Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

2 Warga Jepang Ditahan di China, Diduga Selundupkan Logam Tanah Jarang

2 Warga Jepang Ditahan di China, Diduga Selundupkan Logam Tanah Jarang
Ilustrasi borgol. (unsplash.com/niu niu)
Intinya Sih
  • Dua warga Jepang ditahan otoritas China di Dalian atas dugaan penyelundupan produk logam tanah jarang, dengan pemerintah Jepang memberikan bantuan konsuler sambil menunggu hasil penyelidikan.
  • Pihak China membenarkan penahanan tersebut dan menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap hukum bea cukai, serta menyebut pembatasan ekspor bertujuan mencegah remiliterisasi Jepang.
  • Kasus ini muncul di tengah ketegangan diplomatik Jepang-China yang meningkat sejak 2025, memicu kontrol ekspor lebih ketat terhadap komoditas strategis seperti logam tanah jarang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Dua warga negara Jepang ditahan oleh otoritas bea cukai China di kota pelabuhan Dalian, Provinsi Liaoning, pada Mei 2026. Penahanan atas dugaan menyelundupkan barang yang dikenai pembatasan ekspor, termasuk produk terkait logam tanah jarang.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, mengonfirmasi penahanan dilakukan terpisah pada 18 Mei dan 25 Mei 2026. Kihara menyatakan keduanya dalam kondisi sehat dan pemerintah sedang memberikan bantuan konsuler. Namun, ia menolak mengungkapkan rincian kasus dengan alasan penyelidikan masih berlangsung.

"Kami akan terus merespons dengan tepat dari sudut pandang melindungi warga negara Jepang sambil tetap menjalin kontak dengan individu yang bersangkutan dan pihak-pihak terkait," ujarnya, dikutip dari Asahi Shimbun.

1. China perketat ekspor logam tanah jarang

Bendera Tiongkok.
Bendera Tiongkok. (Unsplash.com/Macau Photo Agency)

Sumber menyebutkan kedua individu merupakan karyawan dari perusahaan manufaktur elektronik asal Jepang, Fuji Electric Co. Salah satunya adalah pejabat senior unit perusahaan di China.

Keduanya diduga mencoba mengekspor motor atau barang olahan lainnya, dengan maksud agar magnet logam tanah jarang di dalamnya dapat dibongkar dan diambil kemudian. Menurut sumber industri, barang olahan yang tidak dapat lagi dipisahkan magnet tanah jarang dikecualikan dari kontrol ekspor ketat China. Di masa lalu, pelanggar hukum dijatuhi hukuman lebih dari 10 tahun penjara dan denda jutaan yuan, dilansir Kyodo News.

Saat ini, China menguasai sekitar 60 persen penambangan dan 90 persen kapasitas pengolahan logam tanah jarang global. Hal ini memberikan Beijing pengaruh signifikan atas rantai pasokan untuk industri manufaktur canggih dan industri terkait pertahanan.

2. China membenarkan penangkapan tersebut

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun. (x.com/MFA_China)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, membenarkan penahanan tersebut atas dugaan pelanggaran hukum bea cukai China.

"Pihak Jepang perlu membimbing dan mengingatkan warga negara dan bisnisnya di China untuk mematuhi peraturan setempat," tegasnya dalam konferensi pers pada 24 Juni 2026, dikutip dari The Japan Times.

Beijing juga mengungkapkan bahwa pembatasan tersebut dimaksudkan untuk mencegah remiliterisasi Jepang dan upaya pengembangan senjata nuklir.

3. Konflik diplomatik Jepang-China picu larangan pengiriman komoditas strategis

Kasus ini terjadi di tengah memburuknya ketegangan diplomatik antara Tokyo dan Beijing. Hubungan bilateral memburuk setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengeluarkan pernyataan pada November 2025 mengenai kesiapan Jepang merespons secara militer, jika terjadi situasi darurat di Taiwan.

Sebagai balasan, sejak Januari 2026, Beijing memperketat kontrol ekspor barang-barang dwiguna yang dapat digunakan untuk keperluan sipil dan militer ke Jepang. Ini termasuk logam tanah jarang yang sangat vital untuk industri semikonduktor, kendaraan listrik, dan alat pertahanan.

Pembatasan tersebut telah mempersulit perusahaan-perusahaan Jepang memperoleh izin ekspor mineral penting dari China. Ekspor magnet tanah jarang ke Jepang pun telah menurun, yang menunjukkan dampak dari kontrol yang lebih ketat.

Insiden penahanan dua warga Jepang ini diperkirakan semakin meningkatkan kekhawatiran dan ketidakpastian di kalangan komunitas bisnis, serta ekspatriat Jepang yang beroperasi di China di tengah memanasnya hubungan kedua negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More