Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Waspadai Hoaks Aksi Demo 27 Agustus, Peneliti Monash: Jangan Termakan!

Waspadai Hoaks Aksi Demo 27 Agustus, Peneliti Monash: Jangan Termakan!
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) kembali menggelar demo di depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Sabtu (22/8/2026).(IDN Times/Yosafat)
  • Peneliti Monash University Ika Idris mengingatkan publik memverifikasi video dan narasi demo 27 Agustus 2026, karena konten lama, hoaks, atau tagar tak relevan dapat memanipulasi percakapan.
  • Akumulasi kekecewaan terhadap pemerintah dan aparat dinilai mendorong kemarahan publik dari media sosial menuju mobilisasi nyata, dengan isu atau tokoh tertentu berpotensi menjadi pusat perhatian.
  • Percakapan digital soal aksi meningkat sejak pekan sebelumnya dan melonjak 26 Agustus; Ika mengkhawatirkan narasi pembatalan, provokasi, serta benturan kelompok pro dan kontra pemerintah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Aksi demonstrasi pada Kamis (27/8/2026) memunculkan berbagai pembahasan di media sosial. Pembahasan itu sudah berlangsung lebih dari sepekan sebelumnya.

Peneliti Data and Democracy Research Hub Monash University Indonesia, Ika Idris, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap video yang beredar di media sosial, terutama berkaitan dengan demonstrasi. Sebab, bisa saja video yang beredar terjadi bukan pada tanggal yang dinarasikan.

Menurut dia, konten yang tampak mendukung kelompok tertentu dapat dimanfaatkan untuk menarik perhatian pengguna sebelum berkembang menjadi penyebaran hoaks.

"Nah, takutnya saya, nanti kalau kita udah ikut mengamplifikasi, malah kita kena karena kita menyebarkan video hoaks kan. Nah, sekarang kan strateginya gitu tuh, jadi seolah-olah kayak orang sukanya apa nih, yang kontra pemerintah sukanya apa nih, dikasih lah video itu, nanti kemakan sama organik pas udah di-retweet sama orang-orang, malah ditangkap karena menyebarkan hoaks. Itu sih kekhawatiran saya untuk penyusup," ujar Ika, dikutip Kamis (27/8/2026).

Ika juga meminta masyarakat berhati-hati terhadap konten kekerasan yang muncul ketika demonstrasi berlangsung. Menurut Ika, masyarakat tidak perlu ikut menyebarkan setiap video yang muncul karena penyebaran tanpa verifikasi dapat memperbesar dampak sebuah peristiwa.

"Intinya sih gini, itu pasti akan ada, dan memang, pokoknya kita pasti akan, pertama pasti udah ada yang menyediakan gitu, ya, misalnya mau naikin apa, cuma kan namanya event ya, kadang-kadang kan itu gak bisa disiapkan juga. Kayak kemarin, Affan Kurniawan itu kan, walaupun ada sebelumnya banyak juga. Misalnya kalau cuma dorong-dorongan gitu, itu kan sebenarnya udah sesuatu yang wajar lah, tapi ketika nanti ada yang lebih kacau sih, itu jangan sampai kita termakan sih," ujar dia.

Untuk menghadapi arus informasi selama aksi, Ika menyarankan masyarakat menerapkan prinsip cui bono atau melihat pihak yang memperoleh keuntungan dari sebuah narasi. Dia juga mengingatkan pengguna media sosial untuk memperhatikan unggahan yang menunggangi tagar populer, tetapi tidak memiliki keterkaitan dengan isu utama.

"Memang paling susah sih sebenarnya membedakan tanpa alat forensik, tapi berdasarkan yang kita lihat, biasanya tuh nanti akan banyak dia itu menunggangi tagar-tagar atau percakapan yang viral tapi gak nyambung. Biasanya nanti tahu-tahu dia ikut viralin pesan, tapi terus kayak bagi-bagi kuis-kuis gitu lho! Nah, pas kita lihat yang kuis-kuis itu banyak dari negara-negara yang luar Indonesia tuh karena sebenarnya dia cuma mau mendorong tagar, misalnya tagar kayak Indonesia gelap gitu kan, nah nanti dia juga pake tuh Indonesia gelap," kata dia.

  1. 1. Kemarahan masyarakat tak hanya satu persoalan

    Massa tandingan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar demo di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).
    Massa tandingan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar demo di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Ika Idris mengatakan, rangkaian peristiwa dalam beberapa waktu terakhir mulai mendorong kemarahan publik menuju tahap mobilisasi. Menurut dia, kemarahan masyarakat saat ini tidak hanya berpusat pada satu persoalan, tetapi terbentuk dari akumulasi kekecewaan terhadap berbagai tindakan pemerintah dan aparat penegak hukum. Kondisi tersebut membuat isu tertentu dapat dengan cepat menjadi pemicu aksi yang lebih besar.

    "Menurut saya ini biasanya memang kayak gitu kan, menjelang-menjelang demo besar. Tapi kalau kita lihat, sebenarnya ini kan udah salah satu cara luapan kemarahan yang paling bisa dilakukan individu gitu, ya," ucap dia.

    Ika menilai, persoalan yang muncul dalam sepekan terakhir ikut memperkuat perhatian publik terhadap pihak-pihak tertentu. Menurut dia, pola tersebut dapat membuat emosi masyarakat terkonsentrasi pada satu atau dua tokoh yang dianggap menjadi simbol dari persoalan lebih besar.

    "Jadi memang harus ada satu atau dua gitu ya tokoh itu yang didiskreditkan untuk biar emosi atau kemarahannya itu terpusat ke sana gitu ya. Jadi atensinya itu banyak terpusat ke sana," kata dia.

  2. 2. Masyarakat menganggap masih punya power, tak mau hanya curhat di media sosial

    Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dalam aksi demo 27 Agustus di depan Gedung DPR RI. (IDN Times/Irfan Fathurohman)
    Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dalam aksi demo 27 Agustus di depan Gedung DPR RI. (IDN Times/Irfan Fathurohman)

    Ika melihat, kondisi tersebut sudah mengarah pada kinetic mobilization, yaitu ketika masyarakat mulai bergerak dari sekadar menyampaikan kemarahan di media sosial menuju tindakan nyata. Masyarakat dinilai ingin menunjukkan masih memiliki kekuatan untuk memengaruhi keadaan di tengah kecemasan dan kekecewaan.

    "Kalau tadi dibilang kinetic mobilization, ya, udah sampai ke sana ya. Karena memang orang udah gak mau lagi kayak cuma curhat-curhat atau marah-marah di media masyarakat. Karena mereka merasa kalau kita melakukan sesuatu, berarti kita masih punya power gitu ya," ujar dia.

    Menjelang aksi, Ika juga memantau perkembangan percakapan digital melalui sejumlah kata kunci yang berkaitan dengan demonstrasi. Dia mengatakan, terdapat peningkatan percakapan terkait "demopati," "hoaks demopati," serta narasi mengenai pembatalan aksi.

    "Iya, kebetulan yang kita pantau memang ada tiga kata kunci ya, satu demopati, dua yang tahu-tahu muncul hari ini adalah hoaks demopati, satu lagi demopati batal atau apa ya, demopati dibatalkan atau apa," ujar dia.

  3. 3. Ada peningkatan percakapan di media sosial

    Ilustrasi media sosial (IDN Times/Sunariyah)
    Ilustrasi media sosial (IDN Times/Sunariyah)

    Menurut Ika, percakapan mengenai aksi mulai terlihat sejak pekan sebelumnya dan mengalami lonjakan pada Rabu (26/8/2026) sore. Dia juga menemukan sejumlah narasi di media sosial yang seolah-olah menunjukkan aksi tidak akan berlangsung.

    "Nah pas kita lihat memang, ini sebenarnya kita set dari hari Minggu kemarin gitu, karena kan ajakan untuk berdemo itu memang muncul pascademo 18 Agustus kan, nah tapi lonjakannya bahkan mulai dari hari Senin aja yang orang Pati sudah ke Jakarta. Itu tahu-tahu rame hari ini (Rabu) jam 6 sore, ada tagar langsung banyak gitu ya, langsung 2 ribuan gitu kan, terus muncullah kayak misalnya Pray for Indonesia, Jaga Indonesia, yang kayak gitu-gitu. Terus misalnya juga hoaks demopati, terus ada postingan kayak misalnya, 'oh ternyata warga Pati gak jadi dateng, dibatalkan,' terus ada bus, padahal itu bukan busnya," ujar dia.

    Keragaman kelompok yang terlibat dalam aksi juga menjadi perhatian Ika karena perbedaan tuntutan dapat dimanfaatkan untuk memunculkan provokasi. Dia pun khawatir situasi justru berkembang menjadi benturan antarmasyarakat, bukan fokus pada penyampaian tuntutan kepada pemerintah.

    "Ya, ini agak mendebarkan sebenarnya ya, karena ada yang kelompok pro-pemerintah, ada yang kontra pemerintah besok kan gitu, saya juga takutnya jadi kayak bentrok warga versus warga gitu ya, bukan rakyat yang mau menuntut ke pemerintah atau negara," ujar dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More