja, tapi juga sampah organik. Nanti sampah-sampah ini akan dikelola, di-recycle dan yang bernilai nanti akan dimanfaatkan," ujar Bahri.

Sementara itu, Koordinator Pokja Perubahan Perilaku Masyarakat Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Sri Murwani Nurfadilastuti, menegaskan perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi pencemaran sampah.

"Nah, salah satunya adalah untuk mendorong masyarakat bisa membatasi sampah dan juga memilah sampah dari sumbernya," katanya.

Program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution dijalankan di lima lokasi di Indonesia, yakni Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali.

Staf Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Ahmad Didin, mengatakan Surabaya dipilih sebagai lokasi awal pelaksanaan sekaligus kota percontohan nasional.

"Project ini sudah berjalan di Kota Surabaya, dan harapannya nanti Surabaya menjadi kota percontohan di antara lima tadi. Sehingga semua (daerah) bisa meniru apa yang sudah dilakukan Surabaya jika program ini sudah berhasil," pungkas Didin. (WEB)

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ridho Fauzan
EditorRidho Fauzan

Related Articles

See More