Kelompok Bersenjata Serang Pos Polisi di Pakistan, 11 Petugas Tewas

- Serangan bersenjata di pos polisi Hangu, Khyber Pakhtunkhwa, menewaskan 11 polisi dan melukai 28 lainnya setelah pelaku memakai drone peledak lalu menyergap; sedikitnya 15 penyerang tewas.
- Belum ada pihak mengaku bertanggung jawab, tetapi polisi menuding Fitna al-Khawarij, istilah pemerintah bagi militan TTP. PM Shehbaz Sharif mengecam serangan dan pemerintah berjanji memberantas terorisme.
- Kekerasan di perbatasan Pakistan-Afghanistan meningkat. Pakistan menuduh militan beroperasi dari Afghanistan, sementara Taliban membantahnya dan menyebut persoalan tersebut sebagai masalah internal Pakistan.
Jakarta, IDN Times - Sekelompok pria bersenjata melancarkan serangan terhadap sebuah pos pemeriksaan polisi di provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, pada Rabu (29/7/2026) malam. Akibatnya, sebanyak 11 polisi tewas dan 28 lainnya mengalami luka-luka.
Dilansir Al Jazeera, serangan tersebut terjadi di distrik Hangu, dekat perbatasan Afghanistan. Polisi mengatakan, para pelaku terlebih dahulu menyerang pos polisi dengan drone jenis quadcopter yang dipasangi bahan peledak sebelum kemudian melakukan penyergapan. Baku tembak antara kedua belah pihak pun berlangsung selama berjam-jam. Sedikitnya 15 penyerang tewas dalam serangan tersebut.
1. Polisi tuding kelompok TTP sebagai dalang serangan tersebut

Polisi mengatakan salah satu korban tewas adalah Wakil Inspektur Diyar Khan, yang memimpin pasukan bantuan menuju lokasi kejadian. Sementara itu, 28 petugas yang terluka telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Hingga kini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, polisi mengklaim serangan itu dilakukan oleh Fitna al-Khawarij, sebuah istilah yang digunakan pemerintah untuk menyebut teroris dari kelompok terlarang Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), dilansir Anadolu.
Sebelumnya, TTP mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh di pos keamanan di distrik tetangga, Tank, yang terjadi pekan lalu. Sedikitnya 27 orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk 12 tentara dan 12 militan.
2. Pemerintah berjanji akan memberantas terorisme

Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengecam keras serangan di Hangu. Dalam pernyataannya, ia juga menyampaikan duka mendalam atas gugurnya para polisi dalam serangan tersebut.
"Polisi selalu menjadi garda terdepan dalam memerangi terorisme," ujarnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Presiden Asif Ali Zardari dan Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi. Selain menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, mereka juga memberikan apresiasi kepada kepolisian Khyber Pakhtunkhwa yang berhasil melumpuhkan para teroris.
"Para teroris beserta pihak-pihak yang memfasilitasi mereka dengan dukungan asing akan diberantas sepenuhnya dari tanah air," kata Zardari, seperti dikutip dari Dawn.
3. Pakistan tuduh pemerintah Afghanistan lindungi para teroris

Kekerasan di wilayah perbatasan Pakistan, terutama yang menargetkan personel militer dan kepolisian, telah meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintah Pakistan mengklaim para militan menggunakan Afghanistan sebagai tempat untuk berlatih dan merencanakan serangan di wilayahnya. Namun, anggapan tersebut dibantah oleh pemerintah Taliban di Afghanistan, yang menegaskan bahwa meningkatnya kekerasan di Pakistan merupakan masalah dalam negeri.
Meningkatnya serangan di sepanjang perbatasan Afghanistan-Pakistan dapat berisiko memicu kembali konflik antara kedua negara tersebut. Bentrokan paling sengit terjadi pada Februari 2026, ketika Pakistan melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan.
"Hubungan antara Afghanistan dan Pakistan telah memburuk hingga mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Masing-masing pihak saling menuduh pihak lainnya melindungi kelompok-kelompok yang melakukan serangan terhadap mereka," kata jurnalis Al Jazeera, Kamal Hyder.




















