Balita Tewas Masuk Lubang, KPAI Desak Audit Proyek Galian di Jakarta

- KPAI mendesak Pemprov DKI Jakarta melakukan audit menyeluruh terhadap proyek galian dan konstruksi di ruang publik setelah tewasnya balita yang terperosok ke lubang proyek di Tebet.
- KPAI menilai insiden ini menunjukkan lemahnya standar keamanan proyek dan meminta penyelidikan fokus pada kelalaian pihak terkait serta evaluasi sistem pengawasan keselamatan publik.
- KPAI mengimbau masyarakat aktif melaporkan proyek galian tanpa pengamanan memadai agar kejadian serupa tidak terulang, sementara polisi masih menyelidiki penyebab pasti peristiwa tersebut.
Jakarta, IDN Times - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengaudit seluruh proyek galian dan konstruksi di ruang publik setelah seorang balita berusia empat tahun tewas terperosok ke lubang proyek pembangunan di Taman RW 04 atau Taman Tuyul, Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan.
Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, mengatakan, peristiwa tersebut bukan sekadar kecelakaan, melainkan alarm keras bagi pemerintah, pelaksana proyek, dan seluruh pihak yang bertanggung jawab atas keselamatan ruang publik, terutama saat musim liburan sekolah.
"Masa liburan tiba, tapi ancaman juga tiba. Apa yang harus dilakukan pada berbagai peristiwa anak-anak di masa liburan? Mulai dari area bermain aman, tawuran, balap liar, dan kerentanan anak-anak menjadi korban atau justru kelalaian dan penelantaran yang memudahkan anak-anak di jebak dalam berhadapan dengan hukum," kata Jasra dalam keterangannya, kepada IDN Times (30/6/2026).
1. Sudah membuat tak nyaman, bisa mengancam jiwa

Menurut KPAI, kematian balita tersebut menunjukkan lubang proyek yang tidak diamankan bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga, tetapi juga menjadi ancaman nyata terhadap keselamatan jiwa.
KPAI menegaskan, standar pengamanan proyek harus disusun dengan mempertimbangkan karakteristik anak yang belum mampu mengenali bahaya.
"Pekerjaan proyek memiliki jam kerja. Tetapi bahaya lubang proyek berlangsung selama 24 jam. Pertanyaannya adalah, ketika para pekerja telah pulang, siapa yang memastikan lubang tersebut tetap aman dari anak-anak?" ujar Jasra.
2. Penyelidikan agar tak kabur dari penyebab utama

KPAI juga mengingatkan agar penyelidikan tidak mengaburkan penyebab utama insiden tersebut, yakni alasan seorang anak balita bisa berada di area itu.
"Fakta tersebut tidak boleh mengaburkan penyebab utama yang harus diusut, yakni mengapa seorang balita dapat masuk ke area proyek dan terperosok ke dalam lubang yang membahayakan keselamatannya?" kata dia.
KPAI mendesak aparat penegak hukum mengusut dugaan kelalaian seluruh pihak yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.
Selain itu, Pemprov DKI diminta mengevaluasi sistem pengawasan proyek utilitas dan pembangunan fasilitas publik serta memberikan sanksi administratif maupun pidana apabila ditemukan pelanggaran standar keselamatan.
3. Masyarakat agar laporkan galian yang tak aman

KPAI turut mengajak masyarakat aktif melaporkan proyek galian yang tidak memiliki pengamanan memadai agar tidak kembali memakan korban.
Diberitakan, balita berinisial I (4) terperosok ke lubang proyek sedalam sekitar empat meter di kawasan Taman RW 04, Tebet, Sabtu (27/6/2026) malam. Korban berhasil dievakuasi sekitar empat jam kemudian dan sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi meninggal dunia. Polisi pun masih menyelidiki penyebab pasti kejadian tersebut.

















