Warisan Juwono Sudarsono, Gagasan Besar Diplomasi Pertahanan Indonesia

- Profesor Juwono Sudarsono dikenang atas kontribusinya membangun fondasi diplomasi pertahanan Indonesia sejak masa reformasi hingga modernisasi militer.
- Salah satu warisan pentingnya adalah pendirian Universitas Pertahanan dan pengembangan kawasan Peacekeeping Mission di Sentul untuk memperkuat kesiapan nasional.
- SBY menegaskan pandangan Juwono bahwa kekuatan pertahanan harus berjalan seiring dengan kecakapan diplomasi dalam menghadapi dinamika global.
Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Pertahanan Indonesia, Juwono Sudarsono dinilai memiliki kontribusi besar dalam membangun fondasi diplomasi pertahanan Indonesia, terutama pada masa awal reformasi hingga era modernisasi militer. Hal ini disampaikan eks Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat mengenangnya.
SBY mengungkapkan, saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Juwono berperan aktif dalam mendorong penguatan kapasitas militer sekaligus membangun pendekatan strategis berbasis diplomasi.
“Ketika menjadi menteri pertahanan, kita terus lakukan sesuatu, untuk modernisasi kekuatan pertahanan kita, pengembangan alutsista kita, agar di tingkat ASEAN, kekuatan militer kita terus meningkat kemampuannya,” ujar SBY di kompleks Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Minggu (29/3/2026).
Salah satu gagasan penting yang lahir dari pemikiran Juwono adalah pendirian Universitas Pertahanan sebagai pusat pengembangan ilmu strategis nasional.
“Salah satu yang kami pikirkan dulu, bagaimana Indonesia memiliki Universitas Pertahanan. Jangan sampai kita belajarnya malah ke negara lain, padahal kita kaya dengan pengalaman perang,” katanya.
Selain itu, Juwono juga berperan dalam pembangunan kawasan Peacekeeping Mission di Sentul untuk memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi krisis, baik dalam maupun luar negeri. Saat ini, Indonesia masuk 10 besar negara yang mengirim pasukan penjaga perdamaian PBB terbanyak.
SBY menekankan, Juwono melihat pertahanan dan diplomasi sebagai dua hal yang tidak terpisahkan.
“Bagi saya waktu itu pertahanan dan diplomasi sama-sama penting. Indonesia memerlukan para diplomat yang tough, yang smart, juga para ahli pertahanan, baik sipil maupun militer,” ungkapnya.
Menurut SBY, warisan terbesar Juwono adalah cara pandangnya yang menyatukan kekuatan militer dengan kecakapan diplomasi dalam menghadapi dinamika global.
“Mari terus kita tingkatkan pemikiran, juga kekuatan pertahanan kita, tapi juga kekuatan diplomasi kita. Dan Mas Juwono memiliki dua karakter, di bidang pertahanan maupun hubungan internasional,” tutur SBY.
















